Teh wangi merupakan hijau yang ditambah bunga melati, atau bunga gambir atau culan melalui pengolahan tertentu untuk memperbaiki rasa dan aroma teh. Teh ini disukai banyak orang terutama masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meski sentra teh wangi banyak terdapat di Jawa Tengah seperti Pekalongan, Tegal, Surakarta sampai Yogyakarta, namun bahan bakunya yang berupa teh hijau disuplai dari Jawa Barat yang merupakan "provinsi teh" di Indonesia. Pengolahan teh wangi merupakan proses penyerapan atau absorbsi aroma bunga ke dalam teh hijau. Tahapan proses pengolahan teh wangi meliputi penyediaan bahan baku berupa teh hijau, penggosongan, pemilihan bunga, pelembaban, pewangian dan pengeringan serta pengepakan. Penyediaan Bahan Baku Teh hijau yang baik untuk proses pengolahan teh wangi diantaranya mempunyai warna hijau kehitaman yang hidup, bentuk tergulung dengan baik, rasanya sepet, pahit, segar, kuat, mudah menyerap bau bunga dan kandungan airnya maksimal 10%. Penggosongan Teh hijau dipanaskan dengan menggunakan mesin rotary drier pada suhu 90-125°C. Proses ini bertujuan menghasilkan teh hijau gosong yang bersifat porous. Proses penggosongan akan menghasilkan "Cou-cou" berwarna kehitaman dengan kadar air 3-5 %. Dengan sifat barunya ini, teh hijau akan mudah menyerap aroma dari melati. Pemilihan Bunga Bunga yang dipersyaratkan adalah melati dengan tingkat kematangan tertentu dan diperkirakan pada saat pencampuran dengan teh, sehingga aroma bunga dapat diserap secara maksimal. Pelembaban Pelembaban dilakukan melalui pemberian air pada teh gosong sampai keadaan teh menjadi lembab dengan kadar air 30-35%. Pelembaban dapat melonggarkan gulungan teh, berarti memperluas permukaan teh hijau sehingga meningkatkan daya serap terhadap aroma bunga. Pelembaban berpengaruh dalam proses pemindahan aroma bunga kepada teh hijau, karena pewangian pada keadaan dingi akan menghasilkan teh wangi yang sangat harum dan tingkat keharumannya tidak mudah hilang. bProses pelembaban biasanya dilakukan sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Pewangian Proses pewangian dilakukan dengan cara pencamapuaran teh dengan bunga . Perbandingan nya adalah 1:2, 2:3, atau 3:2. Perbandingan itu disesuaikan dengan harga bunga melati yang naik-turun. Terkadang pengolah membuat lapisan di antara teh dan bunga. Hal tersebut dimaksukan agar pada saat pemisahan teh dengan bunga bisa lebih mudah. Proses ini dilakukan pada malam hari. Alasan inilah yang menyebabkan mengapa bunga yang dipilih adalah bunga yang pada malam hari masih dapat mekar dengan baik.Selama proses ,teh dan melati perlu diaduk dengan selangwaktu tertentu agar wanginya merata. Pengeringan dan Pengepakan Pemisahan bunga dilakukan setelah proses pewangian selesai. Sisa-sisa bunga dipisahkan dari tehnya, namun demikian,pemisahan itu biasanya berdasarkan atas selera konsumen. Ada konsumen yang menyukai adanya bunga melati yang tersisa dalam teh, namun adajuga yang sebaliknya. Sebagian pabrik masih memanfaatkan keberadaan bunga ini untuk memberi jaminan kewangian teh tersebut. Selanjutnya, teh dikeringkan pada ECP dengan suhu masuk 100-110°C dan suhu keluar 50-55°C selama 30 menit sampai diperoleh kadar air sekitar 4%. Setelah proses pengeringan selesai, teh yang sudah wangi diangin-anginkan sampai dingin untuk dilakukan proses selanjutnya yaitu pengepakan/pengemasan. Pengolah teh umumnya mengemas teh wangi dengan mengikutsertakan bunga melatinya. Maksudnya untuk menambah jumlah berat. Penulis: Yulia Tri Sedyowati ( Penyuluh Pertanian Madya) Sumber: 1 http: http://y-andria.blogspot.com/2009/05/pengolahan-teh.html 2.Nazaruddin dkk, 1996. Pembudidayaan dan Pengolahan Teh.Penebar Swadaya, Jakarta 3.Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil perkebunan, 2004.Ditjen PPHP Deptan, Jakarta.