Rembug Tani BPP Limbangan
Rembug Tani Sekolah Lapang (RTSL) adalah forum musyawarah petani yang menjadi bagian dari program Sekolah Lapang (SL), di mana petani belajar langsung di lahan (field learning) tentang teknik pertanian baru (misal: organik, jajar legowo, irigasi) secara partisipatif untuk meningkatkan produktivitas, memecahkan masalah usahatani, dan merencanakan kegiatan bersama dengan pendampingan penyuluh, menghasilkan kesepakatan dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) praktis di lapangan
Rembug Tani Sekolah Lapang (SL) yang di laksanakan di BPP Limbangan Di hadiri oleh Muspika kecamatan BL. Limbangan, para Gapoktan dari 14 desa dan perwakilan pengurus poktan se kecamatan BL. Limbangan juga hadir pelaku usaha dari PT. Roda Bumi Nusantara (RBN). Mengedepankan tentang kegiatan sekolah lapang (SL) dari mulai Penentuan kelompok tani yang akan melaksanakan sekolah lapang, menentukan tempat Demplot sebagai Laboratorium Lapangan dan penentuan di mulainya kegiatan tersebut. Dalam rembug tani tersebut para petani bermusyawarah untuk terselenggaranya kegiatan tersebut agar berjalan dengan lancar sampai berakhirnya kegiatan tersebut.
Selain itu, dalam kegiatan rembug tani juga di bahas permasalah petani yang terjadi di musim ini :
1. Perubahan iklim yang mengancam kerawanan pangan : adanya perubahan iklim yang ekstrim berpengaruh pada kondisi pertanaman padi yang di sebabkan oleh adanya serangan hama yang semakin meningkat terutama serangan hama tikus. Hasil dari rembug antara lain : sebelum penanaman padi berikutnya di adaan dulu gropyokan hama tikus secara berkala, sanitasi lingkungan di perbaiki pematang sawah dan di bersihkan. Di persemaian dilakukan pemagaran menggunakan seng atau plastik.
2. Penentuan Varietas yang sesuai dengan kondisi iklim sekarang, untuk demplot di usahakan untuk mencari varietas yang tahan terhadap hama dan penyakit yang sesuai dengan kondisi iklim sekarang
3. Pupuk bersubsidi, permasalahannya masih banyak petani yang terdaftar di E RDKK pupuk bersubsidi tidak melakukan penebusan pupuk ke kios resmi sehingga kuota pupuk banyak yang tersisa atau tidak tertebus, Solusi yang di lakukan yaitu Kerjasama dengan pengurus kelompok tani untuk mendata ulang dan menanyakan permasalahan pupuk tidak tertebus sehingga ada kejelasan.
Dari permasalahan tersebut, berdasarkan hasil diskusi di sepakati bahwa semua peserta SL akan mengikuti jadwal kegiatan pertanaman padi yang telah di tentukan. Dan melaksanakan pengendalian Hama tikus dengan cara gropyokan di kelompoknya masing masing. Pendataan ulang petani akan di laksanakan sebelum pengajuan E RDKK tahun 2026 di laksanakan. Penyuluh pertanian lapangan akan segera menindaklanjuti dengan pendampingan intensif dan pembentukan Tim kecil untuk memantau penebusan pupuk bersubsidi. Seluruh peserta berkomitmen untuk menjalankan kesepakatan demi mencapai tujuan Bersama yaitu peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.
Penulis : Ela Nurlaela, SP