Loading...

SORGUM TANAMAN ADAPTATIF DI BEKAS TAMBANG TIMAH

SORGUM TANAMAN ADAPTATIF DI BEKAS TAMBANG TIMAH
SORGUM, TANAMAN ADAPTIF DI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH Selain terkenal dengan lada putihnya, Kepulauan Bangka Belitung juga dikenal sebagai provinsi penghasil timah. Penambangan timah yang telah berlangsung ratusan tahunan yang lalu menghasilkan lahan-lahan dengan status kesuburan yang sangat rendah. Hal ini terlihat dari kandungan bahan organik dan unsur hara makro rendah. Namun demikian, intervensi inovasi teknologi diyakini mampu dalam memperbaiki kualitas lahan bekas tambang timah, sehingga lahan bekas tambang timah dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian produktif.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah berupaya mamanfaatkan lahan bekas tabang timah untuk pertanian melalui penanaman sorgum dengan introduksi inovasi teknologi penggunaan amelioran. Pemilihan tanaman sorgum ini dilandasi karena tanaman sorgum di Indonesia dapat dikembangkan di daerah yang memiliki ikim kering, musim hujan pendek, dan tingkat kesuburan tanah yang rendah serta memiliki adaptasi lingkungan yang cukup luas, khususnya pada lahan marginal. Karakteristik Lahan Ketersediaan sumberdaya lahan merupakan factor penting untuk pengembangan komoditas pertanian karena lahan merupakan faktor produksi utama. Pemanfaatan lahan bekas tambang timah dilakukan melalui penanaman sorgum varietas Kawali seluas satu hektar di Desa Merawang, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, kepulauan Bangka Belitung. Lahan yang digunakan merupakan lahan yang telah ditambang sekitar 20 tahun yang lalu dan telah ditumbuhi semak belukar. Berdasarkan survei lapangan, diperoleh informasi bahwa pada kedalaman tanah 0-20 cm, tanah tersebut didominasi oleh fraksi liat, dan pada kedalaman lebih dari 20 cm, tanah didominasi oleh fraksi pasir.