Komoditas hortikultura yang terdiri dari berbagai varietas buah dan sayuran merupakan komoditas yang cukup menjanjikan di pasar. Dengan area yang relatif sempit, komoditas ini dapat menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Hal inilah yang mendorong Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar memperkenalkan komoditi Hortikultura kepada petani di Kota Denpasar dengan mengadakan Sekolah Lapang Hortikultura di seputaran Pantai Matahari Terbit, Sanur. Kegiatan SL yang dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan diperuntukkan bagi Petani dan Petugas Lapangan (PPL dan POPT) se-Kota Denpasar ini dimulai pada hari Kamis (11/10). Pertemuan pertama tersebut diawali oleh sambutan Kadis DPTPH yang dibacakan oleh Sekretaris, Sagung Mirah Widhiani, Sekolah Lapang merupakan wahana bagi para petani atau pelaku usaha untuk saling belajar dan bertukar pengalaman. Melalui sambutan tersebut, Kadis DPTPH, Ambara, pun menitipkan pesan supaya dengan adanya Sekolah Lapang ini dapat memotivasi para petani di Kota Denpasar untuk meningkatkan produksi tanaman hortikultura dan sekaligus melestarikan sumber daya lahan yang dimiliki. Selama kegiatan SL yang berlangsung dalam waktu kurang lebih empat jam per pertemuan, petani akan mempelajari seluk beluk perawatan komoditas hortikultura mulai dari pembibitan hingga panen dan pasca panen. Pertemuan pertama ini hanya dipelajari sebatas pembibitan dan sistem pengairan, sedangkan hal-hal lainnya akan berlanjut pada pertemuan berikutnya. Pihak PT Bisi Internasional, Tbk turut hadir sebagai narasumber dalam memberikan penjelasan tentang deskripsi varietas yang telah ditanam selaku penyedia bibit. Para Petani peserta SL dan Petugas Lapang pendamping tampak antusias sepanjang kegiatan walaupun cuaca panas terik. Mereka banyak bertanya dan tak kenal lelah melakukan pengataman di seputaran area seluas kurang lebih 1 Ha. PPL penanggungjawab kegiatan di area SL, A.A. Gde Rai Suamba dan Ketut Dadi, menjelaskan kepada peserta akan pentingnya orientasi pasar dalam pemilihan komoditas hortikultura. Sebab, tanpa adanya permintaan pasar, hasil panen tidak akan terjual betapa pun bagusnya kualitas. Petani dianjurkan untuk mulai berpikir sebagai pengusaha, bukan sekedar menanam lalu memanen tanpa mengetahui akan ke mana hasil dibawa. Dari segi hama dan penyakit, salah satu POPT senior, Wayan Swastika, memperkenalkan beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman hortikultura, seperti ulat grayak, lalat buah, trip, dan kutu. Penyakit layu fusarium, busuk akar, jamur pada buah juga diperlihatkan kepada peserta dalam bentuk slide show. Penanganan hama dan penyakit diharapkan selalu mengikuti kaidah Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu yang didasarkan pada hasil pengamatan, tidak sekedar melakukan aplikasi pestisida yang akan mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan. Ditulis oleh : Marcella Wayan K.R.,SP (PP Pertama)