Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini menjadi tantangan terberat bagi sumber daya manusia tidak terkecuali santri. Adanya larangan penggunaan gawai dan perangkat elektronik di beberapa pesantren menjadi dilema tersendiri. Perkembangan teknologi dan penggunaan sosial media yang tak lagi terarah kerap menjerumuskan santri ke dalam pergaulan bebas. Tidak dapat dipungkiri sejak masa lalu, kejayaan Islam justru karena ilmu pengetahuan. Besarnya tuntutan masyarakat kepada santri di era modern ini sangat besar, tanpa memandang apakah dari pondok salaf atau modern. Masyarakat memandang santri adalah orang yang paham segala hal tentang agama. Hal ini terjadi karena adanya kebingungan dalam mencari figur tauladan terkait urusan agama. Dan hal ini menjadi tuntutan santri sebagai kalangan terpelajar yang memahami agama semakin berat selain pemahaman terhadap ilmu-ilmu lainnya. Meski menghadapi segudang tuntutan, para santri tak sendirian. Pemerintah mengaku sudah menyiapkan berbagai program untuk meningkatkan kompetensi mereka terutama dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Peluang ini tidak disia-siakan oleh Kementerian Pertanian, banyaknya jumlah santri menjadi harapan tersendiri dalam perkembangan sumber daya manusia pertanian. Mulai dari tahun 2018, Kementan telah meluncurkan program pemberdayaan ekonomi umat berbasis pondok pesantren menuju lumbung pangan dunia. Menteri Pertanian menilai pondok pesantren tak lagi sekadar sebagai tempat memperdalam ilmu agama dan pendidikan semata, tetapi ada potensi besar dari aspek ekonomi yang dapat dikembangkan, terutama sektor pertanian. Hal tersebut menjadi salah satu dasar baginya untuk bersinergi dengan pondok pesantren, dekatnya santri dengan suasana pertanian mendorong banyak santri menjadi petani mandiri. K.H. Asep Maoshul Affandy, Pimpinan pesantren Miftahul Huda yang berlokasi Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya mengatakan bahwa sejak berdirinya di pertengahan 1960-an, para santri di pesantren ini memang telah terbiasa memenuhi kebutuhan 4.000 santrinya dengan bertani. "Dari lebih dari 30 hektare lebih lahan milik pesantren, setengahnya adalah lahan pertanian dan sudah dikembangkan untuk sawah, kebun untuk bawang, buncis hingga cabai, juga peternakan, hingga lahan hidroponik untuk sayuran. Tak hanya teori, para santri tersebut langsung menerapkan ilmunya disela-sela kegiatan belajar agama. Menurutnya, secara praktik, banyak pesantren yang sudah memperkenalkan pertanian kepada santrinya bahkan menjadikan pertanian sebagai usaha pemenuhan kebutuhan pesantren, tapi akan lebih terarah jika ditopang dengan pelatihan dan bantuan dari pemrintah.Ia mengharapkan program santri tani milenial oleh Kementan dapat menambah semangat regenerasi petani sekaligus membangun kemandirian pertanian berbasis pesantren. Bukan sekedar ilmu pengetahuan, tapi langkah nyata meningkatkan kesadaran, minat, dan bekal berwirausaha tani saat kembali ke masyarakat," tutur Asep.Syifa melanjutkan jika titel millenial tidak harus terus menerus berkutat dengan gadget dan membuang waktu percuma dengan bermedsos ria."Tetapi, bagaimana kita bisa memanfaatkan perkembangan teknologi dengan baik dan benar. Kalau lebih banyak mudharatnya untuk apa? lebih baik kita memanfaatkan waktu dengan membaca, mengaji atau bertani," tuturnya.Pendapat Syifa ini juga dibenarkan oleh santri yang juga menjadi Rohis Camp Ponpes, Deden Bahrudi. Menurutnya, santri saat ini selain harus pandai tentang pendidikan agama harus pula mampu menggunakan dan memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada.Kata Millenial identik dengan pemanfaatan teknologi, tetapi santri tidak sebebas generasi muda lainnya dalam mengakses kemajuan teknologi. "Adanya aturan di pesantren untuk tidak membawa dan mempergunakan gadget serta tidak diperkenankanya para santri untuk menggunakan media elektronik dalam aktifitas sehari-hari bukan menjadi halangan para santri untuk mengetahui kemajuan informasi dan teknologi," tuturnya.Deden menjelaskan bahwa ada fasilitas ruang internet di pesantren yang dapat dimanfaatkan para santri selain media cetak seperti koran dan majalah. Sehingga santri tetap bisa mengikuti perkembangan yang ada di dunia.(NL)