Loading...

SEKILAS TENTANG FLORIKULTURA

SEKILAS TENTANG FLORIKULTURA
Seperti halnya komoditas hortikultura yang lain (buah, sayur dan tanaman obat), komoditas florikultura (tanaman hias) mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan petani berskala kecil, menegah dan besar. Komoditas florikultura berhasil memberikan sumbangan yang cukup berarti, baik bagi sektor pertanian maupun perekonomian nasional, yang dibuktikan dari besar kontribusi 12 jenis florikultura terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Hortikultura tahun 2009 yang mencapai 6 %. Beberapa keunggulan yang dimiliki, antara lain nilai jual yang tinggi, keragaman jenis, ketersediaan sumberdaya lahan dan teknologi, serta potensi serapan pasar domestik dan internasional yang terus meningkat. Keunggulan ini membuat permintaan terhadap komoditas florikultura meningkat dari tahun ke tahun yang berdampak terhadap meningkatnya minat masyarakat untuk membudidayakan tanaman hias secara komersial. Hal ini dapat ditenggarai dengan meningkatnya luas area dan jumlah petani tanaman hias, yang tentunya perlu ditindaklanjuti dengan peningkatan intensitas bimbingan teknis bagi petani florikultura. Pengelompokan jenis komoditas Mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No.511/Kpts/PD 310/9/2006, hingga saat ini komoditas binaan Direktorat Jenderal Hortikultura meliputi 24 komoditas tanaman hias. Berdasarkan karakteristik masing-masing komoditas florikultura, dilakukan pengelompokan jenis komoditas sebagai berikut: 1. Tanaman hias bunga/daun potong: anggrek, anthurium bunga, anyelir, gerbera, gladiol, heliconia, krisan, mawar, sedap malam, dracaena, phylodendron, monstera, cordyline, anthurium daun, pakis, palem; 2. Tanaman hias pot dan taman: palem, aglonema, euphorbia, adenium (kamboja jepang), soka (ixora), defenbacia, sansieviera, calladium; 3. Tanaman hias tabur: melati. Komoditas unggulan Pengembangan komoditas fortikultura diprioritaskan pada komoditas unggulan yang mengacu pada besarnya pangsa pasar, keunggulan kompetitif, nilai ekonomi, sebaran wilayah produksi dan kesesuaian agroekosistem. Berdasarkan hal tersebut, ditetapkan beberapa komoditas unggulan florikultura, yaitu: krisan, anggrek, mawar, sedap malam, pakis, palem, sansiviera, philodendron, adenium, euphorbia, dracaena dan melati. Disamping komoditas unggulan yang telah ditetapkan tersebut, juga dikembangkan komoditas unggulan daerah sesuai dengan permintaan pasar regional maupun internasional. Komoditas unggulan daerah tersebut diharapkan mendapat dukungan dari daerah, sebagaimana yang tertuang dalam rencana rtrategis di masing-masing daerah, dan mempunyai peran yang spesifik dalam mendukung pengembangan hortikultura, yaitu untuk pemenuhan pasar dalam negeri, menekan impor, pemenuhan bahan baku industri dan peningkatan ekspor. Semua komoditas tersebut akan ditingkatkan produksinya, walaupun dengan laju peningkatan yang sangat bervariasi antarkomoditas. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka komoditas florikultura yang dipacu pertumbuhannya secara cukup tinggi (lebih dari 5 %), yaitu: sanseviera, dracaena, adenium dan euphorbia. Walaupun demikian, fluktuasi produksi dapat terjadi pada setiap komoditas utama tanaman hias, disebabkan oleh perubahan preferensi (selera atau kelebihsukaan) konsumen, seperti halnya yang terjadi pada dunia mode/fashion. Permasalahan Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam industri florikultura, antara lain sebagai berikut: 1. Lemahnya standarisasi produk-produk florikultura; 2. Skala usaha yang kecil-kecil; 3. Terbatasnya ketersediaan rekomendasi teknologi anjuran florikultura; 4. Terbatasnya keberadaan tenaga penyuluh yang kompeten dibidang florikultura; 5. Belum berkembangnya sistem perbenihan florikultura. Upaya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk Sehubungan dengan permasalahan tersebut, Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Hortikultura selama periode tahun 2010 - 2014 telah menetapkan kegiatan peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk tanaman florikultura berkelanjutan sebagai salah satu penjabaran dari Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Hortikultura Berkelanjutan. Adapun upaya-upaya yang ditempuh, yaitu sebagai berikut: 1. Pendekatan pengembangan kawasan melalui pengembangan sentra dan cluster; 2. Identifikasi dan pemecahan faktor penentu produksi; 3. Pelaksanaan sekolah lapang/magang/studi banding untuk penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Standard Operating Procedures (SOP) budidaya florikultura; 4. Fasilitasi penataan manajemen rantai pasokan dari tingkat produsen ke konsumen, sehingga petani memperoleh margin yang layak; 5. Fasilitasi penguatan kelembagaan petani, baik kelompok tani, gabungan kelompok tani, asosiasi/perhimpunan, maupun lembaga pengembangan florikultura lainnya; 6. Fasilitasi konsorsium sebagai wadah bagi masyarakat, praktisi, pakar dan pemerintah untuk pengembangan industri florikultura; 7. Fasilitasi kemitraan usaha; 8. Fasilitasi akses pembiayaan; dan 9. Fasilitasi sarana budidaya dan pasca panen. 10. Peningkatan ekspor melalui penguatan kawasan gerbang ekspor dan plasma ekspor; 11. Fasilitasi penyelenggaraan promosi; 12. Fasilitasi pengembangan informasi. Diana Prasastyawati, April 2013 Sumber: 1. Anonim. 2010. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2010 - 2014. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian 2. Anonim. 2011. Pedoman Penyusunan Rancang Bangun Kawasan Florikultura. Jakarta: Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian