Loading...

Rekomendasi Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu untuk Semua Agroekosistem Tanaman Padi

Rekomendasi Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu untuk Semua Agroekosistem Tanaman Padi
Mewujudkan kedaulatan pangan merupakan upaya pemerintah yang tiada henti yang dilakukan melalui peningkatan produksi padi dengan strateginya adalah peningkatan produktivitas melalui intensifikasi dan perluasan areal tanam. Namun beberapa permasalahan masih ditemukan dalam usaha peningkatan produksi ini salah satunya adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Serangan hama dan penyakit ini menyebabkan turunnya produksi dan cenderung menyebabkan petani gagal panen. Namun Pemerintah optimis upaya untuk mewujudkan kedaulatan pangan ini akan terealisasi dikarenakan tersedianya berbagai inovasi dan teknologi hasil penelitian terutama yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dalam pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi. Rekomendasi pengendalian hama dan penyakit oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi pada berbagai ekosistem. Tikus Tikus merupakan hama utama penyebab kerusakan padi di Indonesia. Serangan tikus sawah bisa terjadi sejak persemaian hingga panen, pengendaliannyapun relatif sulit dilakukan karena perkembanganbiakan dan mobilitas tikus yang cepat. Pada saat persemaian satu ekor tikus mampu merusak sampai 283 tan/malam dengan cara benih dimakan atau dicabut. Pada stadia anakan dan anakan maksimal, satu ekor tikus dapat memakan titik tumbuh dan pangkal batang yang lunak 11 – 176 tunas/malam, sedangkan pada stadia malai, malai di potong dan satu ekor tikus mengkonsumsi beberapa bulir gabah 12 malai/malam. Hama tikus banyak dijumpai pada budidaya padi terutama pada lahan rawa dan irigasi. Rekomendasi pengendalian dapat dilakukan dengan cara pemasangan LTBS (Linear Trap Barrier System) dan TBS (Trap Barrier System). LTBS berupa bentangan plastik/terpal setinggi 60-70 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu setiap 1 meter, dipasang bubu perangkap setiap 20 meter berselang-seling arah corong masuknya dipasang di antara habitat tikus dengan sawah atau memotong arah migrasi tikus. TBS terdiri atas (i) tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus, yaitu petak padi 25 m x 25 m yang ditanam 3 minggu lebih awal, (ii) pagar plastik untuk mengarahkan tikus agar masuk perangkap, berupa plastik/terpal setinggi 70-80 cm, ditegakkan ajir bambu setiap 1 meter dan ujung bawahnya terendam air, (iii) bubu perangkap untuk menangkap dan menampung tikus, berupa perangkap dari ram kawat 20cm x 20cm x 40cm dipasang pada setiap sisi TBS. Wereng Coklat Wereng coklat banyak menyerang pada pertanaman padi dilahan tadah hujan, lahan irigasi dan lahan rawa. Rekomendasi pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan menggunakan varietas tanaman padi yang tahan wereng coklat untuk menekan perkembangan populasi, varietas tersebut antara lain Inpari 19, Inpari 13, Inpari 33, Inpari 42 Agritan GSR. Tindakan pengendalian selanjutnya dapat dilakukan monitoring pada pertanaman paling lambat 2 minggu sekali untuk mengetahui tingkat predator dan hamanya supaya tetap seimbang. Bila perkembangan hama wereng terus meningkat dan populasi hama masih dibawah ambang ekonomi maka pengendaliannya dapat menggunakan insektisida botani atau jamur (Metahhizium annisopliae atau Beauveria bassiana), namun bila populasi hama di atas ambang ekonomi gunakan insektisida kimiawi yang direkomendasikan dengan bahan aktif triflumezopyrim yang diulang setiap 20 hari, pymetrozin juga yang diulang setiap 2 minggu dan juga insektisida bahan aktif dinotefuran yang diulang setiap 7 hari. Tindakan pengendalian diulang jika populasi hama masih di atas ambang kendali (>10 ekor/rumpun). Tindakan pengendalian juga bisa dilakukan dengan menanam tanaman refugia seperti bunga pukul empat atau kenikir juga dilakukan pemasangan perangkap lampu dengan lampu merkuri 150 watt. Penggerek Batang Padi Penggerek batang padi merupakan hama yang dapat menyerang semua stadium pertumbuhan tanaman padi. Serangan pada stadium vegetatif menyebabkan kematian anakan (tiller) muda yang disebut sundep (deadhearts), serangan pada stadium generatif menyebabkan malai tampak putih dan hampa yang disebut beluk (whiteheads). Hama penggerek batang padi banyak menyerang pada tanaman padi di lahan rawa, lahan kering maupun irigasi. Teknik Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain pengendalian teknis, pengendalian mekanik, pengendalian fisik, pengendalian secara hayati, dan pengendalian secara kimiawi. Pengendalian secara teknis dengan cara tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi, rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama, pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi, dan dengan memasang perangkap lampu. Setelah 15 hari dari puncak penerbangan ngengat generasi pertama dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya. Pengendalian juga bisa dilakukan dengan menggunakan pengendalian lokal contohnya dengan penanaman purun tikus Eliocharis dulcis untuk mengendalikan penggerek padi, dilahan rawa tanah dan air masam. Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan kelompok telur di persemaian dan di pertanaman. Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan cara penyabitan tanaman serendah mungkin, penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati (PB putih). Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami parasitoid Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias setara 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida. Pengamatan dengan melihat pada saat 4 hari setelah ada penerbangan ngengat atau intensitas serangan rata-rata > 5% sundep. Pengendalian dengan menggunakan insektisida butiran dengan dosis pada stadium vegetatif dosis 20 kg insektisida granule/ha dengan bahan aktif karbofuran dan fipronil. Pada stadia padi generatif aplikasikan dengan insektisida yang disemprotkan (cair) dengan bahan aktif klorantraniliprol, rynaxypir, fipronil, dimehipo. Walang Sangit Hama walang sangit banyak ditemukan di pertanaman padi pada lahan rawa, lahan kering dan irigasi. Serangan walang sangit dapat menurunkan hasil 10-40%, tetapi pada serangan yang berat akibat populasi yang tinggi dapat menurunkan hasil sampai 100% atau puso, serangan walang sangit ini juga dapat terjadi pada tanaman padi yang terlambat tanam. Walang sangit dalam aktivitasnya mengisap bulir padi selama 24 jam, tetapi waktu aktivitas yang paling banyak pada pukul 5 sampai 9 pagi dan pukul 3 sore sampai jam 7 malam. Teknik pengendalian dapat dilakukan dengan cara tanam serempak (kultur teknis). Walang sangit sangat tertarik pada aroma yang berbau tajam seperti bau bangkai binatang, bangkai kepiting,keong mas, ikan, kotoran ayam atau daging busuk. Aroma bau tersebut akan memikat hama walang sangit untuk mendekatinya. Pembuatan perangkap dapat dilakukan dengan dipasang pada saat tanaman padi memasuki fase berbunga sampai masak susu. Pengunaan insektisida anjuran dapat dilakukan dengan insektisida berbahan aktif fipronil, BPMC dan MIPC. Penyemprotan insektisida sebaiknya dilakukan ketika hama walang sangit aktif yaitu pada pagi hari dan sore hari. Pelipat daun Hama pelipat daun banyak menyerang pada pertanaman padi di lahan rawa, lahan kering dan irigasi. Ulat-ulat yang baru menetas mengeluarkan benang untuk melipat daun. Ulat hidup dalam lipatan daun dan makan bagian dalam lipatan. Bila populasi ulat tinggi maka akan terjadi kerusakan yang cukup tinggi sehingga dapat menurunkan produksi padi. Rekomendasi pengendalian dapat dilakukan dengan cara tanam serempak, pemanfaatan musuh alami (parasitoid, predator) dan penggunaan insektisida (bahan aktif fipronil) bila telah mencapai AP 25%. Blas Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Jamur ini dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Penyakit blas banyak menyerang pada pertanaman padi dilahan rawa, lahan kering dan irigasi. Rekomendasi pengendalian dengan cara menanam varietas yang tahan terhadap serangan blas antara lain Inpari 21 batipuah, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpago 4, Inpago 5, inpago 6, Inpago 7 dan Inpago 8. Perlakuan sanitasi sisa tanaman juga diperlukan, tidak menanam benih dari daerah pandemis dan perlakuan benih/seed treatmen (Isoprotiolane). Mengurangi serangan blas juga dilakukan dengan tidak memupuk N secara berlebihan, aplikasi pupuk K, aplikasi fungsisida berbahan aktif isoprotiolane pada anakan maksimum dan bunting/awal berbunga. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan jarak tanam tidak terlalu rapat, pengairan berselang (intermitten) dan dapat juga dilakukan dengan aplikasi fungisida bahan aktif isofrotiolan/trisiklazol. Hawar daun bakteri Penyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit utama tanaman padi, penyakit disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Patogen ini dapat mengenfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit (patogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lobang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generatif mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna. Penyakit ini dapat menyerang pada pertanaman padi dilahan rawa, lahan kering dan irigasi. Rekomendasi pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas padi tahan yang sesuai dengan keberadaan patotipe patogen HDB (Conde, Angke, Inpari 4, Inpari 5 Merawu, Inpari 6 jete, Inpari 11, Inpari 17, Inpari 25 Opak jaya, Inpari 31, Inpari 32 HDB). Pemupukan dilakukan sesuai kebutuhan tanaman, pupuk N tidak berlebihan dan penggunaan pupuk K. Pengaturan jarak tanam juga tidak terlalu rapat (jajar legowo), bibit juga tidak dipotong dan dengan pengairan berselang (intermitten). Usahakan juga aplikasi bakterisida pada keparahan penyakit Virus Tungro Penyakit tungro merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi karena memiliki potensi menyebabkan kerusakan yang cukup tinggi. Gejala berat yang ditimbulkan adalah tanaman tampak kerdil, anakan sedikit, terjadi diskolorasi daun yang bergradasi dari kuning hingga jingga, pertumbuhan akar terhambat, dan menghasilkan bulir gabah kecil dan kosong. Serangan Virus tungro banyak ditemukan pada lahan rawa, tadah hujan dan irigasi. Rekomendasi pengendalian dapat menggunakan varietas yang tahan antara lain Inpari 7 Lanrang, Inpari 8 dan Inpari 9 Elo. Wereng hijau merupakan vektor pembawa yang harus dikendalikan. Penanaman serentak minimal 50 ha juga merupakan salah satu langkah pengendalian, menghilangkan sumber inokulum sebelum tanam, eradikasi singgang dan deteksi awal, pergiliran varietas dan pengamatan/monitoring keberadaan penyakit perlu dilakukan. Tindakan pengendalain dapat juga dilakukan dengan aplikasi insektisida (bahan aktif imidaklaprid atau pymetrozine) Sumber Bacaan : BB Padi. Rekomendasi Budidaya Padi pada Berbagai Agroekosistem. 2020. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sukamandi.