Loading...

REJEKI MULAI MENYEMUT BERKAT GULA SEMUT

REJEKI MULAI MENYEMUT BERKAT GULA SEMUT
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 9 tahun 2011, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Cilacap Tahun 2011-2031, cakupan luas komoditas tanaman kelapa seluas kurang lebih 49.159 (empat puluh sembilan ribu seratus lima puluh sembilan) hektar tersebar di seluruh wilayah Kecamatan di Kabupaten Cilacap. Produksi gula kelapa di wilayah ini baru mencapai 48.802,51 ton. berasal dari areal pohon kelapa seluas 5.261,5 hektar yang tersebar di sejumlah sentra gula kelapa berada di Kecamatan Jeruklegi, Kesugihan dan Bantarsari. Sisanya menyebar pada hampir semua kecamatan. (Dishutbun Cilacap) Berbeda dengan para pengrajin gula merah atau gula kelapa (gula Jawa, red) di Kabupaten Cilacap yang sebagian masih menggunakan bahan kimia Natrium metabisulfin saat menyadap nira, agar bahan yang akan dibuat gula tersebut tidak mudah terfermentasi, pengrajin gula kelapa di Desa Jambusari justru telah mengembangkan produksi gula kelapa alamiah, tidak mrngunakan bahan kimia tapi kembali ke alam dengan menggunakan tatal (serpihan kayu, red) pohon nangka atau kulit manggis dicampur air kapur sirih atau enjet. Sebut saja Kelompok Pengrajin Gula Kelapa MANGGAR SARI MAKMUR yang sejak awal tahun 2013 ini sudah menggunakan tatal pohon nangka, kulit manggis dan enjet sebagai laru. Menurut Ketua Kelompok Pengrajin Gula Kelapa MANGGAR SARI MAKMUR, Sumarjo Jasam. Kelompoknya yang beranggotakan 10 orang keseluruhan sudah menggunakan laru alami, seperti yang disuluhkan oleh penyuluh dari Balai Penyuluhan Kecamatan Jeruklegi. Bahkan sejalan dengan perkembangan inovasi teknologi, pengrajin gula kelapa yang tergabung dalam kelompok MANGGAR SARI MAKMUR sudah mulai memproduksi Gula Kristal atau yang dikenal dengan Gula Semut. Hal senada diakui Sekretaris Kelompok Pengrajin Gula Kelapa MANGGAR SARI MAKMUR desa Jambusari, Irawan yang menyatakan, produksi gula semut masih didasarkan pada pesanan konsumen yang berkisar 200 kilogram setiap bulannya, jauh lebih kecil dibanding dengan produksi gula merah berbentuk koin yang dapat mencapai 2 ton dalam 1 hari. Menurut Penyuluh Balai Penyuluhan Kecamatan Jeruklegi, Mohammad Imam Arifin,SP, pengrajin gula semut yang tergabung dalam kelompok MANGGAR SARI MAKMUR masih terkendala dalam menurunkan tingkat rendemen dari 5 persen yang diproduksi petani menjadi 1,6 persen yang diinginkan pasar. Untuk mendapatkan rendemen sebesar 1,6 persen, pengrajin melakukan pengeringan dengan cara menjemur pada terik matahari secara alami, sehingga memerlukan waktu yang relatif lama. Meskipun produksi relatif masih kecil, namun pengrajin dapat menikmati selisih harga jual dari 9 ribu rupiah (gula merah cetakan koin) menjadi 12 ribu rupiah (gula semut 2 persen) dan 14 ribu rupiah (gula Semut 1,6 persen). "Saya yakin jika menggunakan alat semacam oven atau sejenisnya, pasti pengrajin akan mampu berproduksi lebih besar lagi dan tidak lagi bergantung pada pesanan, " ujar Iman Arifin . Gula semut yang dalam pasaran dunia disebut dengan palm sugar atau palm zuiker. Hasil olahan nira pohon aren, atau air kelapa ini diyakini lebih sehat ketimbang gula tebu. Gula semut merupakan gula merah versi bubuk dan sering pula disebut orang sebagai gula kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yg bersarang di tanah. Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah nira dari pohon kelapa atau pohon aren (enau), hanya dalam proses pembuatannya sedikit berbeda. Kalau gula kelapa dalam proses akhirnya dimasukkan dalam suatu cetakan tertentu sehingga akan terbentuk sesuai cetakannya sedangkan untuk gula semut tetap dibiarkan dan diaduk terus sampai masak, hingga berbentuk butiran-butiran (granula) halus seperti gula pasir tetapi berwarna coklat. Karena pohon aren dan pohon kelapa masuk jenis tumbuhan palmae (palem-paleman) maka dalam bahasa asing, secara umum gula semut hanya disebut sebagai palm sugaratau palm zuiker. (ap)