Dalam usaha peningkatan produksi ternak ruminansia, hijauan pakan ternak memegang peranan yang sangat penting dan menentukan. Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia dan kebutuhannya bisa mencapai kira-kira 95% dari total kebutuhan bahan makanannya. Hijauan pakan ternak diperlukan selain untuk memenuhi kebutuhan hidup ternak, juga untuk berproduksi dan berkembang biak dengan baik. Seiring dengan bertambahnya berat badan, kebutuhan akan hijauan juga akan semakin bertambah. Pengetahuan masyarakat mengenai jenis-jenis pakan, pengolahan pakan serta kebutuhan ternak akan pakan terutama hijauan pakan dinilai masih rendah (Septian et al, 2020). Peternak cenderung mencari pakan di tegalan,dan pesawahan dengan pakan berjenis rumput lapang dimana produksi dan kualitasnya dinilai masih rendah. Hal ini diduga menjadi salah satu penyebab produksi ternak di Indonesia masih rendah. Perubahan musim sangat berpengaruh terhadap ketersediaan hijauan di lapangan. Saat musim kemarau, produksi dan ketersediaannya sangat rendah namun saat musim hujan, ketersediaannya melimpah. Untuk itu perlu disiasati agar pakan hijauan ternak tetap terjamin ketersediaannya sepanjang waktu, baik kualitas maupun kuantitasnya. Dan salah satu sumber pakan hijauan adalah rerumputan. Saat ini mulai banyak pengembangan hijauan pakan ternak yang memiliki potensi produksi dan kualitas yang baik. Beberapa hijauan pakan ternak yang memiliki produktivitas dan kualitas yang baik dan telah dikembangkan para peternak saat ini salah satunya adalah rumput red napier (Pennisetum purpureum cv. red) (Zailan et al, 2016). Red napier merupakan salah satu varietas dari rumput gajah atau napier grass, termasuk ke dalam keluarga Poaceae, genus Pennisetum, spesies purpureum cv Purple (Zhou et al., 2019). Rumput ini memiliki hasil produksi tinggi, membutuhkan iklim yang hangat dan lembab serta karakteristik tanah yang liat untk pertumbuhan yang baik. Red napier telah lama dikembangkan di Malaysia, dan di wilayah timur Ghana. Di Indonesia rumput ini mulai banyak dikembangkan karena memiliki produktivitas dan kandungan nutrient yang baik. Karakteristik rumput ini memiliki bentuk yang mirip dengan rumput gajah pada umumnya, namun memiliki ciri yang lebih spesifik yaitu batang dan daunnya yang berwarna merah atau ungu, lembut, tinggi tanaman hingga 3 meter, rataan jumlah anakan 13,5, umur panen pertama 75-80 HST dan pemotongan berikutnya dengan interval 30-40 hari. Rumput red napier memiliki produktivitas dan kandungan nutrisi yang cukup tinggi sehingga bagus digunakan sebagai pakan ternak. Rataan produksi segar pada umur 7-8 minggu adalah 12,64 ton/ha dengan total produksi bahan kering sebanyak 59,8 ton/ha/tahun (Halim et al. 2013). Kandungan nutrisi red napier terdiri atas : 1) Bahan Kering 12,17 % pada umur panen 35 hari dan 14,33% pada umur panen 42 hari; 2) Protein Kasar (PK) 17,07% pada umur panen 35 hari dan 13,47% pada umur panen 42 hari; 3) Serat Kasar (SK) 31,47 % pada umur panen 35 hari dan 33,20 % pada umur panen 42 hari dan 4) Energi (ME) 9,59 % pada umur panen 35 hari dan 9,00% pada umur panen 42 hari (Haryani, dkk., 2018) Cara penanaman red napier : Olah tanah terlebih dahulu sehingga tanah menjadi gembur Tebarkan pupuk kandang Rendam bibit red napier dalam air (1 malam) Tanam bibit dengan posisi berdiri saat musim hujan dan posisi tidur saat musim panas Siram air jika kondisi kurang basah Tutup bibit yang baru tanam dengan daun-daunan agar tidak terkena sinar matahari secara langsung Penulis : Nuraini, S.Pt., M.Sc (Penyuluh BPSIP Kepulauan Bangka Belitung) Sumber informasi : Disarikan dari berbagai sumber