Loading...

SAGU SEBAGAI BAHAN PANGAN

SAGU SEBAGAI BAHAN PANGAN
Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan monokotil yang termasuk dalam ordo Spadiciflora, famili Palmae. Tanaman ini merupakan tanaman asli Indonesia, sehingga Indonesia memiliki areal hutan sagu terluas serta diversitas genetik terbesar di dunia. Daerah yang diyakini sebagai pusat asal sagu adalah sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura Papua. Di daerah tersebut terdapat keanekaragaman plasma nutfah sagu paling tinggi dengan total areal sekitar 1,2 Ha. Produk tanaman sagu yang utama adalah karbohidrat dalam bentuk polisakarida (pati) selain bahan lain yang berbentuk serat dari empelur batang sagu. Komposisi pati sagu adalah 73 persen amilopektin dan 27 persen amilosa. Dimana kandungan kalori pati sagu setiap 100 gram ternyata tidak kalah dibandingkan dengan kandungan kalori bahan pangan lainnya. Perbandingan kandungan kalori berbagai sumber pati adalah (dalam 100 g): jagung 361 Kalori, beras giling 360 Kalori, ubi kayu 195 Kalori, ubi jalar 143 Kalori dan sagu 353 Kalori. Adapun kandungan protein dalam sagu sangat rendah, yaitu hanya sekitar satu persen dan kandungan lemak hanya 0,3 persen. Dari segi kalori maka sagu baik dikembangkan untuk makanan pokok maupun makanan modern rendah kalori sehingga dapat membentuk makanan sehat dengan menambahkan protein dan vitamin untuk memperbaiki kandungan gizinya. Selain itu makanan berbasis tepung sagu juga rendah lemak sehingga baik untuk penderita obesitas. Sagu sebagai bahan pangan dapat berfungsi sebagai makanan pokok penduduk di Indonesia bagian Timur dalam bentuk papeda. Prinsip pembuatan papeda ini adalah dengan memanaskan suspensi pati sagu sampai terjadi gelatinasi. Pati sagu diaduk dalam sedikit air dingin sampai terbentuk suspensi dengan kekentalan tertentu, yaitu suatu kekentalan yang masih dapat diaduk dengan mudah. Suspensi tersebut disiram dengan air panas (air mendidih) sambil diaduk sampai mengental dan terjadi perubahan warna. Pengadukan dilakukan sampai warna gel/pasta yang terbentuk merata. Papeda biasanya dimakan dengan lauk-pauk berupa ikan, daging, kelapa, sayur-sayuran dan jenis lainnya yang memiliki gizi tinggi. Selain sebagai makanan pokok, sagu juga dapat digunakan sebagai bahan baku makanan ringan seperti empek-empek, bakso, onde-onde, dodol dan cendol. Sagu juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan kue tradisional seperti sagu lempeng, bagea, sagu kelapa. Sagu lempeng merupakan kue kering yang dicetak berbentuk lempengan, berukuran 8 x 8 cm dan tebal 0,5 – 1,0 cm. Makanan ini besifat keras, ringan, mempunya rasa tawar dan dapat disimpan sampai setahun lebih, sehingga ideal untuk dijadikan makanan persediaan. Sagu lempeng dapat dimakan langsung atau dimakan setelah dicelup ke dalam kopi atau teh serta dapat dibuat bubur manis. Adapun sagu kelapa hampir mirip dengan sagu lempeng hanya terdapat campuran gula dan parutan kelapa. Sagu juga dapat digunakan sebagai bahan pangan baru seperti bahan pembuatan roti, biscuit, mie soun, kerupuk, sagu mutiara dan high fructose syroup. Dari sisi kesehatan, bahan pangan baru yang terbuat dari sagu memiliki keunggulan dibandingkan bahan pangan baru yang terbuat dari terigu. Keunggulan tersebut antara lain : 1) dapat memberikan efek mengenyangkan, tetapi tidak menyebabkan gemuk, 2) bahan pangan baru yang terbuat dari sagu memiliki resistant starch yang lebih tinggi sehingga dapat mencegah sembelit dan dapat mencegah risiko kanker usus, dan 3) tidak cepat meningkatkan kadar glukosa dalam darah (indeks glikemik rendah) sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Tajuddin Bantacut, 2011. Sagu : Sumberdaya untuk Penganekaragaman Pangan Pokok. PANGAN, Vol. 20 (1) Maret 2011; https//www.academia.edu/39067353/Sagu_dan_Tantangan_Pengembangannya_di_ Indonesia;