Loading...

Program P2KP di KWT Mawar Desa Balangtaroang Kec. Bulukumpa Kab. Bulukumba

Program P2KP di KWT Mawar Desa Balangtaroang Kec. Bulukumpa Kab. Bulukumba
KWT Mawar Desa Balangtaroang Kec. Bulukumpa Kab. Bulukumba merupakan salah satu penerima manfaat program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) pada tahun 2010 dimana kegiatan yang ada dalam program ini diantaranya adalah pemanfaatan pekarangan melalui SL-P2KP. KWT Mawar memperoleh bantuan awal sebesar Rp. 2.000.000,- untuk laboratorium lapangan. Selanjutnya karena perkembangan dari kegiatan pemanfaatan pekarangan ini dan administrasi dari KWT Mawar yang terbilang bagus maka KWT Mawar kemudian menerima bantuan dana P2KP untuk tahun-tahun selanjutnya. Tujuan yang diharapkan dalam Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) adalah untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kesadaran masyarakat untuk mengubah prilaku dalam konsumsi pangan kearah yang semakin beragam, bergizi, seimbang, dan aman berbasis sumberdaya lokal. Pelaksanaan kegiatan SL-P2KP, KWT Mawar dapat dilihat dari adanya administrasi yang disusun salah satunya adalah laporan pelaksanaan kegiatan SL-P2KP. Laporan ini merupakan laporan kegiatan pelaksanaan Pemberdayaan Wanita melalui Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekerangan, dimana lahan pekarangan dapat dimanfaatkan KWT Mawar sebagai Sumber Pangan dan Pendapatan Keluarga tani untuk melakukan usahatani melalui pengembangan pangan lokal, sehingga upaya Pemerintah untuk mempercepat penganekaragaman konsumsi pangan dapat tercapai. Laporan pelaksanaan SL-P2KP dari KWT Mawar sebagai berikut : I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Program pembangunan pertanian Tahun 2012 merupakan kelanjutan dari program tahun 2011 yaitu Pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, Peningkatan Difersifikasi Pangan, Peningkatan Nilai Tambah, dan Daya saing dan ekspor serta peningkatan kesejahtraan petani, yang di sebut Empat Sukses Pembangunan Pertanian Sesuai Kebijaksanaan Pembangunan Sektor Pertanian dan Program Peningkatan Ketahanan Pangan salah satu yang ditempuh adalah dengan memenfaatkan sumber sumber pangan yang ada yaitu dengan meningkatkan pengembagan pangan lokal yang mengarah pada perbaikan konsumsi pangan penduduk, baik jumlah maupun mutu termasuk keragaman dalam mewujutkan konsumsi pangan yang beragam, bergizi, berimbang, dan aman. Beranekaragamnya pangan yang tersedia di masyarakat terutama ditentukan oleh kemampuan wilayah dalam memproduksi pangan dan mengembangkan tehnologi pengolahan pangan yang dapat menghasilkan berbagai produk olahan pangan yang beranekaragam serta tergantung pada kondisi sumberdaya alam. Produk pangan lokal mempunyai peranan yang sangat strategis untuk memenuhi kebutuhan pangan di daerah maupun untuk meningkatkan pendapatan petani. Hal ini didukung oleh potensi. Hal ini didukung potensi areal dan produksi berbagai komoditas pangan lokal yang mempunyai keunggulan wilayah dan dapat dijamin kesinambungannya. Namun sebagian besar produksi pangan lokal belum dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga produk pangan lokal perlu dikembangkan lebih lanjut dalam rangka memenuhi kebutuhan sendiri maupun luar daerah. Walaupun pangan lokal mempunyai potensi besar dalam mendorong masyarakat untuk menkomsumsi masyarakat untuk menkosumsi pangan beragam bergizi berimbang namun pangan lokal masih menghadapi persaingan yag cukup berat terutama dengan masuknya produk impor bersama budaya asingnya. Menghadapi fenomena tersebut pengembangan usaha pengelolaan pangan lokal tidak hanya melalui sosialisasi peningkatan konsumsi pangan lokal saja tetapi perlu juga pengembangan pangan lokal melalui tepung tepungan, berasan, dan mie yang didukung program aksi yang nyata di lapangan untuk memberdayakan pengusaha kecil menengah secara sinergis. B. Tujuan Tujuan yang diharapkan dalam Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) adalah untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kesadaran masyarakat untuk mengubah prilaku dalam konsumsi pangan kearah yang semakin beragam, bergizi, seimbang, dan aman berbasis sumberdaya lokal. Selain itu tujuan lain sesuai peruntukan program P2KP adalah (1) Meningkatkan pemahaman, keterampilan, pengetahuan dan kemampuan aparat pemerintah (Penyuluh pertanian) dan tokoh/pemimpin kelembagaan petani dalam upaya pengembangan dan pendampingan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. (2) Meningkatkan motivasi, partisipasi, dan aktivitas masyarakat dalam penganekaragaman konsumsi pangan melalui penguatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat. (3) memberdayakan pemanfaatan pangan lokal dan produk olahan untuk penganekaragaman konsumsi pangan. II. METODOLODI A. Lokasi P2KP Sasaran dan lokasi kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang berupa pembinaan langsung pemberdayaan masyarakat melalui Pendekatan Kelembagaan berupa Kelompok Wnita Tani, Siswa SD/MI serta Kelompok Usaha Kecil bidang pangan. Lokasi kegiatan P2KP tersebut diatas dolaksanakan disatu Desa (Desa Pelaksana P2KP) yang terdapat di Desa PUAP, Desa Mandiri Pangan dan Desa Lainnya yag tersebar di Kabupaten Kota di Seluruh Indonesia. Sasaran kegiatan P2KP lainnya adalah masyarakat luas untuk membangun kesadaran akan manfaat konsumsi pangan beragam, bergizi, berimbang, aman, serta perlunya penurunan konsumsi beras 1,5 persen perkapita pertahun. B. Waktu Pelaksanaan Presiden Republik Indonesia pada Tanggal 6 Juni 2009 telah mengeluarkan Peraturan Nomor 12 Tahun 2009 tentang kebijakan Percepatan Pengenekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis sumberdaya lokal. Melalui Kebijakan ini maka pada tahun Anggaran 2010 ini diwujutkan melalui Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) bagi Kelompok Wanita Tani terutama Dasawisma, PKK, Siswa SD/MI dan Usaha mikro kecil bidang pangan dalam pengembangan pangan lokal melalui tepung tepungan. Pelaksnaan kegiatan ini dilaksanakan Pada Tahun anggaran 2010 oleh Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bulukumba kepada KWT dengan kegiatan Pemberdayaan Kelompk Wanita Tani melalui Optimalisasi pemanfaatan Pekerangan dengan kegiatan usahatani terpadu. C. Metode Monitoring dan Evaluasi P2KP Kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dipantau dan dievaluasi secara berjenjang serta pelaporannya harus dilakukan secara berjenjang, priodik, tepat waktu dan tepat sasaran, sehingga dapat segera diambil tindakan perbaikan , apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dan menyimpang dalam pelaksanaan kegiatan. Pemantauan, evaluasi, pengendalian, pengawasan dan pelaporan dilaksanakan secara bertingkat dari tingkat desa, Kabupaten, Propinsi dan pusat. Monotoring dan evaluasi merupakan komponen yang cukup penting dalam suatu kegiatan. Monitoring dilakukan secara kontinyu dalam waktu tertentu, terhadap perkembangan setiap pelaksanaan kegiatan P2KP di pusat, propinsi, kabupaten/Kota dan Desa. Hal hal yang akan dipantau adalah kelengkapan administrasi. Penggunaan dana, dokumen oprasional berupa juklat juknis persiapan dan pelaksanaan kegiatan di kelompok penerima manfaat. Hal hal penting yang perlu direkam dalam monitoring, termasuk permasalahan yang ditemukan, perlu dianalisis lebih lanjut, sebagai bahan impormasi untuk evaluasi dan tindakan perbaikan pelaksanaan P2KP. III. PELAKSANAAN SL-P2KP A. Kegiatan SL-P2KP Kegiatan Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani melalui Optimalisasi Pemanfaatan pekerangan bertujuan (1) meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran serta motivasi kelompok wanita tani untuk memanfaatkan lahan pekerangan sebagai sumber pangan dan pendapatan keluarga. (2) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan kelompok wanita dalam menyiapkan, mengolah, menyajikan dan menkonsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman melalui optimalisasi pemanfaatan pekerangan. Adapun kegiatan dalam oprimalisasi pemanfaatan pekerangan bagi kelompok wanita tani dilakukan dengan metode Sekolah Lapang degan kegiatan kegiatan : 1. Pelaksanaan Sekolah Lapang Sekolah lapang adalah sekolah yang dilaksanakan dilapangan dengan peserta adalah Kelompok tani, Kelompok Wanita tani atau kelompok Pemuda Tani yang dipandu oleh seorang Penyuluh Lapang atau Pendamping. Sekolah lapang ini memiliki kurikulum yang jelas dan acara yang terjadwal dan terprogram serta terarah dengan tujuan adalag sbb. a) Memasyarakatkan tehnologi produksi yang spesifik lokasi yang belum dikenal atau belum dikelolah masyarakat petani atau Kelompok Wanita Tani dan diharapkan dapat dikembangkan dengan dukungan para peserta dan Penyuluh Pendamping b) Diberikan kepada para masyarakat /kelompok untuk mengembangkan keahliannya melalui proses berlatih selama satu siklus tanam c) Agar para peserta mampu membuat rencana kelompok dan melaksanakan lalu belajar menyampaikan serta membuat kegiatan d) Membuat rencana untuk kerja sama kelompok dan kerjasama anggota dan setelah selesai sekolah lapang mempu melatih para petani Dasawisma, KWT Stake Holder dan para petugas baik Penyuluh maupun Penyuluh Pendamping. e) Meningkatkan kerja sama yang harmonis antara petani, KWT, stake holder dan para petugas baik petugas penyuluh maupun pendamping 2. Proses Pelaksanaan Sekolah Lapang 2.1. Peserta Sekolah Lapang Pelaksanaan Sekolah Lapang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (SL-P2KP) di Kelompok Wanita Tani Mawar Desa Balangtaroang merupakan Sekolah lapang Tahun kedua pada kegiatan Pelaksanaan Program P2KP dan merupakan lanjutan dari para anggota kelompok KWT yang mempuyai lahan pekerangan dan mau mengikuti anjuran tehnis dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang. ( Daftar nama nama Peserta SL-P2KP Terlampir ) 2.2. Laboratorium Sekolah Lapang Sekolah lapang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) memiliki Laboratorium lapangan atau kebun contoh sebagai komponen pengamatan dan tempat melakukan rekayasa tehnologi untuk pengembangan tanaman pangan lokal dan selanjutnya para peserta dapat melakukan aplikasi tehnilogi di lahan pekerangan masing masing peserta sesuai tehnologi yang diperoleh di kegiatan Sekolah Lapang tersebut 2.3. Metode Sekolah Lapang Sekolah lapang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (SL-P2KP) Penyuluh Pendamping bukan mengajar melainkan mengajak peserta untuk melibatkan diri di dalam suatu proses pendidikan. Pada awal sekolah lapang yang masuk dalam proses duluan adalah pemandu lapang sebagai prasyarat terjadinya suatu proses intraksi yang dialogis seimbang dan langsung ditengah tengah sarana belajar. Kegiatan sekolah lapang dilaksanakan selama 10 kali pertemuan dan dilaksanakan setiap Minggu berjalan (Daftar Jadwal dan Materi Pertemuan terlampir ) 2.4. Latihan Semusim Sekolah lapang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (SL-P2KP) dirancang kusus untuk mengukuti satu siklus tanam sampai panen pada optimalisasi lahan pekerangan, sehingga para peserta dapat belajar dan mengamati perkembangan pertanaman dari waktu ke waktu dan kapan waktu tanam yang tepat. Dengan demikian minggu demi minggu para peserta bertambah yakin akan kemampuan mereka untuk menganalisa keadaan dan mengambil keputusan menajemen lahan yang tepat sehingga sekolah lapang SL-P2KP sarat dengan musim tanam atau pola tanam. 2.5. Dinamika Kelompok Kegiatan sekolah lapang didalamnya ada Dinamika kelompok untuk mengembambang wahana peserta belajar sambil bermain, namun permainan yang penuh arti yang positif agar para peserta tidak merasa jenuh, sehingga apa yang mereka inginkan dapat berjalan dengan lancar dan sukses. 2.6. Partisipatif Pada pelaksanaan sekolah lapang P2KP paartisipasi peserta yang lebih diutamakan dan diharapkan dapat berkembang, metode ini yang lebih diutamakan agar para peserta berperan aktif bukan passif dalam proses pembelajaran dan keberanian para peserta akan lahir dengan harapan mampu mengembangkan kegiatan dalam usahataninya. 2.7. Farm Fild Day Pelaksanaan kunjungan lapang bagi para peserta sekolah lapang dilakukan untuk membandingkan apa yang mereka alami dan diperoleh dari pelaksanaan usahatani dalam optimalisasi pemanfaatan lahan pekerangan baik pada laboratorium Lapangan maupun pada pertanaman masing masing anggota lalu diajak untuk berkunjung kesalah satu kelompok usaha atau daerah yang telah maju dan telah mengembangkan usahatani dengan maju sehingga para peserta timbul motivasi dan keinginan berbuat yang lebih baik dan mebandingkan hasil yang mereka dapatkan dalam proses sekolah lapang tersebut. 3. Produksi Produksi hasil usahatani melalui Optimalisasi pemanfaatan lahan pekerangan para petani dapat meningkamati langsung produksinya dan bisa menjadi pendapatan usahatani serta secara langsung dapat dikelolah melalui beberapa tehnologi tepat guna melalui praktek pembuatan kue non beras dan kue kue sesuai hasil pekerangan dalam proses pembelajaran di sekolah lapang olehnya itu proses sekolah lapang dilaksanakan satu siklus tanam mulai tanam sampai proses produksi sehingga para peserta dapat mengelolah dan melakukan analisa untuk proses agribisnis usahatani mereka sendiri 4. Pameran Sekolah lapang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan juga melakukan promosi hasil kegiatan dengan menampilkan produk produk yang mereka buat dalam proses sekolah lapang, karna dalam proses pembelajaran di sekolah lapang diberikan beberapa tehnologi tepat guna proses pembuatan kue non beras yang tentu bahan bakunya bersumber dari hasil oprimalisasi pemanfaatan lahan pekerangan para peserta sekolah lapang tersebut. ( dokomentasi kegiatan terlampir. B. Pemanfaatan Bansos Percepatan Penganekaragaman konsumsi Pangan (P2KP) dengan sumber sumber pembiayaan dari APBN, APBD Propinsi, dan APBD Kabupaten/Kota dan swadaya masyarakat. Dana Dekonsentrasi dialokasikan pada kegiatan pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI pengadaan KIT. Sedangkan Dana tugas perbantuan dialokasikan untuk kegiatan Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani melalui Optimalisasi Pemanfaatan lahan pekerangan dan kegiatan pengembangan usaha pengelolaan pangan lokal berbasis tepung tepungan. Dalam proses untuk pemanfaatan Dana untuk kegiatan baik Dana Dokonsentrasi maupun dana perbantuan bagi kelompok wanita tani diharapkan : a. Kelompok Wanita tani harus membuat/menyusun rencana kegiatan dan kebutuhan anggaran (RKKA) b. Kelompok wanita tani harus membuka Rekening pada kantor Bank Cabang/Unit BRI, Pos atau Bank lain yang terdekat dan membertahukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kabupaten/Kota. c. Pencairan Dana Bansos dilakukan oleh Kelompok Wanita tani melalui Ketuanya dan selanjutnya dibelanjakan sesuai RKKA dengan persetujuan PPK Kabupaten/Kota. C. Permasalahan Masalah masalah yang masih ada dalam masyarakat terkait dalam Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan adalah : 1) Belum terlaksananya proses pemberdayaan secara utuh dilakukan bagi masyarakat dan kelompok pelaku usaha disetiap komponen kegiatan sehingga segala kegiatan terkadang lambat untuk membuatkan hasil sesua apa yang diharapkan 2) Peran para pemangku kepentingan belum mendukung sepenuhnya kegiatan pemberdayaan dan belum mampu memberdayakan masyarakat sebagaimana harapan masyarakat karna kesiapan dan kondisi masyakat masih lemah 3) Peningkatan ekonomi masyarakat belum sepenuhnya dilaksanakan dengan pengembangan usaha pengelolaan dengan pemanfaatan tehnologi tepat guna sesuai kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha menengah 4) Pelaku bisnis dan mitra usaha belum tertarik untuk memberdayakan kelompok kelompok kecil atau usaha migro untuk pemberian modal usaha sehingga pengembangan pangan lokal belum sepenuhnya dapat dikelolah dengan baik 5) Oprimalisasi pemanfaatan lahan pekerangan belum dikelolah dengan baik yang merupakan potensi sumberdaya alam dan sumber pendapatan petani yang punya peluang untuk meningkatkan ekonomi pangan lokal masyarakat. D. Upaya Pemecahan Masalah Upaya upaya yang harus dilakukan dalam rangka mempercepat proses Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan adalah : a) Melakukan kesinambungan program dan tetap diarahkan dengan memberdayakan kelembagaan secara penuh, sehingga para petani dalam hal ini KWT Mawar dapat tumbuh dan berkembangan untuk kemandirian kelembagaan b) Agar kegiatan ini tetap dilakukan tindakan monitoring dengan memberikan kewenagan kepada kemandirian kelembagaan petani dan Kelompok Wanita Tani c) Membuka peluang bisnis kepada para kelembagaan petani dengan upaya promosi dan hasil hasil pangan lokal yang ada dipedesaan d) Diharapkan kepada Pemerintah dalan hal inin Badan Ketahanan Pangan agar tetap melanjutkan program program utamanya Program P2KP dan sasaranya tetap kepada kelompok yang telah dibina IV. PENUTUP A. Kesimpulan Dari Pelaksanaan Program P2KP dan Pelaksanaan SL-P2KP Tahun ke II KWT Mawar Tetap Mendukung dan Mengharapkan agar Program ini berlanjut terus dan tetap mendapatkan pengawalan karna para peserta masih bulum mampu berjalan sendiri. Dari hasil pelaksanaan Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) melalui Program Optimalisasi Pemanfaatan lahan pekerangan dengan pendekatan Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani maka tercermin suatu harapan besar dan keinginan para pelaksana kegiatan untuk pengembangan dan pemanfaatan pangan lokal sebagai basis potensi bagi kaum ibu tani dalam pengembangan tehnologi tepat guna dengan percepatan konsumsi pangan lokal dan memahami bahwa lahan pekerangan merupakan sumber pangan dan sumber pendapatan keluarga B. Saran Kami dari para Peserta dan Penyuluh Pendamping tak lupa mengucapkan banyak terimah kasih kepada Pemerintah Dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan Daerah Propinsi dan Kabupaten sekiranya program ini tetap berlanjut dan berkesinambungan, karna program ini sangat berdampak terutama proses percepatan konsumsi Pangan dengan melibatkan dan Memberdayaan Kelembagaan Masyarakat dipedesaan. Sehingga kelembagaan dipedesaan akan kuat dan mandiri. Balangtaroang, 25 Desember 2011 Penyuluh Pendamping P2KP R A H M A T, SP NIP.19661114 199203 1 008