UP-FMA Maju Bersama Desa Malonas terbentuk pada tanggal 25 Oktober 2007. Pembentukan dan pemilihan pengurusnya berdasarkan hasil musyawarah rapat pengurus-pengurus kelompok tani Desa Malonas yang belangsung di kantor Desa Malonas. UP-FMA (Unit Pengelola - Farmer Managed Extension Activities) atau sering disebut unit pengelola kegiatan penyuluhan, dimana kegiatan penyuluhan ini dikelola oleh petani sendiri yang didampingi oleh Tim Penyuluh Lapangan (TPL). Sehingga UP-FMA biasa disebut UPKPD (Unit Pengelola Kegiatan Penyuluhan Desa). Pada saat pemilihan pengurus melalui Voting ditetapkan bahwa pengurus UP-FMA sekaligus sebagai pengurus Gapoktan. Sehingga pengurus UP-FMA juga sebagai pengurus Gapoktan Maju Bersama Desa Malonas. Adapun kegiatan penyuluhan yang dikelola petani dananya didukung oleh Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) atau FEATI (Farmer Through Agricultural Technology and Information). Sehigga mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dilakukan oleh petani bersama TPL pendamping. Sejak kegiatan ini digulirkan di Desa Malonas, UP-FMA Maju Bersama telah melaksanakan beberapa kegiatan pelatihan mulai dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009. Diantara kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan oleh UP-FMA adalah sebagai berikut : a) Tahun 2008 telah dilaksanakan pelatihan petani tentang pembuatan konsentrat baik untuk ternak sapi maupun ayam serta konsentrat babi, dimana pesertanya sebanyak 30 orang yang berasal dari 15 kelompok tani dari 5 dusun. Dari kegiatan ini sudah banyak petani memberikan konsentrat kepada ternaknya baik sapi maupun ayam dan babi. Dan hal tersebut masih berjalan sampai sekarang. Tidak ketinggalan wanita tani juga diberikan pelatihan tentang teknologi olahan pangan, jumlah pesertanya 30 orang yang berasal dari 5 dusun. Pelatihan teknologi olahan yang diajarkan diantaranya adalah pembuatan keripik ubi dan pisang, pembuatan tempe dan pembuatan bandeng presto serta coklat pasta. Pelatih pelatihan ini berasal dari para petani pengrajin. Diantara olahan tersebut yang masih tetap dilaksanakn oleh beberapa peserta pelatihan adalah pembuatan tempe dan pembuatan keripik . b) Selanjutnya kegiatan tahun 2009 terarah pada agribisnis pupuk organik. Mengapa memilih pupuk organik? Hal ini disebabkan adanya peluang pasar tentang pupuk organik pada kegiatan SL-PTT padi dan jagung yang membutuhan pupuk organik kurang lebih 50 ton. Karena ketrampilan petani bahkan belum adanya pelatih tentang pembuatan pupuk organik, maka UP-FMA memberangkatkan pengurus kelompok tani dan pengurus UP-FMA untuk magang ke Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah. Sehingga diberangkatkan 5 orang untuk magang di P4S Subur Desa Kaligentong Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah selama 7 hari. Dari hasil magang maka peserta magang dapat melatih petani di Desa Malonas tentang pupuk organik padat. Petani yang berlatih sebanyak 37 orang dari target 30 orang, serta 30 orang wanita tani. Dari hasil pelatihan pembuatan pupuk organik tersebut maka dapat diproduksi pupuk organik oleh petani sebanyak 108 ton. Dimana 73 ton dijual dengan harga Rp. 600,- per kg. Sedangkan sisanya digunakan petani sendiri untuk tanaman padi dan tanaman kakao. Dari hasil penjualan pupuk organik tersebut diperoleh uang sebesar Rp. 43.800.000,-. Yang diterima oleh petani. Kemudian pupuk organik yang digunakan petani sendiri apabila diperhitungkan jumlah uangnya sebesar Rp. 21.000.000,-. Sehingga jumlah yang diterima petani keseluruhan berjumlah Rp. 64.800.000,-. Hasil kegiatan magang yang lainnya adalah pembuatan alat tabela jajar legowo 2:1. Alat ini dapat menekan biaya tanam padi hingga Rp. 450.000,- per hektarnya. Alat dibuat oleh pengurus kelompok tani sumber mulyo (alumni magang di Boyolali). Hingga sekarang telah dibuat dan dijual sebanyak 17 unit dengan harga Rp. 1.000.000,- per unit. Dari hasil penjualan alat tabela diperoleh uang sebesar Rp. 17.000.000,-. Pemasaran alat tersebut mulai dari kelompok tani di Wilayah Kecamatan Damsol sampai ke luar Kabupaten. Bahkan sekarang ada pesanan dari luar provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Utara sebanyak 8 unit. Kalau dihitung dari penghematan biaya, dengan alat tersebut sudah menghemat biaya tanam sebesar kurang lebih Rp. 45 juta, karena sudah kurang lebih 100 ha yang tanaman padinya menggunakan alat tersebut. Masih dari hasil kegiatan magang dan pelatihan agribisnis pupuk organik, sudah kurang lebih 70 orang datang magang di UP-FMA Desa Malonas. Peserta magang berasal dari Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, BPP Tanamea Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala serta dari Gapoktan yang ada di Kecamatan Damsol. Materi magang adalah tentang pembuatan pupuk organik serta aplikasi alat tabela. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan petani, masih dalam kegiatan UP-FMA tahun 2009 telah dilaksanakan Temu Teknologi. Pada kegiatan ini dihadiri narasumber dari Guru Besar Universitas Tadulako Palu yaitu Prof. Dr. Ir. Asriani, MS dan Prof. Dr. Ir. Marsetyo, M.Agr.Sc serta para peneliti dari BPTP Sulawesi Tengah diantaranya Ir. Samsul Bahri, MS; Ir. Asni Andjanhar, MS; Ir. Yakob Langsa, dan Ir. Sumarni. Adapun materi temu teknologi diantaranya teknologi sapi potong, teknologi olahan hasil perkebunan pepaya, teknologi budidaya kakao, serta PTT padi dan jagung. Jumlah peserta yang hadir dari petani sebanyak 51 orang dari taget 50 orang. Para peserta sangat antusias mengikutinya. Kegiatan ini dibuka oleh Camat Damsol Drs. Moh. Achmas, MS. Masih dalam rangka peningkatan wawasan petani oleh para peneliti dari BPTP telah dilatih pengurus kelompok tani dan pengurus UP-FMA Desa Malonas beberapa analisis diantaranya adalah FSA (Farming Sistem Analisis) dan VCA (Value Cahin Analisis) atau biasa disebut analisis rantai nilai pesertanya 20 orang yang penuh antusias mengikutinya. Sebagai bentuk aplikasi pupuk organik maka UP-FMA melaksanakan kegiatan Demplot Penangkaran benih dengan mengguunakan pupuk organik buatan petani. Dari hasil penangkaran yang bekerjasama dengan petani maka diperoleh benih sebanyak kurang lebih 10 ton dengan harga Rp. 3.800,- per kg . Sehingga dari hasil penangkaran benih dapat diperoleh uang sebesar Rp. 38 juta yang diterima petani langsung petani pelaksana demplot. Sedangkan Gapoktan memperoleh keuntungan Rp. 200,- per kg, sehingga besarnya keuntungan Gapoktan / UP-FMA sebesar Rp. 2 juta. c) Kegiatan UP-FMA Maju Bersama Desa Malonas Tahun 2010 adalah SL-Agribisnis Sapi Potong, yang kegiatannya di laksanakan sejak tanggal 26 Desember 2010 s/d 22 Maret 2011. Peserta kegiatan ini sebanyak 30 orang yang terdiri dari perserta pria 27 orang dan peserta perempuan 3 orang. Pada kegiatan ini peserta dilatih untuk menaksir Bobot Badan Sapi menaksir umur, aplikasi teknologi penggemukan yang harus dilaksanakan oleh semua peserta. Setelah kegiatan SL Agribisnis sapi potong berakhir dilanjutkan dengan pelaksanaan Temu Usaha yaitu pertemuan antara petani peserta SL bersama dengan pedagang sapi yang ada di Kecamatan Damsol. Kegiatan ini dihadiri utusan dari BKP3 Donggala, BPP Karya Mukti, serta KCD. Pertanian Peternakan Damsol. Dari Kegiatan Temu Usaha dihasil kesepakatan antara pedagang sapi dan petani peternak sapi potong. Adapun Pengurus UP-FMA sekaligus pengurus Gapoktan Maju Bersama Desa Malonas Kecamatan Damsol sejak terbentuknya hingga sekarang adalah sebagai berikut : - Ketua : Arman - Sekretaris : Fairlan dan M. Ali Mahfud - Bendahara : I Gede Subirja - Penyuluh Swadaya : Misran, S.Pd dan Siti Komariyah - Penyuluh PNS : Sunardi, S.Pt Demikianlah sekelumit tentang profil UP-FMA Maju Bersama Desa Malonas. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semuanya. Sumber : Priyo Utomo, SP (Penyuluh Pertanian Ahli Madya / Supervisor Bakorluh P2K Provinsi Sulawesi Tengah) Penulis : Avenida Danni Nugroho (adminSulteng).