Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L) termasuk jenis tanaman serealia yang memiliki keunggulan lebih toleran terhadap cekaman kekeringan dibanding jenis tanaman serealia lainnya seperti jagung, gandum dan padi, karena sorgum dapat tumbuh baik pada curah hujan 600 mm/tahun (Sudaryono, 1995), pH tanah pada rentang 5.0 – 8.0. Tanaman ini mampu beradaptasi pada daerah yang luas mulai 45oLU sampai dengan 40oLS, mulai dari daerah dengan iklim tropis-kering (semi arid) sampai daerah beriklim basah. Cara budidaya tanaman sangat mudah dengan biaya yang relatif murah, dapat ditanam monokultur maupun tumpangsari. Produktifitas tanaman sangat tinggi dan dapat diratun/ dipanen lebih dari 1x dalam sekali tanam dengan hasil yang tidak jauh berbeda, tergantung pemeliharaan tanamannya. Selain itu tanaman sorgum lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit sehingga resiko kegagalan relatif kecil. Tanaman sorgum berfungsi sebagai bahan baku industri yang ragam kegunaannya sangat besar dan merupakan komoditas ekspor dunia. Banyak sekali manfaat dari tanaman sorgum, bijinya diproses menjadi tepung untuk menggantikan tepung beras atau terigu sebagai bahan pangan, biji sorgum bisa menggantikan jagung yang banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industi pakan ternak, pembuatan gula dan bioetanol dibuat dari nira yang peras dari batang sorgum manis dan bagian daun sorgum dapat dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Selain itu ternyata ampas batang sorgum (bagasse) yang telah diambil niranya dapat dimanfaatkan seratnya sebagai bahan baku pulp dalam industri kertas. Dalam hal ini pengembangan tanaman sorgum justru mendukung program pemerintah dalam rangka ketahanan pangan (program swasembada pangan) dan energi (program desa mandiri energi), selain itu juga mendukung pengembangan industri lainnya yaitu penggemukan sapi (swasembada daging) dan industri pulp (kertas). Jika dibandingkan dengan gula tebu, perolehan bahan baku batang sorgum manis jauh lebih pendek daripada batang tebu, yaitu panen batang sorgum 110-130 hari berbanding 12-18 bulan. Selain itu kebutuhan nutrisi pupuk dan air yang dibutuhkan sorgum jauh lebih sedikit daripada tebu sehingga dapat lebih mereduksi biaya penanaman. Produktifitas rata-rata batang tanaman sorgum berkisar antara 30 – 50 ton/ hektar, biji 4 – 5 ton/ hektar dan daun 20 – 40 ton/ hektar. Untuk pembuatan 1 liter bioetanol membutuhkan 22 – 25 kg batang sorgum (Yudiarto, M. A., 2007). Pada umur 2 – 3 bulan dilakukan pengletekan daun (defoliasi) dengan menyisakan 7 – 10 daun segar pada setiap batangnya. Panen batang dilakukan pada saat kemasakan optimal, pada umumnya terjadi pada umur 16 – 18 minggu (112 – 126 hari), sedangkan biji umumnya matang pada umur 90 – 100 hari. Oleh karena itu biji dipanen terlebih dahulu (Sumantri A., 1993). Disusun oleh : Edwin Herdiansyah, SP Sumber : Dari berbagai sumber media