PENDAHULUAN Indonesia tercatat sebagai Negara ketiga terbesar di dunia untuk komoditas buah kakao,dengan luas areal pada tahun 2008 adalah 1.473.238 ha, total produksi 792,791 ton (Ditjenbun,2014). Berdasarkan rasio biji dengan kulit buah kakao maka diketahui potensi bahan kering kulit buah kakao sebesar 872,5 ribu ton/tahun (Ditjenbun,2014). Bila dimanfaatkan sebagai sumber serat pengganti rumput (50% bahan kering dalam ransum) maka dapat memenuhi kebutuhan untuk 633.305 satuan ternak (1 ST = 250 kg bobot hidup), atau setara dengan 5.310.873 ekor ternak ruminansia kecil. Akan tetapi masyarakat Indonesia masih banyak yang belum memanfaatkan kulit buah kakao sebagai alternatif pakan. Bila ditinjau dari segi kandungan nutrisinya, kulit buah kakao dapat dijadikan sebagai pakan ternak mengandung protein kasar 6,8—11,71%,serat kasar 20,70%, lemak 11,80%, BETN 34,90 % NDS 55,30 –73,90% dan ADS 38,31—58,98% (Puastuti dan Susana,2014) Salah satu upaya memaksimalkan penggunaan kulit buah kakao tersebut adalah dengan cara fermentasi. Hasil fermentasi inilah yang dinamakan Silase. Bahan makanan yang telah mengalami fermentasi mempunyai kandungan dan kualitas gizi yang lebih baik dari asalnya, karena mikroba bersifat katabolic atau memecah komponen-komponen komplek menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna menghasilkan flavor yang lebih disukai dan dapat mengurangi racun yang terdapat pada bahan. PENGERTIAN Silase merupakan awetan segar hijauan pakan setelah mengalami proses ensilase (fermentasi) oleh bakteri asam laktat dalam suasana asam dan anaerob (proses tanpa udara/oksigen). Untuk memacu terbentuknya suasana asam dapat ditambahkan aditif berupa karbohidratmudah dicerna,misalnya tetes, onggok, dan jagung Limbah adalah sisa dari suatu kegiatan atau dengan kata lain limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari aktifitas –aktifitas produksi. TUJUAN DAN SASARAN Tujuan Mendayagunakan hasil sisa pertanian atau hasil ikutan pertanian untuk menampung kelebihan produksi hijauan pakan ternak atau memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik, tetapi belum dipergunakan. Hijauan pakan ternak yang di dapatkan, masih bermutu tinggi dan tahan lama serta dapat diberikan pada ternak saat musim kemarau yang panjang /paceklik Sasaran Para petani/peternak kambing bisa memanfaatkan limbah buah kakao sebagai tambahan dalam pembuatan pakan ternak fermentasi. PROSES PEMBUATAN SILASE Proses pembuatan silase terdiri dari beberapa tahapan yaitu : Persiapan bahan Bahan – bahan yang dapat digunakan dalam proses silase adalah semua jenis hijauan (rumput gajah, rumput lapang,leguminosa dll). Persiapan bahan pakan dilakukan dengan pencacahan rumput dengan ukuran 1-3 cm, yang sebelumnya rumput dilayukan selama 24 jam untuk meningkatkan kadar bahan kering rumput. Begitu pula halnya dengan kulit buah kakao dicacah 1-2 cm lalu dikering anginkan agar getahnya hilang. Untuk membuat 100 kg silase dibutuhkan : Kulit kakao sebanyak : 73 kg Hijauan : 15 kg Dedak : 10 kg Tetes tebu : 1 Kg Urea : 1kg Air : 10 liter Cara Pembuatannya : Kulit kakao yang telah dicacah dicampur dengan hijauan dan dedak. Urea dan tetes tebu dimasukkan dalam air dan aduk sampai rata Kemudian dimasukkan ke dalam campuran hijauan dan kulit kakao Diaduk kembali sampai rata dan dilanjutkan dengan proses fermentasi selama 3 minggu. Dalam proses fermentasi, jika menggunakan drum sebaiknya dimasukkan dalam plastik padatkan dan ikat ,tutup rapat drum agar udara tidak ada yang masuk. Pemanenan Setelah 3 minggu , silase dapat dibukadan diberikan pada ternak sesuai dengan kebutuhan. Sebelum diberikan kepada ternak, sebaiknya silase diangin-anginkan dulu hingga bau asamnya hilang, dan diberikan sedikit demi sedikit hingga ternak mau mengkonsumsinya. Ciri- ciri silase yang baik adalah : Berwarna hijau kekuningan pH 3,8 – 4,2 Tekstur lembut dan bila dikepal tidak keluar air dan bau Ka 60 – 70 % Baunya wangi Oleh : Nurpalina, STP. (PPL Kec. Pardasuka)