Loading...

Rekomendasi peningkatan pH tanah pada lahan semangka

Rekomendasi peningkatan pH tanah pada lahan semangka

Demonstrasi cara pengukuran pH tanah dan unsur N,P,K dapat dilakukan menggunakan perangkat uji tanah kering. Pengambilan sampel langsung dilakukan di lahan dengan titik tanaman yang mengalami ketidakseragaman pertumbuhan di Kecamatan Bunga Mayang. Berdasarkan hasil uji tanah pada parameter pH tanah, larutan uji tanah yang dibandingkan dengan tabel coloring menunjukkan pH tanah dengan kategori agak masam (pH 5-6). Nitrogen (N) tanah, larutan uji tanah yang dibandingkan dengan tabel coloring menunjukkan kandungan N yang cukup tinggi karena petani baru melakukan pemupukan. Pada unsur Phospor (P) tanah, larutan uji tanah yang dibandingkan dengan tabel coloring menunjukkan kandungan P yang tinggi. Pada unsur Kalium (K) tanah, larutan uji tanah yang dibandingkan dengan tabel coloring menunjukkan kandungan K yang rendah. Hal ini menunjukkan perlunya penambahan kapur untuk memaksimalkan serapan unsur hara seperti P dan K pada tanaman dan mengurangi sifat masam pada tanah.

Pengapuran merupakan salah satu langkah penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan kesuburan tanah masam. Dengan penambahan kapur yang optimal, status pH tanah menjadi lebih baik, kapasitas tukar kation (KTK) meningkat, serta ketersediaan unsur hara esensial dapat lebih dimanfaatkan oleh tanaman. Hal ini berdampak pada meningkatnya produktivitas tanaman, termasuk semangka. Salah satu jenis kapur yang banyak digunakan adalah dolomit. Dolomit merupakan mineral kapur yang berasal dari endapan mineral sekunder dengan kandungan utama unsur kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk kimia CaMg(CO₃)₂. Selain menambah unsur Ca dan Mg, dolomit juga mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara lain seperti fosfor, nitrogen, kalium, dan memperbaiki sifat fisik tanah.

Beberapa faktor memengaruhi efektivitas pengapuran, di antaranya zonasi lahan berdasarkan riwayat pengelolaan, tekstur, jenis tanah, serta topografi yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel tanah. Selain itu, tingkat ambang pH berbeda untuk berbagai jenis tanaman, praktik pengapuran juga perlu disesuaikan dengan kondisi tanah olahan, dan sering kali dibutuhkan waktu hingga 10 tahun setelah pengapuran untuk melihat perbaikan tanah yang signifikan. Biaya kapur juga harus diperhitungkan, terutama terkait dengan nilai ECCC (Effective Calcium Carbonate Content) dibandingkan dengan bahan pengapuran lain.

Aplikasi kapur sendiri membutuhkan waktu agar dapat menetralkan keasaman tanah. Umumnya dibutuhkan waktu hingga enam bulan sebelum pH benar-benar stabil, meski partikel kapur yang lebih halus dapat bekerja lebih cepat. Untuk efek maksimal, dibutuhkan waktu hingga tiga tahun. Rekomendasi pengapuran biasanya ditujukan untuk mencapai pH target di kisaran 6 hingga 7, tergantung pada jenis tanaman. Pada tanaman semangka, pH tanah netral hingga agak basa menjadi kondisi optimal bagi pertumbuhan dan produktivitasnya. Oleh karena itu, pengapuran menjadi salah satu rekomendasi utama dalam peningkatan pH tanah pada lahan semangka agar hasil yang diperoleh lebih maksimal (Lia Agustin_Penyuluh Pertanian Ahli Pertama_BPP Kecamatan Bunga Mayang).