Panitia dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama peserta Pelatihan Teknis Budidaya Pertanian Bagi Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) untuk Rayon I sedaratan Flores-Lembata, Rabu 22 Juni 2016 melakukan kunjungan lapangan ke kebun kakao milik Kelompok Bugu Jumu. Dari Ende ibukota Kabupaten Ende Provinsi NTT menuju Desa Ruku Ramba Kecamatan Tude menempuh waktu 20 menit. Sesampainya di tempat ini kami disambut oleh Kepala BPP Ria Raja (Hendrikus M. Riberu) dan Sekretaris kelompok (Markus Ngga). Kami diajak mengelilingi kebun kakao dan mengidentifikasi semua yang bisa kami amati. Varietas kakao yang ditanam adalah Ikkri, Sulawesi, dan KW 514. Pohon kakao yang ditanam sudah berumur kurang lebih 8 tahun. Beberapa pohon sudah menurun produksi buahnya. Kami diajari cara menyambung samping pohon kakao untuk peremajaan. Pak Markus mengajari kami cara sambung samping. Langkah-langkahnya sebagai berikut pertama-tama, pilihlah ranting yang tumbuh ke samping dari tumbuhan yang sehat dan mempunyai produksi yang baik. Ranting dipotong kurang lebih 10 cm dengan 3 sampai 4 mata pucuk. Kedua, siapkan batang pohon yang akan disambung. Tinggi batang yang akan disambung 45-50 cm dari permukaan tanah. Permukaan batang harus mulus, disayat berbentuk segitiga hingga mendapatkan lapisan kayu. Lapisan kayu tidak boleh berserat dan ditempel ranting tadi yang telah dipersiapkan. Ketiga, tempat yang ditempel diikat sehingga tidak goyah. Setelah diikat disarung dengan plastik agar air tidak masuk ke dalam sambungan. Keempat, setelah 1 minggu perhatikan jika daun sudah tumbuh maka plastik harus dilubangi agar pertumbuhan ranting yang tumbuh bisa bertumbuh dengan baik. Kurang lebih 4 minggu jika daun sudah tumbuh maka sambung samping bisa dipastikan berhasil. Pembelajaran yang sangat berharga diperoleh di kebun kakao. Anggota kelompok menggunakan konsep organik di kebun kakaonya. Pupuk dibuat dengan cara dekomposisi aerobik dan anaerobik mengunakan bonggol pisang, daun gamal, sabut kelapa, kotoran ternak dll. Pestisida yang digunakan dari daun-daun tumbuhan gamal, nimba, sirsak, nangka yang diekstrak dan difermentasi. Kurang lebih 10 hari diambil ekstraknya dan disemprot ke tanaman kakao yang terserang hama dan penyakit. Hama dan penyakit yang diidentifikasi saat berada di kebun kakao adalah serangan helopeltis, kumbang apogonia, ulat dan busuk buah. Suatu konsep pertanian holistic diterapkan di kelompok ini karena selain tanaman kakao ada juga pemeliharaan ternak kambing secara perorangan dan ternak sapi secara berkelompok. Hal ini memudahkan anggota kelompok untuk memperoleh pupuk kandang. Setiap peserta yang menginjakkan kaki di kebun kakao ini memperoleh kepuasan batin karena mendapat informasi dan ilmu untuk diterapkan setelah mereka sampai pada daerah masing-masing. Terima kasih untuk satu proses pembelajaran bersama dari, oleh dan untuk penyuluh pertanian swadaya. Penulis : Henderina S. Laiskodat, Bidang Ketenagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan BKPP Provinsi NTT