Loading...

REVOLUSI BAWANG MERAH : HEMAT BIAYA DENGAN TSS (TRUE SHALLOT SEED)

REVOLUSI BAWANG MERAH : HEMAT BIAYA DENGAN TSS (TRUE SHALLOT SEED)

Salah satu tantangan utama dalam budidaya bawang merah di Indonesia adalah tingginya proporsi biaya benih (umbi) terhadap total biaya produksi. Banyak laporan menyebut bahwa pengadaan benih umbi bisa menyerap antara 40 % hingga 60 % dari seluruh biaya produksi. Ketika harga jual bawang merah di pasar jatuh, margin keuntungan petani bisa sangat tipis atau bahkan mengalami kerugian.

Menurut laporan Trubus, jika harga umbi bibit bawang merah berada di kisaran Rp 35.000 per kilogram, maka biaya pembelian umbi untuk satu hektar bisa mencapai ± Rp 52,5 juta, sedangkan bila menggunakan benih biji (TSS), biaya material tanam sekitar Rp 24,4 juta — artinya terjadi penghematan lebih dari 50 % [1]. 

Sumber lain menyebut bahwa dalam sistem konvensional, satu hektar lahan bawang merah membutuhkan sekitar 1,5 ton umbi benih dengan biaya mencapai kurang lebih Rp 45 juta [2]. . Sementara itu, jika menggunakan benih biji, hanya diperlukan sekitar 5 kg benih dengan biaya ± Rp 10 juta pada satu hektar lahan [3]. 

Dari sisi harga umbi bibit, laporan Tabloid Sinartani menyebut bahwa harga benih umbi, khususnya varietas unggulan (misalnya Bima Brebes), bisa melampaui Rp 70.000 per kilogram [4].  Ketika harga benih naik seperti itu, banyak petani mengeluhkan bahwa biaya produksi menjadi tidak efisien atau bahkan menyebabkan mereka memilih untuk tidak menanam bawang merah sama sekali.

Selain itu, ada laporan dari daerah pegunungan atau daerah terpencil: misalnya di Gunungkidul, dikatakan bahwa untuk 1 hektar lahan dibutuhkan minimal 1.000 kg benih umbi, dan pada harga sekitar Rp 53.000 per kg berarti petani harus menanggung beban benih yang sangat tinggi [5] 

Dengan realitas itu, muncul kebutuhan mendesak bagi teknologi benih alternatif yang lebih efisien — dan salah satu solusi yang makin disorot adalah penggunaan True Shallot Seed (TSS)

Keunggulan TSS dibandingkan dengan Benih Umbi

Definisi dan Konsep TSS

True Shallot Seed (TSS) adalah benih bawang merah dalam bentuk biji, bukan dalam bentuk umbi. Ketika biji ini disemai dan tumbuh, akan menghasilkan tanaman bawang merah yang kelak membentuk umbi. Dengan demikian, benih berasal dari proses generatif (biji) — bukan vegetatif (umbi). Beberapa studi menyebutkan bahwa penggunaan TSS sebagai sumber benih dapat menggantikan sebagian besar ketergantungan pada umbi bibit konvensional [6]. 

Hemat Biaya Benih

Salah satu keunggulan paling menonjol dari TSS adalah efisiensi biaya benih. Sebagaimana contoh yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya, penggunaan TSS dapat memangkas biaya material tanam hingga lebih dari 50 % [2].  Karena benih biji jauh lebih ringan dan kompak dibanding umbi, biaya transportasi dan penyimpanan pun bisa ditekan. Selain itu, benih biji dapat disimpan dalam jangka waktu lebih lama (hingga dua tahun), sementara umbi bibit umumnya hanya bisa disimpan beberapa bulan (2–4 bulan) sebelum kehilangan daya tumbuh atau terserang penyakit [3]. 

Bebas dari Penyakit Tular Umbi (Misalnya Moler)

Benih umbi konvensional kerap membawa penyakit tular seperti virus, jamur, dan patogen lain yang melekat pada jaringan umbi. Salah satu penyakit yang sering muncul adalah penyakit moler (serangan patogen pada bagian ujung akar/umbian). Karena TSS berasal dari biji, maka risiko membawa patogen dari generasi sebelumnya jauh lebih rendah. Dengan demikian, tanaman yang berasal dari TSS cenderung lebih sehat sejak awal [7]. 

Seragam dan Umbi Berkualitas

Penelitian menunjukkan bahwa tanaman bawang merah yang berasal dari TSS cenderung menghasilkan umbi yang berukuran lebih seragam dan kualitasnya lebih baik [8].   Selain itu, karena TSS menghasilkan tanaman yang sehat tanpa beban penyakit benih dari generasi sebelumnya, potensi pertumbuhan dan hasil panen bisa lebih optimal [8]. ( Beberapa studi melaporkan bahwa penggunaan TSS dapat meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat dibandingkan benih umbi di kondisi tertentu [8]. Teknologi TSS juga memungkinkan mutu benih yang lebih stabil dari musim ke musim karena pengendalian genetik dan sanitasi lebih baik [9]. Ketahanan Penyimpanan Umbi Lebih Baik

Karena tanaman berasal dari benih yang lebih bersih dan sehat, umbi yang dihasilkan cenderung tahan disimpan lebih lama dengan kerusakan yang relatif rendah dibanding umbi benih konvensional. Selain itu, saat penyimpanan, umbi yang berasal dari sistem benih sehat cenderung lebih awet dan mengalami kerusakan minimal karena sifat fisik dan fisiologis yang lebih baik. Meskipun data kuantitatif perbandingan keawetan penyimpanan spesifik antara umbi dari TSS vs umbi bibit tradisional tidak banyak tersedia dalam literatur umum, konsep ini banyak dikemukakan sebagai salah satu keunggulan TSS dalam literatur budidaya [2].  

Dengan semua keunggulan itu — hemat biaya, bebas penyakit benih, keseragaman dan kualitas umbi, serta ketahanan penyimpanan — TSS menawarkan potensi revolusi dalam sistem benih bawang merah tradisional.

Teknik Persemaian TSS: Panduan Langkah demi Langkah

Agar penggunaan TSS berhasil secara praktis, perlu diterapkan teknik persemaian yang baik. Berikut adalah panduan langkah demi langkah yang umum direkomendasikan berdasar literatur teknis dan penelitian tentang TSS:

1. Persiapan Media Semai

  • Media semai ideal biasanya berupa campuran tanah halus (tanah taman atau tanah hitam), kompos atau pupuk kandang matang, serta pasir atau sekam bakar untuk memperbaiki drainase. Komposisi umum misalnya: 1 bagian tanah : 1 bagian kompos : 1 bagian pasir/sekam [10]. 
  • Media harus steril atau setidaknya disanitasi terlebih dahulu (misalnya dengan pengeringan di bawah sinar matahari atau pengeringan oven kecil) untuk meminimalkan patogen tanah.
  • Pastikan media gembur dan memiliki retensi air yang cukup, tetapi tidak tergenang.

2. Sanitasi dan Penanganan Benih

  • Benih TSS harus disortir, menghilangkan biji yang cacat, lecet, atau retak.
  • Bila memungkinkan, benih dapat melalui perlakuan benih (misalnya pelapis fungisida atau disinfektan ringan) sesuai rekomendasi teknis tanaman bawang merah, untuk mencegah serangan awal jamur atau patogen semai.
  • Pastikan alat semai bersih, tray semai, nampan, bambu pembatas, dibersihkan dan disterilkan (misalnya dengan larutan natrium hipoklorit ringan) sebelum digunakan.

3. Penyemaian Benih

  • Biji TSS ditabur atau ditebar tipis di atas permukaan media semai, kemudian ditutup tipis dengan media halus (misalnya 0,5 cm atau sebagian kecil media).
  • Alternatif lain adalah membuat alur tipis (setinggi 0,5 cm) dan menabur biji di dalamnya, kemudian menutup kembali dengan bubuk media tipis.
  • Jarak antara baris atau alur semai dan ukuran bedengan disesuaikan agar memudahkan penyiraman dan perawatan.
  • Setelah penaburan, semprot lembut permukaan media agar kelembapan merata tanpa membasahi terlalu dalam.

4. Pemeliharaan Persemaian

  • Letakkan persemaian di tempat teduh atau rumah kaca semi-transparan, untuk melindungi dari sinar matahari langsung yang terik sekaligus menjaga kelembapan.
  • Siram secara berkala dengan air halus (menggunakan sprayer) agar media tetap lembap, tetapi hindari genangan.
  • Pastikan ventilasi cukup agar kelembapan tidak terlalu tinggi (risiko jamur).
  • Lakukan pengendalian gulma, pemantauan hama/penyakit dan ventilasi tambahan bila kelembapan meningkat tinggi.

5. Umur Semai dan Kesiapan Transplanting

  • Berdasarkan penelitian, umur bibit TSS yang optimal untuk pemindahan (transplanting) umumnya sekitar 4–6 minggu setelah semai [6]. 
  • Di penelitian oleh Sopha et al. (Gina Aliya Sopha dkk.), untuk lahan suboptimal, umur bibit semai optimal adalah 6 minggu dengan kerapatan tanaman tertentu dan dosis pupuk nitrogen yang cocok.
  • Bibit yang sudah mempunyai tinggi, jumlah daun cukup, dan akar yang baik dapat dipindahkan ke lahan utama.

6. Transplanting ke Lahan Utama

  • Persiapkan lahan: olah tanah, tambahkan bahan organik dan pupuk dasar sesuai rekomendasi teknis setempat.
  • Buat lubang tanam dengan ukuran dan jarak sesuai pola tanam yang direkomendasikan (misalnya 10 cm × 12 cm atau jarak lain sesuai varietas dan kondisi lahan) [1]. 
  • Tanam bibit TSS dengan hati-hati agar akar tidak rusak, dan tekan ringan di sekitarnya agar media menempel.
  • Lakukan penyiraman awal untuk membantu adaptasi bibit.
  • Beri mulsa dan perlindungan awal apabila kondisi cuaca ekstrim (panas atau hujan lebat).

7. Perawatan Lanjutan

  • Pemupukan susulan, pengairan, pengendalian hama/penyakit dilakukan seperti budidaya bawang merah umumnya.
  • Walau tanaman dari TSS umumnya lebih sehat, tetap perlu dilakukan pemantauan hama/penyakit dan tindakan pengendalian bila muncul.
  • Penjarangan atau pemangkasan sebagian anak tanaman (jika berdaun lebat) bisa dilakukan bila perlu agar cahaya dan nutrisi merata.

Dengan penerapan teknik persemaian dan transplanting yang tepat, benih TSS dapat menghasilkan tanaman bawang merah yang sehat dan produktif.

Efek Ekonomi: Perbandingan Modal dan Potensi Keuntungan

Untuk menggambarkan dampak ekonomi dari penggunaan TSS dibanding benih umbi tradisional, berikut analisis sederhana berdasarkan data dari literatur dan asumsi rasional. (Semua angka bersifat ilustratif — kondisi nyata di lapangan dapat berbeda tergantung varietas, teknologi, harga lokal, dan kondisi lahan.)

Aspek

Benih Umbi Konvensional

Benih TSS

Kebutuhan material tanam per ha

≈ 1,5 ton umbi bibit

≈ 5 kg benih biji TSS (atau setara populasi tanaman)

Biaya benih

± Rp 45 juta (jika umbi bibit Rp 30.000/kg)

± Rp 10 juta (untuk benih biji)

Biaya transport & penyimpanan

Relatif tinggi (umbian berat dan mudah rusak)

Lebih rendah (biji ringan, tahan simpan lebih lama)

Risiko penyakit benih

Tinggi (membawa patogen)

Rendah (bersih dari patogen benih generatif)

 

Dari tabel di atas, tampak bahwa biaya benih konvensional jauh lebih besar. Jika asumsi bahwa benih menyumbang 40–60 % dari total biaya produksi, maka pengurangan biaya benih saja sudah bisa memangkas total biaya usahatani secara signifikan.

Perbandingan Output & Pendapatan

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan TSS dapat mendorong kenaikan produktivitas dibanding benih umbi:

  • Di penelitian Trubus, budidaya dengan TSS (varietas Trisula) menghasilkan bobot basah sekitar 39 ton/ha, sedangkan dengan benih umbi (metode proliga) hanya sekitar 21 ton/ha [1]. 
  • Di Cirebon, metode proliga dengan TSS menghasilkan 22,66 ton/ha, sedangkan proliga dengan umbi hanya 10,27 ton/ha [1]. 
  • Dalam literatur teknik penanaman, dikemukakan bahwa penggunaan TSS dapat menggandakan hasil dibanding benih umbi di kondisi tertentu [6]. 

Misalkan kita ambil asumsi konservatif:

  • Dengan benih umbi: produksi 20 ton/ha
  • Dengan TSS: produksi 30 ton/ha
  • Harga jual bawang merah (diasumsikan) = Rp 10.000/kg

Maka pendapatan kasar:

  • Umbi: 20.000 kg × Rp 10.000 = Rp 200 juta
  • TSS: 30.000 kg × Rp 10.000 = Rp 300 juta

Kurangi biaya produksi (termasuk benih, pupuk, tenaga kerja, pengairan, dll). Misalnya total biaya produksi:

  • Dengan benih umbi: Rp 100 juta
  • Dengan TSS (lebih hemat benih): Rp 80 juta

Maka keuntungan bersih:

  • Umbi: Rp 200 juta – Rp 100 juta = Rp 100 juta
  • TSS: Rp 300 juta – Rp 80 juta = Rp 220 juta

Dalam skenario ini, keuntungan dengan TSS hampir lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan benih umbi. Tentu angka ini sangat tergantung asumsi produktivitas, harga lokal, dan efisiensi pemeliharaan.

Studi Kelayakan dan Fenomena Riil

Beberapa studi kelayakan telah dilakukan. Misalnya dalam Petunjuk Teknis Proliga Bawang Merah Asal TSS disebut bahwa teknologi ini layak secara teknis dan ekonomis, meskipun tantangan utamanya adalah produksi TSS dalam skala besar serta penyebaran teknologi ke petani [9]. 

Dalam praktik lapang, beberapa petani yang menggunakan benih biji menyatakan bahwa untuk lahan seluas 1.500 m², menggunakan benih biji cukup menghabiskan biaya sekitar Rp 2 juta dibandingkan biaya umbi bibit senilai Rp 6,5 juta [11]. 

Di sisi kebijakan, ada upaya pemerintah untuk mendukung penggunaan benih biji. Menurut laporan BRIN, jika harga benih umbi berada di kisaran Rp 30.000–45.000/kg, maka biaya untuk pembelian benih per hektar bisa berkisar Rp 24 juta hingga Rp 45 juta. (

Dari sisi risiko juga, penggunaan TSS mengurangi risiko gagal panen akibat penyakit benih, sehingga meminimalkan kerugian tak terduga yang sering dialami petani umbi.