Pertanian merupakan salah satu sektor penopang perekonomian Nasional selama masa pandemi Covid-19. Sektor pertanian sebagai sumber pendapatan dan mata pencaharian bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sebagian masyarakat yang terdampak pandemi covid-19 memilih menekuni dan mengembangkan usaha pertanian baik skala rumah tangga maupun industry. Kedepannya sektor pertanian masih memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang karena terus meningkatnya permintaan pangan baik dalam maupun luar negeri. Program diversifikasi pangan yang digulirkan Pemerintah terus digalakkan karena Indonesia memiliki sumber keragaman karbohidrat yang sehat dan bergizi. Untuk itu pengembangan sektor pertanian diarahkan pada pengadaan aneka komoditas pangan lokal. Pangan lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai potensi dan kearifan lokal. Pangan lokal sebagai solusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan di masa pandemic covid-19. Pengembangan pangan lokal sebagai upaya memperkuat keragaman pangan dengan berbagai pangan alternatif. Adanya berbagai pangan lokal yang sehat dan ramah lingkungan sangat baik dikonsumsi pada masa pandemic covid-19. Komoditas pangan lokal yang potensial dikembangkan diantaranya adalah: Gandum,jagung, sorgum, kacang kacangan dan umbi umbian Kelompok umbi-umbian yang potensial dikembangkan adalah singkong (ubi kayu), ubi jalar, kentang, gadung, uwi, talas/suweg, porang, ganyong, garut. Tanaman umbi-umbian sumber pangan alternatif yang mengandung karbohidrat, protein, serat, vitamin dan mineral. Kentang selain memiliki kandungan karbohidrat, juga mengandung vitamin dan mineral yang penting bagi kesehatan tubuh. Vitamin dan mineral tersebut, diantaranya adalah kalsium, fosfor, kalium dan vitamin C. Ubi Jalar dan ubi kayu/singkong termasuk makanan yang mudah ditemukan dan mudah dalam pengusahaannya Berbagai olahan kelompok umbi-umbian potensial dikembangkan sebagai agroindustri lokal. Umbi singkong ini memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap. Singkong mengandung energi per 100 g sebesar 154 kkal, protein 1 g, karbohidrat 36,8 g, lemak 0,3 g, kalsium 77 mg, fosfor 24 mg, dan zat besi 1,1 mg. Selain itu di dalam singkong juga terkandung vitamin B1 0,06 mg dan vitamin C 31 mg Kalau dilihat dari manfaatnya, singkong memiliki jumlah kalori dua kali lipat dibandingkan kentang. Maka tak salah jika singkong menjadi salah satu makanan pokok sebagai sumber karbohidrat. Dalam 100 gram singkong, mengandung 160 kalori, sebagian besar terdiri dari sukrosa; Singkong lebih rendah lemak dibandingkan sereal dan kacang-kacangan. Walaupun begitu singkong memiliki kandungan protein yang tinggi dibandingkan ubi, kentang dan pisang; Singkong kaya akan vitamin K yang memiliki peran dalam membangun masa tulang; Sehingga konsumsi singkong dapat menurunkan risiko osteoporosis. Selain itu, vitamin K akan melindungi dan berperan penting dalam pengobatan pasien Alzheimer dengan membatasi kerusakan saraf di otak; Umbi yang lezat ini merupakan sumber dari vitamin B kompleks dan kelompok vitamin seperti folates, thiamin, piridoksin (vitamin B-6), riboflavin, dan asam pantotenat. Riboflavin berperan dalam pertumbuhan tubuh dan memproduksi sel darah merah untuk mengurangi anemia; Singkong merupakan sumber mineral yang penting bagi tubuh, antara lain seng, magnesium, tembaga, besi, dan mangan. Selain itu, singkong memiliki jumlah kalium yang cukup sebagai komponen penting pembentukan sel tubuh dan mengatur tekanan darah; Sebuah penelitian seperti dilansir Affleap menunjukkan manfaat singkong sebagai penurun kadar kolesterol jahat dalam darah. Tidak hanya itu, singkong juga dapat menurunkan kadar trigliserida dan menjadi sumber serat yang bagus. Tak heran jika singkong dapat menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, kanker usus besar dan membantu mengendalikan diabetes. Dengan catatan, singkong diolah dengan cara kukus atau rebus; Rheumatik. Caranya, ambil 5 lembar daun singkong, campurkan sedikit dengan kapur sirih, kemudian remas-remas sampai daun singkongnya hancur. Selanjuttnya, oleskan pada bagian yang terasa linu atau yang terserang rheumatik. Lakukan 3 kali sehari; Luka karena garukan. Caranya, ambil singkong secukupnya, kupas dan parut, kemudian tempelkan / bobokan pada luka beras garukan dan diperban. Kutu air. Caranya, ambil singkong yang masih muda dan baru dipetik dari batangnya. Kupas dan parut, kemudian tempelkan pada bagian yang kena kutu air. Jika kering, ulangi sekali lagi. Lakukan 2 kali sehari. Salah satu cara untuk mengatasi singkong yang dalam keadaan segar tidak tahan lama adalah dengan mengubah bentuknya menjadi tapioka. Pembuatan tepung tapioka ini mampu memberikan beberapa keuntungan, antara lain adalah lebih mudah dalam penyimpanan dan distribusi, memberikan nilai tambah, sebagai subtitusi terigu, dan lebih praktis dalam penggunaannya. Tepung tapioka ini selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai produk olahan baik dalam bentuk basah, seperti roti maupun kering, seperti cookies . Apabila pandemic Covid-19 terus berlangsung tidak menutup kemungkinan dunia akan mengalami krisis pangan dan krisis ekonomi. Untuk itu perlu penguatan sistem pangan lokal sampai pada tingkat masyarakat. Dalam berbagai kondisi apapun diharapkan masyarakat adaptif dengan sistem pangan lokal sesuai keragaman potensi daerah setempat. Strategi pengembangan pangan lokal diantaranya, adalah: pengembangan produksi pangan lokal sesuai keragaman potensi masing-masing daerah, b. pengembangan berbagai produksi pangan lokal sebagai bahan baku industri olahan pangan, c. penguatan agroindustri lokal, d melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi pangan lokal bagi pemenuhan pangan dan gizi keluarga serta dalam rangka penguatan ekonomi daerah dan Nasional. Yulia Tri S yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka: https://www.google.com/search?q=kandungan+singkong+jurnal&oq=kandungan+singkong+&aqs=chrome.2.69i57j0i512l9.19273j0j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8 Nugraheni Hadiyanti,, 2021. Diversifikasi Pangan Lokal Memperkuat Ketahanan Pangan Di Masa Pandemi Covid-19. Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Kadiri 3. http://bbp2tp.litbang.pertanian.go.id › budidaya http://repository.upnyk.ac.id › 02_-_BAB_II_-_SI...