Sulawesi Tengah-Donggala, Kecamatan Labuan, 3 Mei 2023 Yayasan Edufarmer Internasional melalui Program Bertani Untuk Negeri (BUN)- batch 6 Kementerian Pendidikan dan RISTEK, kembali melaksanakan kegiatan Magang dan Studi Independent Bersertifikat (MSIB). diwilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Simou. Sebanyak 32 Orang mahasiswa fakultas Pertanian dari berbagai propinsi berbaur bersama petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sejak februari 2023. Sebelumnya ditahun 2022 pada program BUN Batch 5 juga telah dilaksanakan kegiatan yang sama, Salah satu yang membedakan ditahun ini adalah hadirnya 10 orang Mahasiswa Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) Serpong yang merupakan lembaga pendidikan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian dari Program Studi Teknologi Mekanisasi Pertanian. Pada Program BUN Batch 6 kali ini, sejak kedatangannya mahasiswa telah melaksanakan observasi lapangan selama 2 bulan, dimomentum Hari Pendidikan Nasional kali ini menjadi awal pelaksanaan Sekolah Lapang (SL) /Farmers Field School (FFS) bagi petani, yang bertajuk GAP (good Agriculture Practice) Jagung. Membuka rangkaian kegiatan SL, Erwin Syahputra SP lulusan Institut Pertanian Bogor mewakili Koordinator Yayasan Edufarmer, Internasional wilayah Sulteng, sekaligus sebagai Mentor BUN batch 6 Donggala 1, menjelaskan “ Good Agricultural Practices (GAP) adalah salah satu sistem sertifikasi dalam praktik budidaya tanaman yang baik sesuai dengan standart yang ditentukan, dan telah direkomendasikan sesuai dengan wilayah atau tempat berbudidaya. Pemuda asal Pekan Baru ini, juga menambahkan, dipilihnya GAP sebagai materi awal, agar secara umum petani dapat mengidentifikasi mandiri proses berbudidayanya, di SL atau FFS berikutnya kita akan fokus pada aplikasi terapan untuk menyelesaikan masalah yang ditemui dari hasil observasi lapangan `tutupnya . Bertindak sebagai pemateri pada sekolah lapang perdana Donggala 1 adalah Dede Rahmat Hidayat dari Universitas Suryakancana Cianjur Jawa barat, Wahyu Setia aji dari universitas Muhammadiyah Sumatra Medan dan Riko Erfananda dari universitas Muslim Indonesia Makassar, Pemaparan dari ketiga mahasiswa ini cukup jelas dan sangat mudah dipahami oleh petani. Sekolah Lapang diakhiri dengan diskusi dan foto bersama. “Hadirnya mahasiswa di tengah-tengah masyarakat tani sangat membantu proses penyebaran dan penerimaan informasi pertanian baik teknis maupun kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan pertanian, seringnya sekolah lapang dan adanya demplot yang dibuat oleh Mahasiswa diharapkan dapat mengubah pengetahuan sikap,dan keterampilan petani hingga ketingkat adopsi teknologi, kami dari BPP, berharap kedepannya kerjasama ini terus dibangun dan ditingkatkan ” ungkap Sunardin,S.ST PPL Labuan Toposo *AA