Loading...

PRODUKTIVITAS PADI PADA SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO DAN TEGEL

PRODUKTIVITAS PADI PADA SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO DAN TEGEL
Sistem tanam jajar legowo sering diandalkan menjadi sistem yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi. Hal ini karena sistem tanam jajar legowo memiliki jumlah rumpun per satuan luas lebih banyak dibandingkan cara tanam tegel yang setara, misalnya sistem tanam tegel 20 cm x 20 cm memiliki populasi 250.000 rumpun per ha, sedangkan legowo 2:1 yang setara [(20x10)x40cm] memiliki populasi 333.333 rumpun. Demikian juga dengan sistem tanam tegel 25 cm x 25 cm memiliki populasi 160.000 rumpun per ha, sedangkan legowo 2:1 yang setara [(25x12,5)x50cm] memiliki populasi 213.333 rumpun. Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Sistem tanam ini juga memanipulasi tata letak tanaman, sehingga rumpun tanaman sebagian besar menjadi tanaman pinggir kecuali sistem tanam jajar legowo 2:1 yang semuanya merupakan tanaman pinggir. Tanaman padi yang berada di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak, sehingga menghasilkan gabah lebih tinggi dengan kualitas yang lebih baik. Pada cara tanam legowo 2:1, setiap dua baris tanaman diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak barisan, namun jarak tanam dalam barisan dipersempit menjadi setengah jarak tanam aslinya. Adanya populasi tanaman/ha yang lebih tinggi pada system tanam jajar legowo dibandingkan dengan system tanam tegel, belum tentu menghasilkan produktivitas (kg/ha) yang lebih tinggi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam atau semakin banyak populasi tanaman per satuan luas semakin menurun kualitas rumpun tanaman, seperti menurunnya jumlah anakan dan jumlah malai per rumpun. Hal ini akibat semakin besarnya persaingan antar rumpun padi dalam penangkapan radiasi surya, penyerapan hara dan air, serta semakin optimalnya lingkungan bawah kanopi bagi perkembang biakan penyakit. Pada beberapa varietas padi tertentu penurunan jumlah anakan atau jumlah malai akibat rumpun yang terlalu rapat dapat nyata lebih besar, sedangkan pada varietas lainnya tidak nyata. Hasil percobaan di Balai Besar Penelitian Padi, terdapat variasi respon hasil varietas padi sawah irigasi (Inpari) terhadap sistem tanam (tegel dan jajar legowo). Padi varietas Inpari 4, 8, 10, dan 13 lebih cocok ditanam dengan sistem tanam tegel, karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan penanaman dengan sistem tanam jajar legowo. Perbandingan produktivitas masing-masing antara sistem tanam tegel dengan jajar legowo untuk varietas Inpari 4, 8, 10, dan 13 sebagai berikut: 6,5 : 6,0; 7,4 : 6,7; 7,7 : 7,4; dan 6,7 : 6,4. Berbeda dengan varietas Inpari 14, 15, 18, dan 19, dimana sistem tanam jajar legowo lebih cocok dibandingkan dengan sistem tanam tegel. Produktivitas Inpari 14, 15, 18, dan 19 pada Si sistem tanam jajar legowo dibandingkan dengan sistem tanam tegel untuk masing-masing varietas Inpari 14, 15, 18, dan 19 sebagai berikut: 6,7 : 5,9; 5,1 : 4,6; 5,4 : 4,7; dan 6,2 : 5,9 (Ahmad Damiri). Sumber: file:///D:/2020/PADI/PRODUKTIVITAS%20PADI%20JAJAR%20LEGOWO.pdf