Loading...

Prospek Pemasaran Belimbing yang Semakin Cerah

Prospek Pemasaran Belimbing yang Semakin Cerah
Salah satu unsur yang sangat penting dalam untuk dilakukuan dalam menentukan keberhasilan pemasaran adalah peencanaan. Perencanaan pemasaran harus dibuat secara baik dan matang, sehingga saat panen tiba belimbing bisa langsung dipasarkan dalam bentuk segar atau dalam bentuk olahan. Selanjutnya petani harus harus mencari peluang pasar, kira-kira berapa kebutuhan belimbing di pasar secara nyata. Prospek agribisnis belimbing di dalam negeri diperkirakan makin cerah kalau dikelola secara intensif dan komersial baik dalam bentuk perkebunan, pekarangan ataupun tabulampot. Hal ini antara lain disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk dan semakin banyaknya konsumen menyadari pentingnya kecukupan gizi dari buah-buahan. Produksi belimbing pada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar, terlebih pasar luar negeri. Ketidakmampuan tersebut bukan karena produktivitas rendah akan tetapi karena penerapan teknologi pemeliharaan dan pasca panen yang belumoptimal. Pada tahun 1993 Indonesia baru andil 0,4 % dari total nilai impor dunia buah tropis. Bila pada tahun 1989 tingkat konsumsi buah-buahan per kapita penduduk Indonesia hanya mencapai 22,92 kg/tahun, maka untuk mencapai kecukupan gizi yang sesuai dengan anjuran FAO menargetkan rata-rata 60 Kg per kapita per tahun. Salah satu jenis buah potensial yang mudah dibudidayakan untuk mendukung pencapaian target tersebut adalah belimbing. Perkiraan permintaan setiap tahun semakin meningkat, peningkatan permintaan tersebut adalah sebesar 6,1 %/tahun (1995-2000), 6,5 %/tahun (2000-2005), 6,8 %/tahun (2005-2010), dan mencapai 8,9 %/tahun (2010 - 2015). Produksi belimbing dan ekspor belimbing dari indonesia berflutuasi dari tahun ke tahun . Hal ini disebabkan belum dilakukannya budiday a yang baik, belum adanya sistem pengujian kebenaran varietas bibit yang bisa menjamin keseragaman produksi dan kualitas buah, belum adanya program bpemuliaan yang mantab dan berkesinambungan, adanya ketidaksesuaian spesifikasi kualitas buah belimbing dengan preferensi konsumen pasar dunia, dan belum adanya sistem kelembagaan yang memadukan komponen agribisnis tanaman belimbing. Untuk menanggulangi masalah tersebut tentunya diperlukan program pengembangan tanaman belimbing terpadu yang melibatkan berbagai pihak baik petani sebagai produsen, swasta sebagai penyandang dana dan biasanya sebagai pemilik kebun serta peneliti yang selalu menggali teknologi, pemerintah sebagai penentu kebijakan dan fasilitator dalam agribisnis. Strategi pengembangan yang diterapkan merupakan optimasi pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan daya saaaaing agribisnis buah belimbin, antara lain melalui perbaikan varietas dan perakitan varietas baru yang disertai dengan teknologi produksi, pasca panen dan pemasaran, serta penerapan teknik agribisnis. Pemasaran buah belimbing kalau didaerah perkotaan bisa dipasarkan di pasar-pawalayan, supermarket, pasar modern, pasar induk buah-buahan dan pasar tradisional. Akan tetapi kalau di kota-kota kecil, pemasaran hanya sampai ke pasar tradisional , di jongko-jongko belimbing di pinggir jalan, di pedagang pengumpul, ataupun pedagang pengecer. Selain dipasarkan berupa buah segar, bisa juga berupa olahan dalam skala industri kecil. diperbaiki, yang jelas untuk meningkatkan daya saing di pasar domestik maupun pasar ekspor, sistem pemasaran belimbing harus diperbaiki. Dan tentunya harus diperhatikan juga ketentuan-ketentuan mengenai mutu, karena hal tersebut yang akan mempengaruhi dalam persaingan terutama kalau di ekspor. Adapun ketentuan mutu sebagai berikut. Ketentuan minimum yaitu - utuh; padat;- penampilan segar, memiliki bentuk, warna dan rasa sesuai dengan sifat/ciri varietas;layak dikonsumsi;- bersih, bebas dari benda-benda asing yang tampak;- bebas dari hama dan penyakit; bebas dari kerusakan akibat temperatur rendah dan atau tinggi;- bebas dari kelembaban eksternal yang abnormal, kecuali pengembunan sesaat setelah pemindah an dari tempat penyimpanan dingin;- bebas dari aroma dan rasa asing. Buah belimbing harus dipanen dengan hati-hati dan telah mencapai tingkat kematangan yang tepat sesuai dengan kriteria ciri varietas dan atau jenis komersial dan lingkungan tumbuhnya. Perkembangan dan kondisi buah belimbing pada saat panen harus dapat: - mendukung penanganan dan pengangkutan, - sampai tujuan dalam kondisi yang diinginkan. Padatan terlarut total daging buah minimum 7,5 %. Warna buah harus menunjukkan ciri varietas dan atau tipe komersial serta lokasi tanam. Pengkelasan Belimbing digolongkan dalam 3 (tiga) kelas mutu yaitu kelas super; kelas A; kelas B. Kelas super Belimbing bermutu paling baik (super) yaitu bebas dari cacat kecuali cacat sangat kecil pada permukaan. Kelas A Belimbing bermutu baik, dengan cacat yang diperbolehkan sebagai berikut: - sedikit kelainan pada bentuk;cacat sedikit pada kulit seperti lecet, tergores atau kerusakan mekanis lainnya; cacat tersebut tidak mempengaruhi daging buah. ¢ total area yang cacat tidak lebih dari 5 % dari luas total seluruh permukaan buah; Kelas B Belimbing bermutu baik, dengan cacat yang diperbolehkan sebagai berikut: kelainan pada bentuk; cacat sedikit pada kulit seperti lecet, tergores atau kerusakan mekanis lainnya; cacat tersebut tidak mempengaruhi daging buah. Penulis: Yulia Tri S (Penyuluh Pertanian Madya) Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: Arief Prahasta,S-Budidaya, usaha-Pengolahan Agribisnis Belimbing, Bandung:Penerbit CV. Pusaka Grafika http://www.solusibizniz.com/index.php?option=com_content&view=article&id=86:budidaya-belimbing&catid=31:pertanian&Itemid=115 http://infopekalongan.com/content/view/56/1/ BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN,Jakarta. Sumber gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Belimbing"