Pestisida, semestinya, jadi pilihan terakhir kala memang diperlukan. Dalam PHT, jika pestisida digunakan berlebih, maka tak akan berhasil. Pestisida yang berlebihan sekaligus menghilangkan musuh alami yang jadi keragaman pada ekosistem padi, berupa predator dan parasitoid. Sehingga sangat rasional dan mendesak strategi pengelolaan hama terpadu untuk ekologi lebih berkelanjutan. Salah satunya dengan memanfaatkan tanaman refugia yang ditanam disekililing/sekitar sawah sebagai suaka bagi predator alami. Maksudnya, suaka bagi musuh alami tanaman padi. Musuh alami itu ada tiga jenis, yakni, predator (pemangsa seperti laba-laba, dan capung), parasitoid (serangga yang menghabiskan seluruh atau sebagian hidup berada di inang hama atau serangga lain bahkan bisa mematikan inang) dan patogen (kelompok jamur, virus, bakteri antagonis yang memarasit serangga). Padi menjadi tanaman monokultur sangat rentan terhadap hama dan penyakit. Meski demikian, sebenarnya hama alami dapat dikendalikan dengan musuh alami. Parasitoid memiliki peran sangat besar dalam mengendalikan hama. Meski demikian, pengendali hayati ini perlu dikelola. Ia memerlukan lingkungan biotik dan abiotik optimal dengan menyediakan pakan bagi perkembangan musuh alami. Salah satunya, menyediakan nektar dan polen. Secara naluri, serangga musuh alami sangat menyukai tanaman yang menyediakan makanan bagi dirinya, yakni nektar ataupun polen. Kedua hal ini mampu meningkatkan kebugaran bagi para musuh alami untuk bergerak membasmi si hama tanaman. Siklus hidup parasitoid sangatlah membantu para petani. Ia jadi parasit telur wereng cokelat. Anagrus dan Oligosita merupakan genus dari parasitoid telur dari hama wereng batang coklat yang paling banyak pada ekosistem sawah. Parasitoid adalah serangga yang menghabiskan seluruh atau sebagian hidup pada inang serangga lain atau hama. Parasitoid itu meletakkan telur di tubuh wereng batang cokelat dan mencegah telur menetas atau tak dapat berkembang. Ukuran parasitoid sangat kecil dibandingkan inangnya maupun predator pada ekosistem sawah. Bunga sebagai sumber nektar mampu memberikan akses bagi para parasitoid meningkatkan kebugaran. Dengan peningkatan parasitoid, bisa mencegah wereng batang coklat lahir. Meski begitu, perlu ada syarat kondisi ekosistem sehat, yakni, tak menggunakan pestisida jika tak diperlukan, memiliki keragaman hayati tinggi dan musuh alami banyak serta ada keseimbangan antara herbivora dan musuh alami. Kemunculan Anargus dari telur wereng batang coklat ini lebih banyak ditemukan pada ekosistem yang dilindungi bunga sebagai refugia, dibandingkan ekosistem lain. Penanaman bunga sebagai refugia mampu meningkatkan kelangsungan hidup dan keturunan Anargus, tetapi tak berlaku pada Oligosita di sawah. Singkatnya, dengan penanaman bunga sebagai refugia, populasi parasitoid berhasil jadi dewasa lebih banyak, maka keseimbangan ekosistem akan stabil. Sebaliknya, jika lahan pertanian tanpa bunga, populasi parasitoid yang berhasil dewasa rendah. Keseimbangan ekosistem pun tak stabil dan wereng di alam akan bertambah. (Erlina, SST. Penyuluh Pertanian Nagari Lubuk Basung)