Loading...

Reformasi Pengelolaan Lahan Kering Untuk Mendukung Swasembada Pangan

Reformasi Pengelolaan Lahan Kering Untuk Mendukung Swasembada Pangan
Kebijakan sentralistik program pembangunan pertanian pada padi sawah selama ini menyebabkan usahatani lahan kering kurang mendapat perhatian. Walaupun pembangunan pertanian lahan kering telah banyak dilaksanakan tetap tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan, dimana penyebabnya antara lain adalah tidak berkembangnya kemandirian masyarakat dan pembinaan yang tidak berkesinambungan. Hal ini menyebabkan system usahatani lahan kering semakin tertinggal. Ketimpangan pengelolaan dan penanganan permasalahan lahan kering antara lain mencakup : 1) Input usahatani konservasi terbatas sehingga memicu degradasi lahan dan menyebabkan produktivitas rendah, 2) Pengelolaan lahan yang tidak dilandasi pengetahuan tentang kesesuaian dan kemampuannya, dan 3) Pertambahan jumlah penduduk sehingga mendorong petani untuk mengusahakan lahan kering berlereng di DAS hulu yang rentan terhadap erosi. Pengelolaan lahan kering perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya semakin meningkat sekaligus mendukung pemantapan ketahanan pangan. Permasalahan utama yang perlu mendapat perhatian khusus pada lahan kering adalah konservasi lahan kering dan kendala produksi. Konservasi lahan kering Multi fungsi pertanian lahan kering perlu dilihat dalam konteks dimensi yang lebih luas, yaitu selain sebagai penyedia bahan pangan juga mempunyai jasa atau manfaat terhadap lingkungan, baik lingkungan biofisik dan kimia maupun sosial-ekonomi (Aguset al.,2003; Yoshida,2001;Eomand Kang,2001; Suh,2001). Sebagai penghasil pertanian, lahan kering berkontribusi dalam ketahanan pangan, penyangga ekonomi, nilai social dan budaya (Irawan et al.,2004). Sebagai penyedia jasa ekosistem/lingkungan, lahan kering berfungsi dalam pengendalian erosi, mitigasi banjir, keanekaragaman hayati dan pendaur ulang bahan organic (Notohadinegoro,2000; Agus et al.,2004). Tanah berkemampuan membersihkan limbah dari bahan atau zat-zat pencemar yang dikandungnya dengan jalan menyaring, menyerap, dan atau mengurai. Dengan demikian tanah berkesanggupan untuk bertindak sebagai factor sanitasi lingkungan hidup (Notohadinegoro, 2000). Kebijakan pembangunan lahan kering yang sebagian besar wilayahnya berlereng >15%, perlu mempertimbangkan multifungsi pertanian dan lingkungan hidup. Kebijakan pembangunan yang tidak memihak kepada pertanian akan mengganggu stabilitas ketahanan pangan, memperburuk kualitas lingkungan, dan berdampak buruk terhadap stabilitas ekonomi, social dan politik (Fagidan Las, 2006). Untuk keterlanjutan perikehidupan dan menjamin kesejahteraannya, manusia tidak mungkin mengabaikan upaya mencegah degradasi berbagai fungsi tanah. Kendala produksi Kendala produksi di lahan kering adalah kondisi fisik lahan (kedalaman tanah relative dangkal, sebagian horizon A atau B hilang tererosi, lereng curam, kekeringan, teknologi (penerapan teknik konservasi yang lemah), dan social ekonomi (ketiadaan modal untuk menerapkan teknologi anjuran dan tiadanya subsidi dan kredit bagi petani pelaksana teknologi konservasi). Agregat dari kendala fisik, teknologi, dan sosial ekonomi tersebut adalah produktivitas lahan rendah. Pemanfaatan Sumberdaya dan Teknologi Curah hujan Pertumbuhan tanaman di lahan kering secara langsung dipengaruhi oleh factor iklim terutama curah hujan. Berbeda dengan padi sawah, yang lingkungan tumbuhnya selalu tergenang air. Dilahan kering sering kali mendapat berbagai tekanan karena kekeringan, keracunan dan kekahatan berbagai unsur-unsur hara, selain gangguan berbagai penyakit dan gulma. Curah hujan dapat dimanfaatkan secara seksama di lahan-lahan kering, lebih baik lagi jika dimanfaatkan secara efisien sehingga dapat mendukung proses produksi tanaman pangan. Pengendalian erosi tanah Pengendalian erosi tanah pada lahan kering dapat dilakukan dengan usahatani konservasi. Penerapan teknik konservasi tanah berperan penting dalam meningkatkan produktivitas lahan, memperbaiki sifat lahan yang rusak, dan upaya- upaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi. Sasaran konservasi tanah adalah meliputi keseluruhan sumberdaya lahan yang merangkum kelestarian tanah dalam meningkatkan kesejahteraan Teknik konservasi tanah secara vegetatif adalah penggunaan tanaman maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran limpas permukaan (run off), peningkatan kadar lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah penggunaan bahan kimia, baik organik maupun anorganik, yang bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dalam menekan laju erosi. Ruslia Atmaja Sumber :Balai Penelitian Tanah Badan Litbang Kementan