“Kami sudah biasa menanam padi seperti ini. Sejak dari nenek moyang dulu kami bertani seperti ini”. Pernyataan seperti ini adalah hal yang sering ditemukan ketika ada inovasi baru yang disampaikan ke pada petani. Merupakan sebuah perjuangan yang berat bagi penyuluh di lapangan untuk menembus tembok paradigma yang masih berakar pada masa lalu tersebut, diperlukan strategi yang jitu untuk dapat merobohkan pendapat yang demikian. Salah satu strategi yang digunakan dalam penyuluhan adalah dengan menggunakan peran penyuluh swadaya. Penyuluh swadaya adalah petani yang berhasil dalam usahataninya dan dengan kesadaran sendiri mampu dan mau menjadi penyuluh pertanian. Petani maju ini memiliki perhatian yang tinggi terhadap pertanian serta mempunyai kemampuan dan motivasi yang besar untuk memajukan pertanian.Ahmad Ali, seorang penyuluh swadaya yang berasal dari Desa Gedang, Kecamatai Sungai Penuh Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi, berusaha untuk mendobrak pemikiran dan perilaku petani sekitarnya. Bersama-sama dengan penyuluh di lapangan mereka berusaha. Beliau berusaha untuk memberikan bukti bahwa penanaman padi dengan system Jarwo dapat meningkatkan produksi bila dibandingkan dengan cara konvensional. Untuk itu beliau mencoba menerapkan Jarwo 4:1. Dengan bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kota Sungai Penuh. Dengan penerapan Jarwo 4:1, diperoleh produksi sebesar 9,7 ton/ha bila dibandingkan dengan tanpa Jarwo yang produksinya hanya 5,6 – 6,2 ton/ha. Dengan produksi yang sangat jelas berbeda ini, membuka mata petani sekitarnya dan mencari tahu bagaimana bisa seperti itu. Dan Alhamdulillah musim tanam berikutnya sudah ada petani yang berani menerapkan Jarwo. Merubah paradigm dan berfikir tidak hanya sebatas konsep, perlu usaha dan bukti yang menunjukkan kelebihannya. (Mitaria, SP/Darmawansyah Siata ... adm_jbi)Penulis : Effi Permata Sari, SP/Penyuluh Pertanian Muda