Loading...

PROSES PRODUKSI BIBIT KAMBING

PROSES PRODUKSI BIBIT KAMBING
Untuk bisa budidaya kambing yang efesien , produktif dan berkesinambungan, maka diperlukan proses produksi yang baik. Sejalan dengan meningkatkannya perekonomian masyarakat Indonesia dan bertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan akan bahan pangan bergizi khususnya daging, susu dan telur akan semakin meningkat pula. Hal ini disebabkan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi bagi keluarganya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas berbagai jenis ternak contoh seperti budidaya kambing yang efesien , produktif dan berkesinambungan. Pada anak-anak, baik Balita maupun usia sekolah yang sering mengkonsumsi makanan dengan gizi tinggi, akan memperlihatkan pertumbuhan yang cepat, cerdas, dan mempunyai daya tahan tubuh yang kuat sehingga badan/tubuhnya menjadi sehat. Untuk bisa budidaya kambing yang efesien , produktif dan berkesinambungan, maka diperlukan proses produksi yang baik. Adapun tahapan proses produksi bibit kambing, sebagai berikut : I. Pemilihan Bibit. Bibit ternak kambing hendaknya berasal dari daerah sumber bibit yang telah ditetapkan dan atau dari perusahaan yang memiliki izin usaha pembibitan. Tata cara pemasukkan bibit ternak kambing wajib mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun pemilihan bibit ternak kambing, hendaknya memenuhi kriteria, sebagai berikut : A. Umum, kambing bibit harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti : 1) Cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat fisik lainnya; 2) Semua kambing bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, kambing yang abnormal serta tidak menunjukkan gejala kemandulan; 3) Kambing bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelaminnya; B. Khusus : bibit ternak kambing betina : 1) Umur 8 - 12 bulan; 2) Berat badan ternak kambing 12 - 16 kg; 3) Berasal dari keturunan yang sehat dan tidak pernah terserang penyakit menular; 4) Induk yang akan dipilih berasal dari keturunan yang baik dan mampu melahirkan anak 2 - 3 ekor setiap kelahiran; 5) Dapat beranak 3 kali dalam waktu 2 tahun atau beranak setiap 7 bulan sekali; 6) Mempunyai daya pertumbuhan badan yang lebih cepat; 7) Mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan pakan yang tersedia. Sedangkan bibit ternak kambing jantan : 1) Umur 9 - 12 bulan; 2) Berat badan 18 - 20 kg; 3) Dada lebar dan dalam; 4) Badan panjang dan punggung rata; 5) Otot tubuh kuat dan padat. II. Kandang : 1) Kandang yang dibangun harus kuat, memenuhi syarat kesehatan, mudah dibersihkan, mempunyai drainase yang baik, siklus udara yang bebas dan dilengkapi tempat makan dan minum ternak; 2) Sistem kandang dapat dibuat sistem pemeliharaan massal/berkoloni dengan luas ruang/space : 1,5 m² per ekor induk yang sedang menyusui, 1,0 m² per ekor betina dewasa, 1,2 m² per ekor pejantan; 3) Jarak antara bangunan kandang dengan bukan kandang minimal 25 m. III. Pakan : 1) Pakan ternak kambing terdiri dari pakan dasar yang berasal dari hijauan (rumput, legum/kacang-kacangan dan hasil samping pertanian) serta pakan konsentrat; 2) Pakan ternak kambing yang digunakan harus terjamin jumlah dan mutunya sesuai kebutuhan minimum; 3) Dalam pemberian pakan kambing yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan zar-zat makanan berupa protein, energi, mineral, serat kasar dan vitamin; 4) Kebutuhan pakan kambing : kambing sedang tumbuh memerlukan rumput 60 %, hijauan kacang-kacangan 40 % dan pemberian konsentrat 200 -250 gram/ekor/hari; kambing betina dan jantan dewasa memerlukan rumput 75 %, hijauan kacang-kacangan 25 % dan pemberian konsentrat 200 - 250 gram/ekor/hari; kambing betina bunting memerlukan rumput 60 %, hijauan kacang-kacangan 40 % dan pemberian konsentrat 200 -250 gram/ekor/hari; kambing induk menyusui memerlukan rumput 50 %, hijauan kacang-kacangan 50 % dan pemberian konsentrat 200 -250 gram/ekor/hari; kambing pejantan/pemacek memerlukan rumput 75 %, hijauan kacang-kacangan 25 % dan pemberian konsentrat 200 -250 gram/ekor/hari. Penulis : Sri Hartati (Pusat Penyuluhan Pertanian) Sumber : 1) Pedoman "Budidaya Ternak Kambing/Doma Yang Baik (Good Farming Practice)", Direktorat Jenderal Peternakan 2007; 2) kambingindonesia.com (9/5 2013).