Untuk mencukupi kebutuhan pangan masa depan, pengembangan lahan untuk pertanaman padi akan lebih diarahkan kepada lahan sub optimal yang mencakup lahan kering, lahan sawah tadah hujan, sawah pasang surut an lahan rawa lebak. Berdasarkan data Departemen Pertanian, lahan sawah tadah hujan di Indonesia cukup besar yaitu sekitar 2,08 juta hektar yang tersebar di provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Melihat potensi lahan sawah tadah hujan tersebut, sangat dimungkinkan kalau lahan sawah tadah hujan menjadi lumbung padi kedua setelah lahan sawah irigasi. Seperti kita ketahui bahwa, kesuburan lahan sawah tadah hujan tidak sesubur lahan sawah irigasi, untuk itu dalam penerapan teknologi budidaya padi yang digunakan umumnya menggunakan teknologi "gogo rancah (gora)". Sarana produksi yang diperlukan untuk melakukan budidaya padi sawah tadah hujan, hampir sama dengan sarana produksi yang dipergunakan pada budidaya padi sawah irigasi yaitu : 1) lahan; 2) benih/bibit; 3) saluran irigasi; 4) pupuk; 5) obat-obatan; 6) peralatan pengolahan tanah; 7) peralatan panen dan pasca panen; dan 8) tempat penyimpanan; . Lahan Lahan sawah tadah hujan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1) pengairan tergantung pada turunnya air hujan; 2) kandungan unsur hara rendah maka tingkat kesuburan tanah juga rendah; 3) bahan organik relative rendah dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang; 4) produktivitas rendah (3,0 - 3,5 ton per hektar). Benih Mengingat sebaran curah hujan yang terbatas, benih yang cocok dipergunakan diantaranya adalah benih varietas unggul dengan umur pendek yaitu varietas "Mekongga" yang mempunyai sifat-sifat : 1) umur pendek (116 - 125 hari); 2) produksi tinggi (rata-rata mencapai 6,0 ton per hektar GKG); 3) agak tahan terhadap wereng coklat dan hawar daun bakteri strain IV; 4) rasa nasi enak dan pulen. Pupuk Untuk lahan sawah tadah hujan pupuk yang dipergunakan selain pupuk an organik, juga pupuk organik. Nitrogen merupakan hara utama yang paling mudah hilang (larut dalam aliran air atau melalui penguapan). Secara umum ada beberapa pilihan jenis pupuk an organik yang dapat diberikan agar mendapatkan pertumbuhan tanaman dan hasil yang baik, antara lain : 1. Pupuk N dengan dosis 90 kg/hektar; pupuk N dalam bentuk pupuk urea dengan dosis 200 kg/hektar; pupuk Phosfat (P2O5) dengan dosis 36 kg/ hektar; 2. Pupuk Phosfat (SP36) dengan dosis 100 kg/ hektar; 3. Pupuk Kalium (K20) dengan dosis 60 kg/ hektar; Kalium (KCl) 100 kg/ hektar; Untuk meningkatkan efisiensi pupuk an organik pada lahan sawah tadah hujan, perlu ditambahkan dengan pupuk organic atau pupuk kandang sebanyak 3 - 5 ton/ hektar/ tahun, yang diberikan setelah pengolahan tanah pertama. Obat-obatan Penyakit utama yang menyerang padi sistim gogo rancah adalah penyakit blas yang disebabkan oleh jamur pyricularia grisea dan panyakit bercak daun coklat helminthosporium oryzae dan bercak daun bergaris cercospora oryzae. Pembrantasannya dilakukan dengan fungisida. Alat pengolah tanah Di lahan sawah tadah hujan, pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu pada saat hujan perama turun, kemudian tanah dikelantang. Setelah frekuensi hujan cukup banyak, tanah diolah lagi dan diratakan dengan menggunakan alat-alat seperti :cangkul, bajak singkal (dengan ternak/ kerbau), traktor tangan (hand tractor). Alat panen 1. Sabit (biasa/ bergerigi) merupakan alat panen padi yang umumnya digunakan untuk memotong padi varietas unggul baru. Alat ini sangat dianjurkan karena mampu menekan kehilangan hasil sebesar 3%. Spesifikasi sabit bergerigi yaitu : a) gagang terbuat dari kayu bulat dengan diameter 2cm dan panjang 15 cm; b) mata pisau terbuat dari baja keras yang satu sisinya bergerigi antara 12-16 gerigi sepanjang 1 inci. 2. Perontok padi. Ada beberapa jenis alat perontok padi yaitu : a) Gebotan, merupakan alat perontok padi tradisionil dengan komponen alat terdiri dari : (1) rak perontok yang terbuat dari bambu/kayu dengan empat kaki dan dapat berdiri diatas tanah; (2) meja rak perontok terbuat dari belahan bamu/kayu membujur atau melintang dengan jarak renggang 1-2 cm; (3) dibelakang samping kanan dan kiri diberi dinding penutup dari tikar bamboo, plastic lembaran atau terpal, sedangkan bagian depan terbuka. b) Pedal Thresher, yaitu alat perontok padi dengan konstruksi sederhana yang dapat digerakkan dengan tenaga manusia. Alat ini mempunyai kelebihan yaitu menghemat tenaga dan waktu (kapasitas kerja 75-100 kg per jam dan dapat dioperasikan oleh 1 orang), mudah dioperasikan dan dapat menekan kehilangan hasil sekitar 2,5%; c) Power Thresher, yaitu alat perontok padi yang digerakkan dengan tenaga motor penggerak. Alat ini mempunyai kelebihan yaitu kapasitas kerja lebih besar dan efisiensi kerja lebih tinggi. Alat ini dapat menekan kehilangan hasil sekitar 3 %; Alat Pengering Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air gabah sehingga siap untuk diolah/digiling dan aman untuk disimpan dalam waktu lama. Beberapa alat untuk pengering : 1. Lantai jemur, yaitu sarana pengeringan gabah basah dengan memanfaatkan panas sinar matahari berupa lantai jemur ari semen atau menggunakan alas dari terpal/plastik. 2. Mesin Pengering, yaitu alat pengering yang dioperasikan dengan mesin. Ada tiga macam alat pengering yaitu :a) flat bed dryer; dan b) continous flow dryer. Alat Penggilingan Penggilingan merupakan proses untuk mengubah gabah menjadi beras yang meliputi pengupasan sekam, pemisahan gabah, penosohan dan penyimpanan. Ada dua macam alat yang dapat digunakan yaitu : 1. Alu dan lesung, yaitu alat untuk memecah kulit gabah dengan cara dipukul-pukul di lesung dengan menggunakan alu; 2. Mesin penggilingan, yaitu alat pengupasan sekam gabah menjadi beras dengan menggunakan mesin penggiling 3. Mesin penyosoh, yaitu alat untuk membersihkan beras dari kotoran-kotoran yang ada. Wadah untuk penyimpanan gabah/beras Penyimpanan merupakan perlakuan untu mempertahankan gabah/beras agar tetap dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu dan terlindung dari gangguan serangga/kutu, jamur dan binatang pengerat, yang dapat menurunkan kualitas gabah/beras. Alat penyimpanan gabah dapat dilakukan dengan silo (penyimpanan gabah dengan sistim curah) dan penyimpanan gabah/beras dengan wadah/kemasan.. Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian) Sumber : Petunjuk Teknis Lapang, PTT Padi Sawah Tadah Hujan, Badan Litbang Pertanian dan Pedoman Penangan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.