Beberapa cara budi daya padi yang telah membudaya di kalangan masyarakat tani adalah bertanam padi gogo, padi lebak, padi air dalam, dan padi pasang surut. Pada budi daya padi gogo dan gogo rancah, benih padi ditanam secara langsung dengan tugal di tanah kering yang telah diolah. Pada budi daya padi sawah, digunakan bibit dari pesemaian yang ditanam di tanah berlumpur setelah diolah. Budi daya padi sawah tabela pada hakekatnya sama dengan budi daya padi sawah biasa. Perbedaan pnnsip antara keduanya adalah terdapat pada bentuk fisik bibit yang akan ditanam di sawah. Bibit yang akan dipergunakan pada tabela masih berupa benih, sedangkan bibit yang akan digunakan untuk bertanam padi sawah berupa tanaman dari pesemaian berumur sekitar 20 hari. Terlepas dari keunggulan dan kelemahan budi daya padi tabela, kiranya dipertimbangkan faktor teknis dan ekonomis yang akhirnya menentukan perkembangan teknologi tersebut di lapangan. Tabela dapat dilaksanakan dengan tiga sistem sebagai berikut. 1. Tebar benih merata Pada sistem tebar benih merata, ada beberapa perlakuan. Benih dapat diperam atau tanpa diperam. Benih belum berkecambah yang tidak direndam serta diperam mempunyai kelemahan, yaitu pertumbuhannya lambat dan kemungkinan banyak kegagalan pada perta naman awal. Benih tersebut cocok untuk tabela tanah kering atau padi gogo dan gogo rancah. Benih yang telah direndam dan diperam kemudian berkecambah mempunyai kelebihan yaitu telah siap melanjutkan pertumbuhannya bila ditebar di sawah. Namun, benih ini juga mempunyai kelemahan bila terlambat ditebar karena perakarannya semakin panjang dan dimungkinkan kerusakan perakaran benih semakin banyak. Penyebaran benih dapat dilakukan dengan atau tanpa alat bantu di petakan sawah yang telah dipersiapkan. Sistem ini mempunyai ciri tanaman padi tumbuh tidak beraturan, ada yang berjarak rapat dan ada yang renggang. Sebaiknya digunakan herbisida untuk menekan gulma di saat-saat awal pertumbuhan karena gulma, merupakan problem utama pada budi daya tabela. Keburuhan tenaga kerja tebar dalam sistem ini relatif sangat sedikit, sekitar 2 HOK per' hektar. 2. Sistem tanam dalam alur Tabela sistem tanam dalam alur atau barisan memiliki perlakuan dan ciri sebagai berikut. 1) Pada petakan dibuat 'alur-alur dengan goretan atau caplak. 2) Benih padi setelah diperam kemudian ditanam pada alur-alur di sawah. Jarak tanam antarbarisan sama, sedangkan jarak tanam benih di dalam; alur relatif dekat dan tidak sama. 3) Kebutuhan benih relatif sedikit dibanding kebutuhan benih untuk sebar langsung. Namun, kebutuhan benih tersebut masih lebih banyak dibanding kebutuhan padi sawah. 4) Perawatan tanaman relatif lebih mudah dibanding pada sistem sebar merata. 5) Penanggulangan gulma padi sawah dapat dilakukan dengan alat landak atau penggunaan herbisida sebelum tanam. 6) Pada tabela dalam larikan diperlukan tenaga tebar lebih banyak dibanding sebar merata, yaitu sekitar 5 HOK per hektar. 3. Sistem tanam sejajar dua arah Sistem tabela dengan jarak tanam dua arah memiliki perlakuan dan ciri sebagai berikut. 1) Pada petakan sawah dibuat alur sejajar dua arah dengan menggunakan goretan atau caplak putar. 2) Benih padi setelah direndam atau diperam kemudian ditanam pada titik persilangan alur. Cara tanam. langsung ini dilakukan dengan tangan karena belum ditemukan atabela yang ideal. 3) Jarak tanam pada kedua arah sama sehingga tampak lebih teratur. 4) Kebutuhan bedih relatif lebih sedikit dibanding kedua sistem di atas. Benih pada ciap lubang tanam dapat diatur sesuai kebutuhan. 5) Perawatan tanaman lebih mudah dibanding kedua sistem sebelumnya. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan landak dan herbisida sebelum tanam. 6) Tabela dengan jarak tanam sejajar dua arah memerlukan tenaga kerja lebih banyak dibanding tenaga kerja yang diperlukan pada tabela sebelumnya. Kebutuhan tenaga keria tebar sekitar 10 HOK per hektar. (sumber: Budidaya Padi Sawah Tabela/ Ir. Setijo Pitojo)