Loading...

PROSPEK PENGEMBANGAN JAMUR SHITAKE

PROSPEK PENGEMBANGAN JAMUR SHITAKE
Jepang merupakan produsen terbesar jamur shitake, walaupun jamur ini pertama kali ditemukan di Cina. Perkembangan penanaman jamur shitake di Jepang meningkat pesat sejak tahun 1975. Pada tahun 1983, Jepang dapat memproduksi jamur shitake sebanyak 158.855 ribu ton (berat segar ekuivalen) bemilai $ 689.000.000 yang dihasilkan oleh 167.000 petani. Ditinjau darijumlah produksi, penanaman jamur shitake di Jepang merupakan salah satu cabang pendng dari pertanian. Pada tahun 1983 - 1984, hasil jamur kayu di Jepang sebanyak 175 ribu ton dan sekitar 53% adalah jamur shitake kering (12.025 ribu ton). Pada tahun tersebut, Jepang mengekspor 2,795 ribu ton jamur shitake kering yang merupakan 23,2% dari jamur kering total yang diproduksinya. Produksi jamur shitake Jepang merupakan 67,8% produksi jamur dunia. Ukuran pertanian jamur di Jepang ditentukan olehjumlah pokok (balok) kayu yang ditanami jamur. Pada tahun 1983, sejumlah 160.000 petani jamur, sekitar 45 petani mempunyai tidak kurang dari 600 rak pokok kayu dan lebih dari 20 mempunyai antara 600 - 3.000 rak pokok kayu. Hanya sekitar 3,6 petani yang mempunyai 30.000 rak balok. Kebutuhan jamur di Hongkong disuplai dari negara luar. Tahun 1983, Hongkong impor jamur shitake kering 2.458 ribu ton senilai $ 52 juta dengan harga rata-rata $ 21,2/kg. Hongkong impor jamur shitake dari Jepang 1.638 ribu ton senilai $ 48,6 juta dengan harga rata-rata $ 29,7/kg. Di samping itu, Hongkong juga impor jamur dari Cina dan Korea Selatan. Jepang adalah negara pengekspor jamur shitake kering. Sedangkan Hongkong adalah pasar terbesar jamur shitake. Hongkong dipasok dari Jepang berkisar 60,1% dari total ekspor Jepang. Jepangjuga memasok jamur shitake ke Malaysia dan Singapura sebanyak 22,5% dan Amerika Serikat sebanyak 13%. Selain Jepang, Cina, dan Korea Selatan, negara-negara lain yang mulai mengembangkan penanaman jamur shitake adalah Taiwan, Singapura, Selandia Barn, dan Thailand. Percobaan dan penelitian tentang jamur shitake juga berkembang di Australia, Belgia, Canada, German, Pilipina, dan Amerika Serikat. Akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, Indonesia juga mulai mengembangkan jamur, termasuk jamur shitake. Pada tahun 1989, nilai ekspor jamur shitake Indonesia ke Jepang sebanyak 131 kg dengan nilai 230.000 yen. Jepang memang pengekspor jamur shitake, tetapi kebutohan dalam negeri cukup tinggi, yalaii sekitar 90.000 ton shitake. Sejak tahun 1983, produksi jamur shitake Jepang menurun karena bahan baloi kayu yang diperiukan berkurang dan hutan lindung harus tetap dilestarikan. Para petani Jepang membudidayakan jamur shitake masih menggunakan cara tradisional, yaitu menggunakan balok-balok kayu sehingga membutuhkan waktu cukup lama, yakni sekitar 1-2 tahun. Sebagian petani menggunakan teknologi modem, yaitu dengan media tanam polybag dari plastik ataupun secara hidroponik di green house. Cara budi daya modern ini bisa lebih pendek, tetapi memerlukan upah pekerja yang mahal. Dengan demikian, di satu pihak produksi terus merosot dan di lain pihak kebutuhan dalam negeri tetap besar. Banyaknya pengusaha Jepang menanamkan modal di luar negeri dan munculnya restoran-restoran model Jepang di mana-mana menyebabkan kebutuhan jamur shitake makin meningkat. Akhimya, Jepang semula sebagai pengekspor jamur shitake sekarang menjadi pengimpor jamur shitake. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa budi daya jamur shitake di Indonesia masih punya peluang besar. Faktor lain yang mendukung prospek budi daya jamur shitake di Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Perkembangan industri pariwisata di Indonesia maldn meningkat sehingga kebutuhan akan jamur shitake meningkat pula. 2. Kondisi ikiim Indonesia memungkinkan, serbuk gergaji kayu untuk media jamur shitake melimpah, dan cukup tersedia tenaga kerja. 3. Kesempatan pasar masih terbuka, tidak hanya ke Jepang, tetapi juga ke Hongkong, AS, Australia, dan Eropa. Sumber : Jamur Shitake, Patah Suhardiman