Loading...

Satoimo, Talas Bernilai Ekspor

Satoimo, Talas Bernilai Ekspor
Talas Jepang atau yang lebih dikenal dengan nama talas satoimo merupakan salah satu komoditi pangan (alternatif) yang mulai popular dibudidayakan di Indonesia, hal ini dikarenakan talas satoimo memiliki nilai dan prospek ekonomi yang cukup bagus, yakni selain diolah menjadi beragam jenis panganan siap konsumsi maupun bahan baku industri, juga merupakan komoditas ekspor khususnya ke negara Jepang sebagai salah satu bahan pangan utama bagi sebagian besar penduduk Jepang, menggantikan beras dan kentang yang banyak mengandung karbohidrat dan gula. Selain itu, talas satoimo dapat dikonsumsi langsung dalam keadaan mentah, karena rasanya yang mirip-mirip dengan salak pondoh.Talas satoimo memiliki kandungan hyalitrotic acid yang merupakan senyawa pembentuk collagen, salah satu jenis protein yang diyakini bisa memperlambat proses penuaan kulit. Tepung talas satoimo juga banyak dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan berbagai kosmetik.Secara umum, talas satoimo setiap hektarnya mampu menghasilkan 30 sampai 40 ton talas jepang, sedangkan harga yang dipatok oleh eksportir sebesar Rp 4.000,- per kilogramnya, itu artinya setiap hektar lahan pengembangan komoditi ini mampu menghasilkan pemasukan bagi petani antara 120 sampai 140 juta rupiah, jika dikurangi dengan biaya produksi sekitar 55 juta per hektar, petani masih mendapatkan keuntungan 65 sampai 85 juta, sebuah prospek ekonomi yang sangat bagus. Tingginya permintaan pasar Jepang atas komoditi ini, mestinya jadi motivasi bagi para pihak untuk terus meningkatkan areal pertanaman dan produktivitas talas satoimo. Sebuah peluang usaha tani yang sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang perlu untuk terus dikembangkan, jika tidak, selain China, petani di Vietnam dan Malaysia, juga sudah siap untuk merebut pangsa pasar tersebut.Pemilihan Lokasi Pemilihan lokasi untuk budidaya talas satoimo sangatlah menentukan dalam keberhasilan usaha ini, sebab bila salah memilih lahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan komoditi satoimo maka akan menjadi fatal untuk langkah selanjutnya & bisa dipastikan akan mengalami kegagalan. Oleh karenanya perlu kecermatan dan dipatuhi syarat-syaratnya dari kebutuhan Satoimo tersebut. Beberapa persyaratan yang harus dipatuhi dalam memilih lokasi : Syarat Tumbuh1. Satoimo menyukai tempat terbuka dengan penyinaran penuh mutlak 10 jam per hari dengan suhu harian rata-rata 25-30 °C dan kelembaban tinggi.2. Untuk pertunasan benih/umbi perlu naungan3. Tumbuh baik pada tanah berstruktur remah, galuh berpasir, drainase baik sepanjang tahun dan banyak mengandung bahan organik dengan pH 5,5 -7,0 dengan kelembaban tanah : 50 %-65 % . Bila pH di bawah 5,0 tanah dianjurkan diberi perlakuan kapur 1 ton/ha.4. Tanaman ini membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Apabila tidak tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman talas sulit tumbuh atau kerdil. Namun butuh tanah berdrainase baik; tidak suka becek apalagi tergengang Teknik Budidaya Persiapan bibit 1. Bibit talas satoimo berupa umbi bisa diambil dari Talas Satoimo yang sudah berumur tua yaitu lebih dari 6 bulan. Sebab jika menggunakan umbi yang sudah tua, membuat tingkat kegagalan semai sedikit.2. Bibit yang digunakan berupa umbi yang telah lewat masa dormansi (masa di mana mata tunas mulai tumbuh) dengan ukuran berkisar 20-50 gram/umbi. Dapat juga menggunakan bibit talas dalam polybag hasil kultur jaringan dengan tinggi sekitar 10-15 cm dan minimal telah tumbuh 2 helai daun. Bisa juga tanaman muda (anakan) yang disapih dari induknya.Penyemaian BibitPersemaian perlu dipersiapkan dengan seksama agar menghasilkan bibit yang berkualitas dan sehat, dengan prosedur sebagai berikut : 1. Untuk bibit satu 1 ha (25.000 umbi) dibutuhkan lahan persemaian sekitar 200 m2.2. Sebelum bibit disemai pastikan benih bersih dari tanah, telah direndam dengan fungisida dan bakterisida sekitar 5 menit.3. Penyemaian bibit dapat dilakukan di tanah atau di dalam polybag. Saat melakukan penyemaian bibit, pastikan tanah untuk menanam talas mengandung unsur hara yang cukup dan air yang cukup agar bibit tidak kekurangan air. Setelah itu bibit ditanam pada tanah gembur dan telah diberi pupuk kompos dengan perbandingan 1:2. Bibit kemudian diberi pelindung dengan jerami padi Paranet. Jika bibit telah berumur 0,5-1 bulan dan memiliki 1-2 daun, maka siap dipindah ke lapangan (ditanam)4. Jika melakukan persemaian di polybag sebaiknya gunakan pupuk daun seminggu sekali sejak tanaman berusia 1 bulan hingga tanaman berumur 2 bulan. Kelebihan sistem ini yaitu mengurangi stres dan dapat menekan angka kematian ketika dipindahkan ke lapangan (hanya sekitar 3-5 %)5. Letakkan benih diatas tanah persemaian dengan cara calon tunas diletakkan diatas. Selanjutnya ditutupi tanah setinggi 1-2 cm.6. Tanah persemaian ditutupi dengan mulsa jerami padi/alang-alang untuk menjaga kelembaban tanah serta menjaga terpaan air hujan secara langsung.7. Bila perlu bedengan diberi naungan (Sharlon net) untuk mengurangi terik matahari (musim panas) dan memecah air hujan (bila musim hujan)8. Benih-benih yang sudah tumbuh bakal daun seperti kuncup tombak, siap untuk dipindah ke lahan tanam.9. Satoimo dapat ditanam di lahan sawah atau tegalan. Namun lahan tersebut sebaiknya diolah tanah terlebih dahulu (tarktor/cangkul) hingga gembur; lalu dibuat guludan dengan lebar 120 cm dan tinggi 15-20 cm, serta jarak tanam 60 cm x 50 cm (untuk baris ganda). Namun bisa dengan jarak 80-100 cm x 50-40 cm.10. Siapkan lubang tanam dengan diameter 25 cm dan kedalaman 20 cm. Masukkan pupuk kompos 1 kg/lubang tanam (untuk tanah kurang subur). Untuk mengatasi hama dianjurkan menggunakan pestisida organik yang dicampur merata dengan kompos. Sebelum ditanami, sebaiknya lahan diairi terlebih dahulu. Pembuatan Guludan Guludan tidak boleh terlalu tinggi. Karena pada Satoimo pertumbuhan umbinya sebagian besar adalah keatas bukan kebawah, sehingga dalam masa pemeliharaan membutuhkan pembubunan (ipuk) terhadap umbi yang tumbuh diatas tanah. Ukuran lebar guludan (L) = 20 cm dan panjang sesuai keadaan lahan, tinggi (T) = 10 – 15 cm. Tanah harus dicangkul secara matang untuk menghasilkan tanah yang gembur dan rumputnya harus dibuang ditempat sampah yang nantinya dapat dijadikan kompos. Pemupukan1. Pastikan pemberian kompos atau pupuk kandang yang sudah matang ke dalam lubang tanam. Volume kompos yang diberikan sangat mempengaruhi hasil produksi tanaman.2. Lubang tanam diberi Furadan (2,5 gr/ lubang) + kmpos sebanyak 1 kg/lubang. Sehingga untuk 1 hektar membutuhkan 25 ton/ha ( populasi tanaman = 25.000 tanaman).3. Pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam, tanaman diberi pupuk NPK (15-15-15) dengan dosis 10-15 gram per pohon ditabur melingkar dengan jarak 10-20 cm dari batang tanaman.4. Pemberian pupuk organik cair dilakukan setiap 14 hari sekali dengan cara dikocorkan ke tanah atau disemprotkan ke bawah daun talas.PemeliharaanAir merupakan kebutuhan mutlak dalam budidaya tanaman ini. Kelembaban tanah perlu dipertahankan hingga rata-rata 60% terutama saat musim kemarau guna mendapatkan hasil produksi maksimal. Jangan lupa tambahkan pupuk kompos sebanyak 1 kg/tanaman saat umur 2,5 bulan. Disertai pupuk organik cair setiap 14 hari sekali dengan cara dikocorkan ke tanah atau disemprotkan ke bawah daun talas. Penyempotan di bawah daun talas sebaiknya dilakukan berkisar antara pukul 6 hingga 9 pagi atau sore hari setelah pukul 3 siang. Juga perlu dilakukan pendangiran dan pembumbunan tanaman saat umur 3-4 bulan.Pengendalian GulmaPembersihan gulma dan pembumbunan tanah, tingginya bumbunan 5 s/d 10 cm dari pangkal batang tanaman itu sendiri, juga dilakukan kalau terjadi erosi karena hujan. Penggunaan mulsa plastik secara efektif menekan gulma, namun menaikkan biaya. Pengendalian HPT Jenis penyakit yang sering menyerang pada tanaman satoimo : 1. Cabuk ( Myte ) 2. Trip 3. Semut 4. Rayap 5. Ulat daun dan ulat umbi 6. Jamur ( Busuk Umbi ) Penyemprotan dengan fungisida & Insektisida secara berkala setiap bulan sekali (umur 2 bln, 3 bln, 4 bln). PanenPanen talas satoimo dapat dilakukan setelah tanaman berumur antara 4-6 bulan setelah tanam (untuk konsumsi 4,0-4,5 bulan dan untuk dijadikan bibit 6 bulan). Pada dataran rendah hingga sedang, umur panen rata-rata 5 bulan dan pada ketinggian 1.000 m dpl rata-rata 6 bulan. Ciri-ciri tanaman talas yang siap panen ditandai dengan daun yang mulai layu dan rontok. (Yusri Swandar)Sumber :#www.sulsel.litbang.pertanian.go.id #https://www.kompasiana.com/masfathan66/