Loading...

SHS Gandeng KTNA Kawal GP3K Pinrang

SHS Gandeng KTNA Kawal GP3K Pinrang
"Pokoknya dengan pengawalan ini produktiitas meningkat 1 ton GKP per hektar, dari semula misalnya 7-8 ton menjadi 8-9 ton itulah yang kita akan kerjar melalui pengawalan teknologi dan sarana produksi yang lengkap dari GP3K tahun ini," ungkap Ir. Yohanis Sampebua, MP kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pinrang ketika membuka sosialisasi Garakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Koorporasi (GP3K) yang dihadiri ketua KTNA Sulsel, Kabulog Subdivre Parepare dan manager pemasaran PT SHS kantor regional VI di ruang pola Dinas Pertanian dan Peternakan Pinrang, belum lama ini. Manager pemasaran PT Sang Hyang Seri kantor regional VI, Gatot Suyatno, A.Md mengatakan selama ini sudah banyak bantuan sarana produksi yang diberikan pemerintah kepada petani tapi hasilnya belum maksimal, karena tidak adanya perusahaan atau lembaga penjamin yang melakukan pengawalan sejak pesiapan lahan hingga panen. Salah satu program Kementerian BUMN adalah Garakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Koorporasi (GP3K). Gerakan ini kata Gatot dilatarbelakangi oleh pernyataan Presiden SBY bahwa Indonesia sebaiknya memiliki surplus 10 juta ton beras untuk mengamankan pangan nasional. Maka lahirlah Inpres No. 5 tahun 2011 tentang pengamanan produksi beras nasional dalam menghadapi kondisi iklim ekstrim. Program ini bertujuan antara lain untuk meningkatkan partisipasi dan dukungan BUMN dalam mewujudkan swasembada pangan. Selain itu juga mensinergikan BUMN dan stakeholder dalam bidang pangan dan memberikan kontribusi dalam peningkatan produktivitas pangan. Menindaklanjuti perintah Presiden tersebut maka Kementerian BUMN menunjuk empat perusahaan sebagai operator lapangan di antaranya PT Sang Hyang Seri, sedangkan pendanaan berasal dari Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) dan Program Kemitraan (PK) BUMN. Dana tersebut disalurkan kepada petani dalam bentuk sarana produksi dan biaya pengolahan lahan senilai Rp.3-5 juta yang disesuaikan dengan kebutuhan petani. Demikian juga pengembaliannya setelah panen dalam bentuk gabah kering panen. Ada lima paket pinjaman yang ditawarkan SHS kepada petani Pinrang yaitu paket I tediri dari pinjaman benih padi saja, paket II benih padi dan pupuk, paket III benih padi, pupuk dan pestisida, paket IV benih padi, pestisida, pupuk dan biaya pengolahan lahan dan tanam, paket V jasa sewa lahan. Ketua kelompok KTNA Sulsel Abdul Rahman Daeng Tayang mengatakan program ini harus sukses, karena kebutuhan bahan pangan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk sementara lahan pertanian terus menyusut. Dengan lahan yang terbatas sementara target produksi harus dikejar maka diperlukan rekayasa teknologi dan sarana produksi yang lengkap. Keterlibatan KTNA Sulsel bersama SHS dalam mengawal GP3K ingin melihat petani berhasil dalam mengoptimalkan produksi sebab selama ini kata Daeng Tayang program GP3K sudah jalan tapi belum maksimal karena jalan sendiri-sendiri. Dikatakanan Daeng Tayang GP3K sebagai solsusi keterbatasan modal petani yang selama ini petani sulit mengakses modal di perbankan. Demikian juga dalam pemasaran hasil nantinya KTNA Sulsel sudah komitmen dengan Bulog untuk menyerap hasil panen paetani dengan harga sesuai dengan HPP yang baru. "Dolog harus membeli sesuai HPP, tapi kalau harga pasar diatas HPP, petani silahkan jual keluar," ungkap ketua KTNA Sulsel lima periode ini. Karena pentingnya mengejar tambahan produksi 1 ton GKP/ha dalam program GP3K ini sampai ketua KTNA Sulsel harus pertaruhkan jabatan jika gagal Rahman Daeng Tayang siap mundur. Bak gayung bersambut, pemasaran gabah dan beras untuk wilayah Bulog Subdiver Parepare terbuka peluang bagi petani Pinrang. Karena target prognosa Dolog Parepate tahun ini mencapai ratusan ribu ton dengan HPP sebesar Rp.3.300/kg GKP di tingkat petani, jika diterima di penggilingan Rp.3.350/kg. Untuk gabah kering giling Rp.4.150/kg di petani dan gudang dolog Rp.4.200/kg, sedangkan harga beras dengan kualitas sesuai yang dipersyaratkan dolog Rp.6.600/kg diterima di gudang dolog . Kabulog Subdivre Parepare Abdulah Djawas mengajak petani Pinrang yang memiliki penggilingan untuk bermitra dengan dolog. "Syarat dan ketentuan tidak sulit yang penting ada penggilingan dan rekomendasi dari Dinas Pertanian Pinrang yang permohonannya ditujukan kepada kami maka langsung diproses sebagai mitra," kata Abdullah Djawas yang ikut hadir dalam sosialsiasi GP3K kerjasama KTNA Pinrang dengan SHS. (Abdul Salam Atjo)