Pangan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia untuk dapat bertahan hidup. Ketersediaan pangan pada suatu wilayah sangat penting peranannya untuk memenuhi permintaan penduduk bagi pertumbuhan, pemeliharaan, dan peningkatan derajat kesehatan serta peningkatan kecerdasan masyarakat. Oleh karena itu ketersediaan pangan merupakan prioritas utama yang harus dipenuhi. Ketahanan pangan juga merupakan salah satu faktor utama dalam pembangunan nasional yaitu untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, mandiri dan sejahtera, yang diwujudkan melalui ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi, beragam, tersebar merata, dan terjangkau oleh masyarakat. Salah satu bahan pangan pokok yang wajib dikonsumsi oleh semua masyarakat adalah sayur dan buah. Konsumsi sayur dan buah diperlukan tubuh sebagai sumber vitamin, mineral dan serat dalam mencapai pola makan sehat sesuai anjuran pedoman gizi seimbang untuk kesehatan yang optimal. Sebagian vitamin dan mineral yang terdapat dalam sayur dan buah mempunyai fungsi sebagai antioksidan sehingga dapat mengurangi kejadian penyakit tidak menular terkait gizi, sebagai dampak dari kelebihan atau kekurangan gizi (Sri dan Hermina 2016). Menurut data BPS dalam Kompas.com, secara nasional konsumsi gabungan buah dan sayur sebesar 209,89 gram per kapita sehari. Jumlah ini masih jauh dari ambang batas yang ditetapkan WHO dan Kemenkes. WHO secara umum menganjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sejumlah 400 gram per orang per hari, yang terdiri dari 250 gram sayur (setara dengan 2 porsi atau 2 gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan) dan 150 gram buah (setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang). Permintaan sayur akan meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi akan berbanding lurus dengan kebutuhan sayur yang tinggi juga. Untuk memenuhi konsumsi sayuran masyarakat tersebut dibutuhkan upaya untuk meningkatkan produksi sayuran secara efisien, efektif, dan berkesinambungan. Salah satu jenis sayur yang memiliki nilai ekonomi menjanjikan dan mempunyai nilai komersil yang cukup tinggi adalah selada. Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu komoditi tanaman hortikultura yang umumnya dikonsumsi mentah atau dijadikan sebagai sayur lalapan, dibuat salad atau disajikan dalam berbagai bentuk masakan. Daunnya mengandung vitamin A, B, dan C yang berguna untuk kesehatan tubuh (Sunarjono, 2007). Tanaman selada memiliki fungsi sebagai zat pembangun tubuh, dengan kandungan zat gizi dan vitamin yang cukup banyak dan baik untuk kesehatan masyarakat. Selada dipercaya memiliki manfaat mencegah penuaan dini, menjaga berat badan, meringankan sembelit, mencegah kanker, meredakan sakit kepala dan mengatasi insomnia. Kandungan zat gizi dalam 100 gram selada adalah kalori 15 kal, protein 1.20 g, lemak 0.2 g, karbohidrat 2.9 g, Ca 22 mg, P 25 mg, Fe 0.5 mg, vitamin A 540 IU, vitamin B 0.04 mg, vitamin C 8 mg dan air 94.80 g. Daun selada kaya akan antioksidan seperti betakarotin, folat dan lutein serta mengandung indol yang berkhasiat melindungi tubuh dari serangan penyakit kanker. Kandungan serat alaminya dapat menjaga kesehatan organ-organ pencernaan. Keragaman zat kimia yang dikandungnya menjadikan selada sebagai tanaman multi khasiat. Selada juga berfungsi sebagai obat pembersih darah, mengatasi batuk, radang kulit, sulit tidur serta gangguan wasir (Supriati dan Herlina, 2014). Selada selain dibudidayakan langsung di lahan terbuka juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi hidroponik. Sistem hidroponik merupakan salah satu cara menghasilkan sayuran yang berkualitas tinggi secara berkelanjutan. Hidroponik adalah teknik budidaya dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanah. Salah satu keuntungan budidaya secara hidroponik adalah lebih mudah budidayanya, tidak memerlukan lahan yang luas, tidak kotor, pemeliharaan sangat muda sehingga bisa lebih efisien. Penyusun; Religius Heryanto (penyuluh BPTP Sulbar) Khairati, Rusda dan Rahmat Syahni 2016. Respon Permintaan Pangan Terhadap Pertambahan Penduduk di Sumatera Barat. Universitas Andalas Padang, Padang. https://money.kompas.com/read/2020/12/15/114340126/survei-bps-orang-ri-kurang makan -sayur-paling- (diakses pada hari senin, 21 november 2022) Sunarjono, H. H. 2007. Bertanam 30 Jenis Sayuran. Penebar Swadaya, Jakarta. 184 hlm. Aditianti, Sri Prihatini dan Hermina, 2016. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Individu Tentang Makanan Beraneka Ragam sebagai Salah Satu Indikator Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 44, No. 2, Juni 2016 : 117 - 126