Padi merupakan komoditas pangan yang penting bagi masyarakat Indonesia karena sebagian besar penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai bahan makanan pokok untuk dikonsumsi. Beras sangat sulit digantikan oleh tanaman lain yang mengandung karbohidrat karena kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi beras. Peningkatkan produktivitas dan produksi padi (beras) harus terus dilakukan untuk menjamin ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi yang sangat penting dilakukan adalah memberikan pupuk anorganik yang berimbang. Pupuk anorganik yang berimbang sangat dibutuhkan tanaman terutama pada saat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dimana pada saat seperti itu kebutuhan akan nutrisi cukup besar. Penggunaan pupuk anorganik juga harus diimbangi dengan penggunaan pupuk organik seperti kotoran sapi. Beberapa alasan dari penggunaan pupuk organik kotoran sapi yaitu bahannya mudah diperoleh, mempunyai kandungan unsur hara Nitrogen yang tinggi, dan merupakan jenis pupuk panas yang artinya adalah pupuk yang penguraiannya dilakukan oleh jasad renik tanah berjalan dengan cepat, sehingga unsur hara yang terkandung di dalam pupuk kandang tersebut dapat dengan cepat dimanfaatkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Kotoran sapi selama ini sudah dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, Namun agar pemanfaatan kotoran sapai lebih baik, perlu dilakukan proses pembuatan pupuk organik melalui pengomposan terlebih dahulu. Proses pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah (<20). Selama proses pengomposan, terjadi perubahan-perubahan unsur kimia yaitu : 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi CO2 dan H2O, 2) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman. Pengolahan kotoran sapi yang mempunyai kandungan N, P dan K yang tinggi sebagai pupuk kompos dapat mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanah serta memperbaiki struktur tanah menjadi lebih baik. Pada tanah yang baik/sehat, kelarutan unsur-unsur anorganik akan meningkat, serta ketersediaan asam amino, zat gula, vitamin dan zat-zat bioaktif hasil dari aktivitas mikroorganisme efektif dalam tanah akan bertambah, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi semakin optimal. Peranan yang sangat penting menggunakan pupuk organik bagi kesuburan tanah, karena pupuk organik pada budidaya tanaman khususnya padi dapat memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologis tanah. Tanah yang memiliki sifat fisik, kimia maupun biologis baik akan memacu pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Semakin banyak menggunakan input dari dalam seperti jerami dan kotoran sapi sebagai pupuk organik serta mengurangi input luar seperti pupuk anorganik, merupakan konsep pertanian berkelanjutan yang sangat dianjurkan saat ini. Pertanian berkelanjutan merupakan salah satu konsep yang tercipta dari buah pikiran manusia bahwa lingkungan tempat manusia berada harus tetap dilestarikan, seiring berkembangnya industrialisasi beserta dampak yang ditimbulkan. Pengkajian yang dilakukan Sukraeni dan kawan-kawan terhadap tanaman padi yang diberi pupuk organik kotoran sapi menunjukkan bahwa pupuk organik kotoran sapi dapat meningkatkan bobot gabah kering panen padi. Masing-masing padi varietas Inpari 16, Inpari 19, Inpari 30 dan Ciherang pada lahan 8 orang anggota kelompok tani di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali tahun 2016, diperlakukan dengan dua kombinasi pupuk yaitu: 1) pupuk Urea sebanyak 200 kg dan pupuk NPK Phonska 200 kg/ha dan 2) pupuk Urea sebanyak 150 kg dan pupuk NPK Phonska 200 kg/ha serta 2 ton pupuk organik kotoran sapi. Secara keseluruhan, pedoman teknologi penanaman padi yang diterapkan adalah komponen teknologi PTT Padi Sawah. Hasil pengkajian mendapati bahwa Varietas padi Inpari 30 menunjukkan jumlah gabah isi per malai (butir) tertinggi dibandingkan dengan Inpari 16, Inpari 19, Ciherang. Masing-masing perbandingan jumlah gabah isi tersebut yaitu: 164,2 : 150,5 : 147,2 : 140,5. Varietas padi Inpari 30 juga menunjukkan jumlah gabah hampa per malai (butir) terendah dibandingkan dengan Inpari 16, Inpari 19, Ciherang. Masing-masing perbandingan jumlah gabah hampa tersebut yaitu: 14,5 : 21,2 : 33,3 : 20,0. Kalau dilihat dari bobot gabah kering panen (t/ha), Varietas Inpari 30 juga menunjukkan bobot tertinggi dibandingkan dengan Inpari 16, Inpari 19, Ciherang. Masing-masing perbandingan bobot tersebut yaitu: 7,9 : 6,8 : 7,1 : 7,2. Penambahan pupuk organik kotoran sapi pada paket pupuk berpengaruh terhadap: 1) jumlah gabah isi per malai (butir), 2) bobot 1.000 butir, dan 3) bobot gabah kering panen (t/ha). Perbandingan paket pupuk anorganik yang ditambah dengan pupuk organik kotoran sapi dibandingkan dengan paket pupuk anorganik saja terhadap: 1) jumlah gabah isi per malai (butir) yaitu: 161,2 : 132,7; 2) Bobot 1.000 butir (gr) yaitu: 27,33 : 25,67; 3) Bobot gabah kering panen (t/ha) yaitu: 7,6 : 6,9 (Ahmad Damiri).