Keberhasilan peningkatan produksi padi dalam beberapa tahun terakhir lebih didominasi dengan peningkatan produktivitas, dibandingkan dengan peningkatan luas panen. Peningkatan produktivitas padi sawah memberikan kontribusi sekitar 56,1 persen, sedangkan kontribusi peningkatan luas panen sebesar 26,3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas diperoleh melalui adopsi inovasi teknologi budidaya padi, terutama inovasi varietas unggul baru padi sawah. Umumnya di Indonesia selain sawah irigasi, di beberapa daerah di Indonesia juga terdapat sawah tadah hujan. Lahan sawah tadah hujan merupakan lahan yang memiliki pematang namun tidak dapat diairi dengan ketinggian dan waktu tertentu secara berkelanjutan. budidaya tanaman pada lahan tadah hujan sangat bergantung pada ketersediaan air hujan. Lahan tadah hujan adalah lahan-lahan tegalan yang jika dimanfaatkan untuk budidaya tanaman sangat tergantung dengan ketersediaan air hujan, sehingga beberapa pendapat yang memasukkan lahan tadah hujan menjadi bagian dari lahan kering. Pertanian Tadah Hujan Pertanian tadah hujan merupakan suatu sistem pertanian yang memanfaatkan air hujan sebagai penyuplai utama pasokan air. Secara sederhana pengairannya dilakukan dengan menampung air hujan pada petakan sawah yang dibatasi oleh pematang. Sawah tadah hujan biasanya mulai digarap oleh para pemiliknya ketika mulai musim hujan akan datang, berakhir ketika musim hujan juga berakhir. Pada daerah yang hujannya tidak merata dan jarang-jarang, petani membiarkan air pada petakan sawahnya penuh pada saat hujan dan tidak melakukan pembuangan air berlebih, karena kawatir akan terjadi kekeringan bila hujan belum turun lagi. Oleh karena itu Lahan sawah tadah hujan sangat berisiko terkena kekeringan. Karena kondisi tersebut, tidak heran pemanfaatan lahan tadah hujan umumnya ditanami satu sampai dua kali dalam setahun dengan perkiraan air hujan cukup untuk mengairi sawah. Lahan tadah hujan umumnya kesuburannya rendah. Dengan kondisi demikian, produktivitas usahatani tanaman pangan di lahan sawah tadah hujan umumnya masih rendah. Produktivitas padi pada lahan sawah tadah hujan berkisar 1,8-3,5 ton per hektar. Permasalahan lain yang dihadapi pada usahatani padi pada lahan sawah tadah hujan adalah gulma, serangan hama penyakit, serta kepemilikan lahan yang sempit. Memperhatikan kondisi sawah tadah hujan yang kadang kadang terlihat dengan kondisi air yang melimpah, dilain waktu terlihat pada kondisi air sedikit sampai kekeringan. Oleh karenanya pada lahan tadah hujan sering ditemui varietas padi untuk lahan sawah, juga padi gogo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Padi gogo yang ditanam pada lahan tadah hujan musim hujan kedua menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dibandingkan varietas lainnya. Masing-masing varietas tersebut yaitu: Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpari 19, dan padi local Umbul. Masing-masing perbandingan produktivitas varietas tersebut yaitu: 5,31a : 5,52a : 4,82a : 4,63a : 4,91a t/ha GKG (Ahmad Damiri). Sumber: Sodiq Jauhari, Endah Winarni dan Dewi Sahara file:///D:/2020/PADI/PADI%20GOGO%20TADAH%20HUJAN.pdf