Loading...

Simantri 026 Batur Ibu Pupuan, Kembangkan Kambing untuk Pupuk dan Pedaging

Simantri 026 Batur Ibu Pupuan, Kembangkan Kambing untuk Pupuk dan Pedaging
Pupuk organik hasil pengolahan dari kotoran kambing ternyata memiliki harga jual lebih mahal dibanding pupuk organik dari kotoran sapi. Boleh jadi karena pertimbangan inilah, Simantri 026 yang dikelola Gapoktan Batur Ibu di Desa Munduk Temu, Pupuan pada tahun 2010 lalu memilih ternak kambing sebagai usaha pokoknya. Ketua Gapoktan Batur Ibu, I Wayan Suparta kepada Manggala menuturkan, harga pupuk organik hasil pengolahan dari kotoran kambing yang dicampur dengan hijaun sisa-sisa pakan kambing harga jualnya Rp 700/kg. Sementara pupuk organik dari kotoran sapi harganya berkisar Rp 400 - 500/kg. "Pupuk organik produksi kami harganya lebih mahal karena bisa lebih menyuburkan tanaman," ujar Suparta memberikan alasan. Menurut Suparta, dari 56 ekor ternak kambing yang dikelola Simnatri 026, setiap bulan rata-rata bisa dihasilkan pupuk organik sejumlah 3ton. Pupuk organik hasil olahan dari kotoran kambing ini, sebagian besar terserap oleh anggota kelompok sendiri untuk pupuk tanaman kopi dan kakao. "Kami belum sempat memasarkan ke luar daerah karena untuk memenuhi kebutuhan di wilayah sendiri masih kewalahan," katanya berterus-terang. Meski mampu mengolah pupuk sendiri, Suparta mengakui selama ini pihaknya masih mengalami sejumlah kendala. Di antaranya, pupuk organic yang dihasilkan ukurannya masih kasar sehingga mengurangi daya tarik bila dipasarkan ke luar daerah. "Kami belum memiliki mesin Apo untuk menghaluskan pupuk sehingga pupuk yang kami hasilkna ukurannya masih kasar," katanya sambil berharap ke depan instansi terkait bisa memberikan bantuan mesin Apo untuk menghaluskan pupuk. Lebih menguntungkan Selain harga jual pupuk organik yang lebih mahal, Simantri 026 memilih ternak kambing karena ternak kambing seseuai dengan potensi alam setempat yang banyak menyediakan tanaman dan hijauan untuk pakan kambing. "Ternak kambing di sini lebih menguntungkan. Selain mudah mencarikan pakannya, hasilnya juga lebih cepat dinikmati karena kambing lebih cepat beranak dibanding sapi. Anaknya juga lebih banyak," tegas Suparta. Menurut Suparta, pada saat awal Gapoktan Batur Sari menerima bantuan paket Simantri berupa kambing betina 40 ekor dan kambing jantan 4 ekor. Dari jumlah kambing tersebut kini sudah berkembang menjadi 56 ekor. " Sebelumnya sudah berkembang menjadi 60 ekor. Namun empat ekor anaknya sudah kami jual karena kualitasnya kurang bagus untuk dijadikan bibit," terangnya. Kambing yang ada di Simantri 026 saat ini, menurut Suparta akan terus dikembangkan. Anakannya berupa kambing betina akan dijadikan bibit, sedangkan kambing jantan akan dibesarkan untuk dijual sebagai kambing pedaging. "Harga kambing anakan sekitar Rp 400 ribu per ekor. Sedangkan kambing pedaging yang sudah dewasa harganya di sini sudah di atas Rp 1 juta per ekor," ujarnya. (I Gusti Made Widianta, SP. Penyuluh BPTP Bali) Pupuk organik hasil pengolahan dari kotoran kambing ternyata memiliki harga jual lebih mahal dibanding pupuk organik dari kotoran sapi. Boleh jadi karena pertimbangan inilah, Simantri 026 yang dikelola Gapoktan Batur Ibu di Desa Munduk Temu, Pupuan pada tahun 2010 lalu memilih ternak kambing sebagai usaha pokoknya. Ketua Gapoktan Batur Ibu, I Wayan Suparta kepada Manggala menuturkan, harga pupuk organik hasil pengolahan dari kotoran kambing yang dicampur dengan hijaun sisa-sisa pakan kambing harga jualnya Rp 700/kg. Sementara pupuk organik dari kotoran sapi harganya berkisar Rp 400 - 500/kg. "Pupuk organik produksi kami harganya lebih mahal karena bisa lebih menyuburkan tanaman," ujar Suparta memberikan alasan. Menurut Suparta, dari 56 ekor ternak kambing yang dikelola Simnatri 026, setiap bulan rata-rata bisa dihasilkan pupuk organik sejumlah 3ton. Pupuk organik hasil olahan dari kotoran kambing ini, sebagian besar terserap oleh anggota kelompok sendiri untuk pupuk tanaman kopi dan kakao. "Kami belum sempat memasarkan ke luar daerah karena untuk memenuhi kebutuhan di wilayah sendiri masih kewalahan," katanya berterus-terang. Meski mampu mengolah pupuk sendiri, Suparta mengakui selama ini pihaknya masih mengalami sejumlah kendala. Di antaranya, pupuk organic yang dihasilkan ukurannya masih kasar sehingga mengurangi daya tarik bila dipasarkan ke luar daerah. "Kami belum memiliki mesin Apo untuk menghaluskan pupuk sehingga pupuk yang kami hasilkna ukurannya masih kasar," katanya sambil berharap ke depan instansi terkait bisa memberikan bantuan mesin Apo untuk menghaluskan pupuk. Lebih menguntungkan Selain harga jual pupuk organik yang lebih mahal, Simantri 026 memilih ternak kambing karena ternak kambing seseuai dengan potensi alam setempat yang banyak menyediakan tanaman dan hijauan untuk pakan kambing. "Ternak kambing di sini lebih menguntungkan. Selain mudah mencarikan pakannya, hasilnya juga lebih cepat dinikmati karena kambing lebih cepat beranak dibanding sapi. Anaknya juga lebih banyak," tegas Suparta. Menurut Suparta, pada saat awal Gapoktan Batur Sari menerima bantuan paket Simantri berupa kambing betina 40 ekor dan kambing jantan 4 ekor. Dari jumlah kambing tersebut kini sudah berkembang menjadi 56 ekor. " Sebelumnya sudah berkembang menjadi 60 ekor. Namun empat ekor anaknya sudah kami jual karena kualitasnya kurang bagus untuk dijadikan bibit," terangnya. Kambing yang ada di Simantri 026 saat ini, menurut Suparta akan terus dikembangkan. Anakannya berupa kambing betina akan dijadikan bibit, sedangkan kambing jantan akan dibesarkan untuk dijual sebagai kambing pedaging. "Harga kambing anakan sekitar Rp 400 ribu per ekor. Sedangkan kambing pedaging yang sudah dewasa harganya di sini sudah di atas Rp 1 juta per ekor," ujarnya. (I Gusti Made Widianta, SP. Penyuluh BPTP Bali)