Dewasa ini petani cenderung menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan, berharap serangan OPT segera musnah. Usaha pengendalian hama tersebut semata-mata hanya ditujukan untuk memusnahkan organisme pengganggu tanaman, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah ekologi( keseimbangan dan kestabilan ekosistem). Oleh karena itu cara pengendalian hama semacam ini harus segera ditinggalkan dan beralih ke konsep pengelolaan hama yang berwawasan ekologi (Mahmud T. 2006).PHT menitikberatkan pemanfaatan berbagai teknik pengendalian yang dikombinasikan dalam satu kesatuan program, sehingga dicapai keuntungan ekonomi yang maksimal, dan memberikan dampak yang aman bagi pekerja, konsumen dan lingkungan hidup. Secara prinsip, berbagai cara pengendalian diterapkan harus secara teknis efektif dan dapat diterapkan, secara ekonomi menguntungkan, secara ekologi aman dan secara sosial budaya dapat diterima [Prabaningrum 2015]. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam seperti pemanfaatan tanaman pinggir / tanaman perangkap, dapat mendorong stabilitas ekosistem sehingga populasi hama dapat ditekan dan berada dalam kesetimbangannya. Jenis tanaman pinggir yang dipilih harus mempunyai fungsi ganda yaitu, disamping sebagai penghalang masuknya hama ke pertanaman pokok, juga sebagai tanaman refugia yang berfungsi untuk berlindung sementara dan penyedia tepung sari untuk makanan alternatif predator, jika mangsa utama populasinya rendah atau tidak ada di pertanaman pokok. Teknik bercocok tanam seperti penanaman tanaman pinggir dapat mendorong konservasi musuh alami seperti predator (Mahmud T. 2006). Keberhasilan pengendalian hama pada tanaman secara alami bergantung pada sejauh mana kelestarian dari agroekosistem dan peranan tiap komponen yang ada pada suatu lokasi pertanaman. Salah satu solusi indah yang ditawarkan alam adalah dengan pemanfaatan Tanaman Refugia. Apa itu Tanaman Refugia ? Tanaman Refugia adalah pertanaman beberapa jenis tanaman yang dapat menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan atau sumberdaya yang lain bagi musuh alami seperti predator dan parasitoid (Nentwig, 1998; Wratten et al., 1998). Umumnya tanaman refugia ditanam di pinggir guludan atau diluar pertanaman secara memanjang dan berbunga mencolok. Serangga-serangga musuh alami seperti kumbang, lebah, semut, dan serangga hama seperti thrips, kupu-kupu sangat tertarik dengan tanaman yang berbunga dengan warna mencolok serta berbau. Jenis tanaman Refugia Prinsip dari tanaman untuk refugia adalah tanaman tersebut bisa menarik dan menjadi tempat hidup serta sumber kehidupan bagi Musuh Alami hama. 1) Refugia penghasil sayuran (Kacang panjang, kacang tunggak, kecipir, oyong) 2) Refugia penghasil bunga; (bunga matahari, kenikir, bunga kertas, bunga tagetes, Arachis) 3) Refugia tanaman liar (tapak dara, Sidaguri, tanaman jengger ayam, orok-orok) Syarat Menanam Tanaman Refugia Pilih tanaman yang memiliki bunga dan warna yang mencolok, Regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan, Benih atau Bibit mudah diperoleh, Mudah ditanam Dapat ditumpang sarikan dengan tanaman pematang lain. Bunga tanaman Refugia berwarna terang dan menghasilkan nektar yang bermanfaat sebagai sumber pakan musuh alami. Selain itu, refugia juga berfungsi sebagai habitat dari musuh alami. Dengan adanya pertanaman refugia, kemampuan musuh alami dalam menekan hama dapat meningkat. Dengan demikian pemakaian pestisida berlebihan dapat dikurangi. Sebagai contoh Predator seperti capung, semut, tomcat/Phaederus, kepik, kumbang koksi, dan laba-laba akan memangsa hama padi. Berbeda dengan predator, parasitoid yaitu serangga yang hidup menumpang pada serangga lain. Parasitoid melumpuhkan hama dengan cara meletakkan telurnya pada telur atau ulat hama padi, sehingga hama tidak berkembang/mati. Teknik Penanaman Refugia Waktu penanaman refugia pada pertanaman padi diusahakan saat pembuatan guludan selesai, dengan menanam refugia pada pinggiran guludan atau tanah kosong disekitar sawah. Pada saat tanaman padi baru mulai tumbuh, refugia sudah berbunga, sehingga dapat menyediakan makanan untuk musuh alami hama dan padi dapat terhindar dari beberapa hama tanaman. Penanaman refugia diusahakan berjajar memanjang di luar area tanaman pokok dan tidak terlalu rimbun karena dikhawatirkan dapat mengundang hama tikus. Jangan terlalu dekat dengan komoditas utama agar tidak berebut unsur hara dan air. Selain itu, penyemprotan hanya saat populasi hama sudah tinggi. Diharapkan agar serangga menguntungkan yang sudah ada di lahan tidak ikut terbunuh saat penyemprotan. Hanya yang kita perlukan adalah mencari benih bunga untuk melakukan penanaman tersebut, untuk proses penanaman bisa di lakukan pada saat penanaman padi awal sehingga tinggi tanaman dan umur tanaman dengan padi dan bunga tersebut bisa berimbang dan pada saat padi mulai tumbuh dewasa bunga-bunga dari tanaman Refugia mulai mekar dan itulah yang dibutuhkan untuk menarik semua jenis - jenis serangga yang bisa mematikan hama yang menggagu tanaman padi tersebut. Pemanfaatan tanaman refugia sebagai mikro habitat serangga hama dan musuh - musuh alami dapat diterapkan di lahan persawahan maupun lahan sayuran untuk mengendalikan hama secara almiah. Penanaman refugia akan mengurangi biaya usaha tani untuk pengendalian hama sehingga keuntungan petani dapat meningkat dan lingkungan terjaga secara berimbang. Selain menjaga keseimbangan lingkungan juga dapat menyejukkan mata manakala lahan pertanian yang subur dengan dikelilingi tanaman bunga yang mekar. Daftar Pustaka Yayan Suryana, S.ST http://sumsel.litbang.pertanian.go.id/BPTPSUMSEL /berita refugia.html#ixzz5lESi8iE0 https://www.biodiversitywarriors.org/bunga-sidaguri-sida-sp.html https://www.kompasiana.com/isni_candra/5a1d5e02888adf7df1020422/refugia-melawan-hama-dengan-tanaman-hias Alfa Aliffia Pradikta SP. http://bbppketindan.bppsdmp.pertanian.go.id/blog /refugia-sebagai-alternatif-pengendalian-alami-organisme-pengganggu-tumbuhan-opt