Dampak dari pandemi, perang Rusia - Ukraina, dan perubahan iklim menyebabkan krisis ekonomi yang diikuti krisis pangan dan energi yang berdampak pada kenaikan harga pangan dan energi, sehingga negara-negara pengekspor pangan cenderung menahan produknya untuk dijadikan stok pangan. Mengingat kondisi global tersebut juga terjadi di Indonesia, maka ke depan Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan ketahanan pangan agar mampu menyediakan pangan yang cukup bagi penduduknya. Dengan adanya ancaman krisis pangan global, Indonesia harus memiliki rencana besar. Ada banyak pilihan bahan pangan yang bisa dikembangkan di Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras, salah satunya adalah sorgum. Prospek pengembangan sorgum di Indonesia kian menjanjikan karena tidak hanya dapat dikembangkan sebagai bahan pangan yang mampu menggantikan beras tetapi juga bisa mengurangi konsumsi gandum. Sorgum merupakan salah satu tanaman pangan lahan kering yang potensial dikembangkan di Indonesia. Sorgum dapat digunakan sebagai pangan, pakan, dan bioenergi (bioetanol). Sorga juga mampu beradaptasi pada lahan marginal dan membutuhkan air relatif lebih sedikit karena lebih toleran terhadap kekeringan dibanding tanaman pangan lain. Biji sorgum mempunyai kualitas nutrisi sebanding dengan jagung dan beras, bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi, namun kandungan lemaknya lebih rendah. Oleh karena itu, sorgum dimanfaatkan sebagai penyangga pangan penduduk di lebih 30 negara. Selain sebagai bahan pangan, biji sorgum juga digunakan sebagai bahan baku industri pangan seperti gula, monosodium glutamate, asam amino, minuman, dan hijauannya digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan saat ini sorgum juga digunakan sebagai bahan baku energi, terutama sorgum manis. Beberapa penelitian menyebutkan kandungan protein pada biji sorgum sangat tinggi. Dibandingkan sumber pangan lain seperti beras, singkong dan jagung, sorgum mempunyai kadar protein yang paling tinggi. Sorgum memiliki keunggulan mineral seperti Ca, Fe, P dan kandungan vitamin B1 dibandingkan dengan beras. Meski pun demikian, saat ini sorgum belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini dikarenakan sorgum sendiri belum mencapai taraf pengembangan yang memuaskan. Nilai jual sorgum belum potensial sebagaimana produk serealia yang lain seperti beras, jagung, gandum dan kacang-kacangan. Dengan adanya program diversifikasi pangan dari Kementerian Pertanian, pengembangan sorgum diharapkan mendapat perhatian yang lebih baik, karena komoditas ini mempunyai potensi yang cukup besar untuk dijadikan berbagai produk pangan olahan maupun pakan dan bahan baku industri Dalam Makalah Purnomo Aji, disebutkan bahwa penyosohan biji sorgum dapat dilakuan dengan beberapa metode yaitu penyosohan secara tradisional, penyosohan dengan mesin penyosoh tipe abrasif serta penyosohan alkalis.dan penyosohan dengan metode mekanis. Penyosohan biji sorgum varietas azui-1 az unpad) dengan mesin penyosoh beras tipe abrasive selama 2 menit memberikan hasil terbaik (rendemen 82,81 %, biji utuh 98,04%, biji pecah 1,96% ). Penyosohan selama 2 menit juga memberikan kualitas tepung yang baik dengan tingkat kecerahan (putih) yang menyerupai tepung terigu. Penepungan dapat dilakukan dengan hammer mill dengan sebelumnya diberi perlakuan pengeringan. pengeringan dengan oven 1200C selama 10 atau 20 menit dan pengayakan dengan menggunakan ukuran saringan 40 mesh menghasilkan rendemen tertinggi. Untuk mendapatkan kateristik tepung terbaik sebaiknya dikeringkan selama 20 menit dan menggunakan saringan 100 mesh. Subtitusi tepung terigu pada pembuatan roti; Dalam pembuatan roti imbangan 80% terigu dan 20 % tepung sorgum dengan metode pembuatan roti straight process cara lange dihasilkan roti tawar dengan karakteristik baik dan disukai. Imbangan tepung sorgum dengan tepung ketan dalam pembuatan opak. Dalam pembuatan opak sorgum, imbangan terbaik antara tepung sorgum dan tepung ketan diperoleh pada substitusi tepung sorgum 50% karena memiiki tingkat pengembangan paling tinggi dan menghasilkan nilai kesukaan sifat permukaan, cita rasa dan kerenyahan paing baik. Pada imbangan tersebut, opak yang disangan memilikii karakteristik inderawi (warna dan pengembangan lebih baik dibandingkan dengan opak yang dipanggan. Untuk pembuatan makanan ringan stik bawang , imbangan sorgum dan tepung terigu sebesar 60:40 menghasilkan karakteristik adonan yang baik, dan merupakan imbangan yang paing disukai yang meliputi citarasa, kahalusan permukaan, aroma, kerenyahan dan kenampakan keseluruhan. rata konsumen memperlihatkan tingkat kesukaan dari biasa samp suka. Untuk pembuatan krupuk surgum, imbangan yg terbaik antara tepung sorgum dan tepung tapioka adalah 50:50. Hasil krupuk sorgum, rata rata disukai sampai sangat suka oleh para konsumen/panelis. Penambahan imbangan tepung sorgum sampai 60% telah meningkatkan kerenyahan dan citra rasa dari krupuk yang dihasilkan. Namun demikian penampakan krupuknya menjadi kurang menarik dan berwarna agak coklat. Hal ini bisa diatasi dengan penambahan pewarna pewarna makanan pada adonan krupuk. Demikian beberapa contoh pengolahan dari tepung sorgum, untuk jenis masakan yang lain bisa dicoba sendiri. Kesimpulan Pengelolahan hasil produksi tanaman sorgum dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk menghasilkan produk sehingga nilai jual tanaman sorgum meningkat. Yulia Tri S yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka: Aneka Beti , A. Ispandi, dan Sudaryono. 1990. Sorgum. Monograf Balittan Malang No.5. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. 2013. Budi daya Sorgum sebagai sumber pangan, pakan ternak, bahan baku industri untuk masa depan Indonesia. www.budidayasorgum.com. 2013. Budi daya tanaman sorgum manis (Sorghum bicolor). www.anakagrnomy.com. 2009. Deskripsi varietas jagung, sorgum dan gandum. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Badan Litbang Pertanian. Purnomo Aji, Budidaya Tanaan Semusim Sorgum, 2015 jurusan Agroteknlogi. Sekolah tinggi pertanian, Wuna, Raha.