Pendahuluan Budidaya bawang merah terhitung masih baru di usahakan oleh petani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung namun walaupun terbilang masih baru peluang keberhasilan dan potensi hasilnya lumayan besar serta dapat meningkatkan pendapatan petani. Produktivitas ditingkat petani saat ini mencapai 6 - 8,3 ton per hektare bawang merah kering. Petani menanam bawang merah pada saat musim kemarau atau sekali dalam setahun padahal peluang untuk bertanam bawang merah dapat dilakukan sepanjang tahun. Kebutuhan bawang merah di Bangka Belitung 20-30 % terpenuhi dari dalam daerah selebihnya masih didatangkan dari luar daerah. Untuk itu pendampingan dan peran serta penyuluh pertanian dilapangan sangat dibutuhkan dalam pengembangan budidaya bawang merah di pulau Bangka. Budidaya bawang merah di Bangka Belitung mempunyai prospek menguntungkan dan agar dapat berproduksi optimal dapat dicapai dengan penggunaan varietas unggul, memenuhi syarat tumbuhnya dan penggunaan teknik budidaya yang baik. Berdasarkan data BPS tahun 2020, sentra produksi bawang merah di Bangka Belitung saat ini ada di Kabupaten Bangka Tengah dengan panen seluas 20 ha. Tanaman bawang merah lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering dengan kondisi tanah yang cukup lembab dan air tidak menggenang. Waktu tanam bawang merah yang baik adalah pada musim kemarau dengan ketersediaan air pengairan yang cukup. Penanaman bawang merah juga dapat dilakukan di luar musim dengan memperhatikan kondisi lingkungan. Penggunaan varietas yang adaptif dan berdaya hasil tinggi, pengolahan tanah yang tepat, pemupukan yang efisien, dan pengendalian hama dan penyakit yang berwawasan lingkungan merupakan aspek penting dalam usaha tani bawang merah di luar musim, baik pada lahan kering maupun lahan sawah tadah hujan. Pola Tanam Pengaturan pola tanam antar waktu maupun antar wilayah sangat diperlukan dalam budidaya bawang merah untuk menyikapi kemungkinan terjadinya kondisi cuaca ekstrim yang lebih panjang dari biasanya. Pengaturan pola tanam ini untuk memastikan ketersediaan pasokan sepanjang tahun dan juga menjaga kestabilan harga di tingkat petani dan konsumen. Selain itu guna memaksimalkan penggunaan lahan untuk produksi dapat ditempuh dengan cara tumpang gilir, tumpangsari dan tumpangsari bersisipan. Tumpangsari bersisipan antara tanaman bawang merah dan cabai merah akan memberikan keuntungan yang lebih besar. Pemilihan Varietas Varietas menjadi faktor penting dalam pencapaian kualitas dan kuantitas produksi bawang merah serta ketahanan tanaman terhadap OPT. Varietas bawang merah yang ditanam di Indonesia cukup banyak macamnya, mulai dari varietas lokal sampai varietas unggul yang telah di hasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran Badan Litbang Pertanian. Di Kabupaten Bangka saat ini benih yang digunakan petani sebagian besar adalah Bima Brebes. Umbi Bibit Pada umumnya bawang merah diperbanyak dengan menggunakan umbi sebagai bibit. Kualitas umbi bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan tinggi rendahnya hasil produksi bawang merah. Umbi yang baik untuk bibit harus berasal dari tanaman yang sudah cukup tua umurnya, yaitu sekitar 70-80 hari setelah tanam. Umbi untuk bibit sebaiknya berukuran sedang (5-10 g). Penampilan umbi bibit harus segar dan sehat, bernas (padat, tidak keriput), dan warnanya cerah (tidak kusam). Umbi bibit sudah siap ditanam apabila telah disimpan selama 2 – 4 bulan sejak panen, dan tunasnya sudah sampai ke ujung umbi. Selain itu bawang merah juga dapat diperbanyak melalui biji, perbanyakan biji bawang merah ini dikenal dengan istilah true shallot seed disingkat TSS. Biji ini berasal dari bunga bawang merah yang berbunga pada kondisi tertentu. Suhu yang rendah akan merangsang tanaman bawang merah untuk membentuk bunga sehingga dihasilkan biji. Biji ini selanjutnya akan disemai dan bibitnya dijadikan untuk bahan tanam. Penyiapan Lahan Pegolahan tanah dilakukan 15 - 20 hari sebelum tanam. Pada lahan kering, tanah dibajak atau dicangkul sedalam 20 - 30 cm, kemudian dibuat bedengan. Pada lahan kering bedengan lebar 1,2 – 1,5 m, tinggi 30 cm dan lebar parit 40 – 60 cm. Pada lahan sawah bedengan lebar 1,5 – 2 m, tinggi 40 cm dan lebar parit 40 – 60 cm. Sedangkan panjang bedengan menyesuaikan kondisi lahan. Kondisi bedengan mengikuti arah Timur - Barat. Tanah yang telah diolah dibiarkan sampai kering dan kemudian diolah lagi 2–3 kali sampai gembur sambil dilakukan perbaikan bedengan-bedengan dengan rapi. Pada lahan yang masam seperti di Bangka Belitung disarankan pemberian Kaptan/Dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan dosis 2 ton/ha. Penanaman dan Pemupukan Pemupukan bawang merah di lahan kering/ tegalan terdiri dari pupuk dasar dan pupuk susulan. Pupuk dasar berupa pupuk kandang sapi (15-20 ton/ha) atau kotoran ayam (5-8 ton/ha) atau kompos plus (3-5 ton/ha) dan pupuk buatan SP-36 (200- 250 kg/ha). Pupuk dasar ini diberikan dengan cara disebar serta diaduk rata dengan tanah satu sampai tiga hari sebelum tanam. Sedangkan pupuk susulan berupa Urea (150-200 kg/ha), ZA (300-500 kg/ha) dan KCl (150-200 kg/ha). Pemupukan susulan I dilakukan pada umur 10-15 hari setelah tanam dan susulan II pada umur 1 bulan setelah tanam, masing-masing ½ dosis. Umbi bibit ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 15 cm atau 15 cm x 15 cm. Dengan alat penugal, lubang tanaman dibuat sedalam rata-rata setinggi umbi. Umbi bawang merah dimasukkan ke dalam lubang tanaman dengan gerakan seperti memutar sekerup, sehingga ujung umbi tampak rata dengan permukaan tanah. Tidak dianjurkan untuk menanam terlalu dalam, karena umbi mudah mengalami pembusukan. Setelah tanam, seluruh lahan disiram dengan embrat yang halus. Pemeliharaan Tanaman bawang merah memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya melalui penyiraman namun tanaman ini tidak menyukai banyak hujan. Di musim kemarau, biasanya disiram satu kali sehari pada pagi atau sore hari sejak tanam sampai umur menjelang panen. Penyiraman yang dilakukan pada musim hujan hanya ditujukan untuk membilas daun tanaman, dari tanah yang menempel pada daun bawang merah. Pemeliharaan tanaman bawang merah lainnya yaitu pengendalian gulma. Pertumbuhan gulma pada pertanaman bawang merah yang masih muda sampai umur 2 minggu sangat cepat. Oleh karena itu penyiangan merupakan keharusan dan sangat efektif untuk luasan yang terbatas. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Hama penyakit yang menyerang tanaman bawang merah antara lain adalah ulat grayak Spodoptera, Trips, Bercak ungu Alternaria (Trotol), busuk umbi Fusarium dan busuk putih Sclerotum, busuk daun Stemphylium dan virus. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada minggu kedua setelah tanam dan terakhir pada minggu kedelapan dengan dengan interval 2-3 hari. Pengendalian dengan menggunakan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu: a. Pengendalian secara kultur teknis, antara lain pemupukan berimbang, penggunaan varietas tahan OPT, dan penggunaan musuh alami (parasitoid, predator dan patogen serangga). b. Pengendalian secara mekanik, yaitu dengan pemotongan daun yang sakit atau yang terdapat kelompok telur Spodoptera exigua, dan penggunaan jaring kelambu, penggunaan berbagai jenis perangkap (feromon seks, perangkap kuning, perangkap lampu dll). c. Penggunaan bio–pestisida. d. Penggunaan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya Panen Bawang merah dapat dipanen setelah umurnya cukup tua. Panen untuk konsumsi dapat dilakukan pada umur 58-60 hari, sedangkan panen untuk bibit dapat dilakukan pada umur 70 – 80 hari. Tanaman bawang merah dipanen setelah terlihat tanda-tanda yaitu jika dipegang pangkal daun sudah lemas, leher batang 60% lunak, daun 80 % sudah berwarna kuning pucat dan rebah, umbi sudah terbentuk dengan penuh dan kompak, sebagian umbi telah muncul ke permukaan tanah, umbi berwarna keunguan dan berbau khas. Pemanenan sebaiknya dilaksanakan pada keadaan tanah kering dan cuaca yang cerah untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi di gudang. Bawang merah yang telah dipanen kemudian diikat pada batangnya untuk mempermudah penanganan. Umbi dijemur dibawah sinar matahari langsung selama 1-2 minggu sampai cukup kering. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan alat pengering khusus (oven) sampai mencapai kadar air kurang lebih 80%. Sumber Bacaan : Nani S dan A. Hidayat. 2005. Panduan Teknis Budidaya Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Suwandi. 2014. Budidaya Bawang Merah di Luar Musim. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Wiwin S, dkk. 2007. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.