Sektor pertanian, perikanan dan kehutanan di masa mendatang diyakini masih memegang peranan yang strategis dalam pembangunan daerah maupun nasional, karena kontribusinya yang nyata terhadap penyediaan pangan, penyedia bahan baku industri, penyediaan lapangan kerja, Product Domestic Brutto, sumber devisa negara, peningkatan pendapatan petani dan pelestarian lingkungan hidup. Namun disisi lain, Upaya masyarakat dalam meningkatkan hasil usaha pertanian, perikanan dan kehutanan, saat ini masih banyak menemui kendala dan masalah, sehingga hasilnya masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Cilacap, Ir. Sujito, MSi, pada musyawarah penyusunan programa penyuluhan tingkat kecamatan Majenang di Balai Penyuluhan Kecamatan Majenang (red. Senin 30 Oktober 2012) menyatakan, di sektor pertanian, Kantor Kementerian Pertanian telah mencanangkan 4 sukses pembangunan pertanian meliputi Pencapaian Swasembada dan swasembada berkelanjutan, Peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta peningkatan kesejahteraan petani. Namun diakuinya pada tataran implementasinya di lapangan masih dihadapkan dengan berbagai tantangan seperti adanya alih fungsi lahan, sarana prasarana dan alat mensin pertanian yang terbatas, kondisi petani yang relatif berusia tua (umumnya di atas 50 tahun), peningkatan jumlah penduduk yang tinggi dengan 1 jiwa kelahiran setiap 18 menit, perubahan iklim secara ekstrim, serta menurunnya daya dukung lingkungan. Permasalahan serupa juga dialami pada sektor kelautan dan perikanan yang antara lain adalah belum optimalnya produksi hasil tangkapan ikan laut dan perikanan budidaya, masih terbatasnya sarana-prasarana, dan masih rendahnya kualitas SDM nelayan dan petani ikan. Produksi ikan di kabupaten Cilacap masih didominasi oleh produksi penangkapan ikan di laut sebesar 151.311 ton lebih, budidaya kolam 3.900 ton lebih dan tambak 1.058 ton lebih. potensi perikanan di Cilacap selama ini baru mampu dimanfaatan sekitar 20 persen saja, ujar Sujito. Sedangkan pada sektor kehutanan dan perkebunan, masih dijumpainya lahan-lahan kritis di wilayah kebupaten Cilacap. Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, pemerintah telah mengambil langkah kongkrit dengan dilaksanakannya berbagai program kegiatan seperti Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) menuju surplus beras 10 juta ton 2015, pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari dan pemanfaatan pekarangan, Pengembangan Lumbung-lumbung pangan, program minapolitan, Rehabilitasi hutan dan Lahan, Kebun Bibit Rakyat-KBR, Model Desa Konservasi-MDK, dan Kecil Menanam Dewasa Memanen-KMDM. Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan-BP2KP Kabupaten Cilacap, Ir. Sujito, MSi, dihadapan peserta musyawarah Penyusunan Programa Penyuluhan Kecamatan Majenang dan para penyuluh pada Balai Penyuluhan Kecamatan Majenang mengharapkan, agar berbagai langkah yang akan ditempuh pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan pada tahun 2013 tersebut, dapat dipadu-serasikan atau disinkronkan dengan berbagai permasalahan pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan yang digali dari aspirasi pelaku utama dan pelaku usaha setempat. Jadi selain melalui pendekatan partisipatif, penyusunan programa penyuluhan kecamatan diharapkan dapat pula memenuhi aspek perencanaan yang bersifat Buttom Up and Top Down, harap Sujito. Programa Penyuluhan merupakan rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan yang memadukan aspirasi petani, pelaku utama dan pelaku usaha dengan potensi wilayah dan program pembangunan, yang menggambarkan keadaan sekarang, tujuan yang ingin dicapai, masalah dan alternatif solusi pemecahannya serta cara mencapai tujuan yang disusun secara partisipatif, sistematis dan tertulis setiap tahun. Programa penyuluhan yang kita susun hendaknya dapat menjawab permasalahan tersebut secara bertahap, sehingga kegiatan yang akan dilaksanakan oleh petani dengan pengawalan penyuluh akan semakin terarah dan cepat mencapai tujuan yang tersinergis dan simultan antara dinas instansi lingkup pertanian, perikanan dan kehutanan dengan pelaku utama dan pelaku usaha. Makna dibalik itu semua adalah agar pencapaian tujuan pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan dapat cepat tercapai secara lebih efetif dan efisien, yang pada gilirannya nanti bermuara pada terwujudnya ketahanan pangan keluarga dan masyarakat, aku Sujito. Hal senada diakui Camat Majenang, Tasimin, SE, MM yang menyatakan, keberhasilan kegiatan pertanian secara luas dapat memberikan daya dukung terhadap pengembangan ekonomi wilayah dan terjaganya kelestarian lingkungan. Dengan koordinasi, sinkronisasi, dan kerja sama lintas sektoral yang sinergis serta penyelenggaraan penyuluhan intens di lapangan, kegiatan budidaya dan usaha ekonomis produktif di bidang pertanian, perikanan dan kehutanan yang dilakukan petani dapat menghasilkan nilai tambah secara ekonomis dan lingkungan, ujar Camat Majenang Tasimin. Camat Majenang Tasimin mengingatkan, agar dapat melaksanakan usaha tani yang baik, para petani hendaknya dapat menerapkan Sapta Usaha Tani, serta pola tanam yang tepat waktu, tepat benih dan tepat dalam system pengairan serta dilakukan secara serempak. Sementara itu, Plt Kepala Bidang Penyelenggaraan Penyuluhan BP2KP Clacap, Pajarno, SP, kegiatan musyawarah penyusunan programa penyuluhan Kecamatan tahun 2013 di Kecamatan Majenang merupakan rangkaian akhir kegiatan penyusunan programa penyuluhan kecamatan di 22 Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Kecamatan. Pada setiap kegiatan Musyawarah penyusunan programa penyuluhan selainkan menghadirkan narasumber dari Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh, juga Kepala UPT Dinas Teknis, seperti UPT Dipertanak, UPT Dishutbun, UPT Dinas Kelautan dan Perikanan SDKSA, serta UPT Dinas Bina Marga, SDA dan ESDM. Dengan kegiatan yang dilaksanakan pada 22 Balai Penyuluhan Kecamatan dengan mengedepankan sinkronisasi kegiatan lintas sektoral ini, hendaknya dapat dijabarkan lebih lanjut oleh para penyuluh menjadi Rencana Kerja Tahunan yang akan ditetapkan bersama-sama antara penyuluh dengan petani di wilayah binaan masing-masing.(AP)