Pemakaian pestisida bisa memberikan manfaat dalam sektor pertanian untuk mengendalikan hama, penyakit, dan gulma. Pestisida merupakan bahan kimia yang beracun yang digunakan untuk membunuh hama. Tujuan dari penggunaan Pestisida ialah menekan atau mengurangi populasi jasad pengganggu sasaran (hama, penyakit, dan gulma) hingga di bawah batas nilai ambang ekonomi, tanpa menimbulkan dampak yang merugikan seperti antara lain : terjadi munculnya hama dan penyakit yang lebih banyak, hilangnya plasma nutfah, punahnya predator dalam ekosistem dan resistennya organisme penganggu tanaman. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida adalah: menggunakan pemberantas hama mekanik maupun biologis Tidak mencuci peralatan bekas pemakaian pestisida di sungai atau sumur Tidak membuang sisa pestisida sembarangan Tidak memakai pestisida melebihi takaran. Dan yang lebih bijaksana adalah membuat pestisida nabati sendiri karena selain murah karena menggunakan bahan lokal juga ramah lingkungan. Pestisida nabati (pesnab) ramah lingkungan karena bahan baku alami/nabati membuat pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan. Pestisida ini juga relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati saat diaplikasikan, akan membunuh hama saat itu juga dan setelah hamanya mati, residunya akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabati menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetis. Penggunaan pestisida nabati memberikan keuntungan ganda, selain menghasilkan produk yang aman, lingkungan juga tidak tercemar. Aplikasi pestisida yang baik dan benar menurut konsepsi PHT dengan menggunakan 6 Tepat yaitu :Tepat sasaran,Tepat Mutu,Tepat Jenis,Tepat Waktu Penggunaan, Tepat Dosis atau Konsentrasi Formulasi dan Tepat Cara Penggunaan. Cara membuat pestisida nabati satu untuk semua (all in one) artinya selain untuk mengendalikan hama juga sekaligus mengendalikan penyakit tanaman (khususnya cendawan dan bakteri).sesuai Team P4S Cau Chocolates Bali sbb Bahan-Bahan:1. Buah Maja (Aegle marmelos) 2 buah (± 5 kg). 2. Daun Kipahit (Tithonia diversifolia) = 5 kg.3. Daun Mimba (Azadirachta indica) = 5 kg. 4. Tembakau (Nicotiana tabacum) = 1 kg.5. Sereh Wangi (Cymbopogon nardus) = 5 kg.6. Lengkuas (Alpinia galanga) = 1 kg.7. Bawang putih (Allium sativum) = 1,5 kg. 8.Daun sirih (Piper bettle) = 1 kg. Cara Pembuatan: a. Cahcah semua bahan hingga menjadi potongan kecil-kecil lalu ditumbuk atau diblender hingga halus, kemudian masukan ke dalam ember/drum yang telah berisi air bersih. Aduk sampai rata, lalu ditutup dan didiamkan selama semalam (24jam). b. Kemudian adonan disaring dengan saringan halus untuk memisahkan cairan pesnab dan ampasnya.c.Cairan pesnabnya sudah dapatdigunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman, sedangkan ampasnya dapat diproses menjadi pupuk kompos. Cara Aplikasi: Larutkan 50 ml pestisida Nabati ke dalam 1 liter air bersih, aduk rata kemudian semprotkan ke tanaman padi, jagung, kedelai atau lainnya secara merata. Penyemprotan dapat dilakukan setiap minggu sekali atau sesuai kebutuhan. Yulia TS yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka: Kardinan, A. (1999). Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasi. Penebar Swadaya, Jakarta. http://cybex.pertanian.go.id/artikel/98403/pupuk-organik-dan-pupuk-hayati-salahsatu-solusi-mengatasi-kekurangan-pupuk-bersubsidi/ https://fp.unila.ac.id › faperta-berkarya-pemanfaatan Pestisida nabati Kardinan, A. (2006). Bioekologi dan strategi pengendalian lalat buah.hlm. 49-59. Prosiding Seminar Nasional dan Pameran Pestisida Nabati III.Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.