Serai wangi (Andropogon nardus L.) merupakan salah satu jenis tanaman minyak atsiri yang tergolong sudah berkembang. Komoditas ini berperan sangat besar terhadap sumber devisa dan pendapatan petani serta penyerapan tenaga kerja. Permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan serai wangi mencakup bahan baku, penanganan pasca panen, proses produksi, tata niaga, teknologi pengolahan dan peralatan penyulingan. Penggunaan varietas unggul seraiwangi seperti varietas Seraiwangi 1 yang telah dilepas sejak tahun 1992, varietas Sitrona 1 Agribun dan varietas Sitrona 2 Agribun yang dilepas tahun 2015, menghasilkan minyak atsiri dengan kandungan geraniol dan sitronella yang tinggi pada pengembangan di dataran rendah sampai tinggi. Serai wangi dapat ditanam dengan pola tanam monokultur atau polikultur dengan intensitas penyinaran 75 – 100%. Dua pilihan penanaman serai wangi dengan pola tanam polikultur, yaitu serai wangi sebagi tanaman pokok, dengan tanaman semusim sebagai tanaman sela, atau serai wangi sebagai tanaman sela di antara ruang atau tegakan tanaman tahunan/perkebunan. Secara teknis, pengusahaan serai wangi sebagai tanaman sela perlu memperhatikan ketersediaan ruang diantara tanaman pokok, yang dipengaruhi oleh jenis tanaman, jarak tanam dan umur tanaman pokok itu sendiri. Penanaman serai wangi diantara tanaman pokok yang berkanopi lebar sebaiknya dilakukan sebatas tanaman pokok belum menghasilkan (TBM). Hal tersebut sesuai dengan karakteristik tanaman serai wangi yang memiliki masa produksi hingga 4 tahun, setelah itu akan mengalami penurunan produktivitas dan rendemen minyak. Penanaman serai wangi secara polikultur perlu mempertimbangkan aspek teknis terutama untuk memenuhi kebutuhan intensitas penyinaran minimal 75%: (1) jenis tanaman pokok, (2) fase pertumbuhan tanaman pokok, dan (3) jarak tanam tanaman pokok. Pengaturan jarak tanam serai wangi perlu memperhatikan tingkat kemiringan lahan. Jarak tanam 1 x 1 m dapat diterapkan pada lahan dengan kemiringan 0-15%, atau jarak tanam 1 x 0,75 m pada lahan dengan kemiringan antara 15-30%. Produktivitas tanaman serai wangi yang diusahakan secara polikultur relatif lebih rendah dibandingkan monokultur, disamping karena populasinya tidak 100% juga karena pengaruh berkurangnya intensitas penyinaran terhadap pertumbuhan serai wangi. Hasil penelitian Balittro menunjukkan produktivitas daun serai wangi yang ditanam sebagai tanaman sela pada tegakan tanaman klausena (populasi serai wangi 4.000 rumpun/ha + klausena 2.040 batang/ha yaitu 2,45 kg/rumpun (setara dengan 9,8 ton/ha), sedangkan penanaman serai wangi pada tegakan tanaman Zeylanicum produksinya 2,06 kg/rumpun atau setara dengan 8,24 ton/ha. Produktivitas tersebut lebih rendah (18-22%) dibandingkan produktivitas potensial serai wangi monokultur yang mencapai 4,5 kg/rumpun setara dengan 45,0 ton/ha karena populasi serai wangi sekitar 40% dari populasi monokultur (10.000 rumpun/ha) dan produktivitas per rumpun 45 - 55%. Berdasarkan data tersebut, dapat diproyeksikan bahwa kebutuhan luas areal usaha tani serai wangi polikultur untuk memenuhi kebutuhan bahan baku penyulingan minyak atsiri menjadi empat sampai lima kali lipat luas areal monokultur. Disusun oleh : Edwin Herdiansyah, SP Sumber : Balitbangtan dan berbagai sumber