Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, bawang merah juga memiliki manfaat kesehatan dan potensi sebagai bahan baku industri pangan serta farmasi. Tanaman ini memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik untuk mencapai hasil optimal, termasuk kesesuaian lahan, kualitas bibit, dan teknik budidaya yang tepat (Supriyanto, 2019). Permintaan bawang merah yang terus meningkat menjadikan budidaya bawang merah memiliki prospek yang menjanjikan bagi petani. Namun, keberhasilan budidaya bawang merah sangat dipengaruhi oleh kualitas bibit yang digunakan. Bibit yang unggul dan sehat akan menghasilkan tanaman yang lebih produktif dan tahan terhadap hama serta penyakit. Salah satu tahap penting dalam pembibitan bawang merah adalah kegiatan sortasi, yaitu pemilihan dan pemisahan bibit berdasarkan kualitas dan ukurannya. Sortasi bertujuan untuk memastikan hanya bibit yang sehat, seragam, dan berkualitas yang ditanam, sehingga pertumbuhan tanaman lebih optimal dan hasil panen meningkat. Sortasi bibit merupakan proses pemilihan bibit unggul yang memiliki potensi pertumbuhan dan produksi tinggi. Kualitas bibit sangat mempengaruhi pertumbuhan, hasil panen, serta ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit (Hidayat et al., 2017). Bibit yang dipilih harus memiliki ukuran seragam, bebas dari penyakit, dan memiliki vigor yang baik. Pada lahan rawa, penggunaan bibit yang berkualitas sangat penting untuk mengatasi kondisi lingkungan yang kurang optimal (Nurhayati et al., 2020). Lahan rawa merupakan salah satu alternatif area pertanian yang memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya bawang merah. Luas lahan rawa Indonesia diperkirakan mencapai 32.672.372 hm2 yang terdiri dari 20.260.432 hm2 (62,01 %) lahan pasang surut dan 12.411.940 hm2 (37,99 %) lahan rawa lebak (BBSDLP, 2019). Pemanfaatan lahan rawa untuk budidaya bawang merah menghadapi beberapa tantangan terkait dengan karakteristik tanah dan air seperti kondisi drainase yang kurang baik dan risiko serangan hama yang lebih tinggi. Bawang merah berpotensi tumbuh dengan baik di lahan rawa jika permasalahan genangan dan keasaman tanah dapat dikelola dengan baik (Dinarti, 2011). Oleh karena itu, diperlukan teknik pembibitan yang sesuai untuk mengatasi kendala tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kegiatan sortasi bibit bawang merah di lahan rawa dalam upaya meningkatkan produktivitas bawang merah di lahan rawa secara efisien dan berkelanjutan. SORTASI BIBIT DALAM BUDIDAYA BAWANG MERAH Sortasi bibit merupakan langkah awal yang sangat penting dalam budidaya bawang merah untuk memastikan kualitas dan produktivitas tanaman. Sortasi dilakukan untuk memilih bibit yang sehat, seragam, dan memiliki potensi tumbuh yang baik. Bibit yang berkualitas akan menghasilkan tanaman yang kuat, seragam dalam pertumbuhan, dan memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap hama dan penyakit (Hidayat et al., 2017). Dengan demikian, penerapan sortasi bibit yang efektif menjadi kunci dalam budidaya bawang merah yang sukses. Sortasi bibit juga membantu dalam mengurangi risiko gagal panen akibat bibit yang tidak layak tanam (Pujianto et al., 2023). Pada lahan rawa, penggunaan bibit yang berkualitas sangat penting untuk mengatasi kondisi lingkungan yang kurang optimal (Nurhayati et al., 2020). Sortasi bibit dapat meningkatkan produktivitas bawang merah, hasil penelitian menunjukkan bahwa sortasi bibit dapat meningkatkan hasil panen hingga 25-30% dibandingkan dengan bibit yang tidak disortasi (Sari et al., 2018). Selain itu, tanaman yang berasal dari bibit yang disortasi secara seragam memiliki pertumbuhan yang lebih seragam, sehingga mempermudah perawatan dan pemanenan (Prasetyo dan Wibowo, 2019). Sortasi bibit bawang merah umumnya dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, antara lain: Ukuran Umbi: Umbi yang dipilih sebaiknya memiliki ukuran seragam untuk memastikan keseragaman pertumbuhan. Ukuran yang ideal adalah umbi dengan diameter 1,5–2,5 cm (Sari et al., 2018). Kesehatan Umbi: Bibit harus bebas dari penyakit dan kerusakan fisik, seperti luka atau bercak busuk yang dapat menyebabkan penularan penyakit pada tanaman (Wahyuni et al., 2021). Vigor dan Daya Tumbuh: Bibit yang baik memiliki vigor tinggi, ditandai dengan warna kulit umbi yang cerah dan tidak keriput. Bibit dengan vigor tinggi cenderung memiliki daya tumbuh yang kuat dan tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang optimal (Nurhayati et al., 2020). Metode sortasi bibit bawang merah dapat dilakukan secara manual atau mekanis: Sortasi Manual: Dilakukan dengan cara visual berdasarkan ukuran, warna, dan kondisi fisik umbi. Meskipun sederhana, metode ini memerlukan ketelitian dan waktu yang lebih lama (Dewi et al., 2017). Sortasi Mekanis: Menggunakan alat sortasi yang dirancang untuk menyortir umbi berdasarkan ukuran dan berat. Mesin sortasi tipe rotary, misalnya, mampu meningkatkan efisiensi sortasi dengan kapasitas hingga 350 kg/jam (Pujianto et al., 2023). Kriteria sortasi meliputi: Ukuran Umbi: Ukuran sedang (2-3 cm) cenderung memiliki pertumbuhan yang lebih seragam. Warna Kulit Umbi: Warna cerah dan mengkilap menandakan kesehatan dan kualitas yang baik. Kondisi Fisik: Tidak ada kerusakan fisik atau tanda-tanda penyakit pada umbi. Sortasi menjadi amat penting karena perannya sebagai pemisah benih dari berbagai penyimpangan yang terbagi menjadi 3 parameter, yakni: Campuran varietas lain. Kesehatan umbi. Jamur - Busuk leher batang ( Botrytis alii ) - Bercak ungu ( Alternaria porii ) - Busuk pangkal ( Fusarium sp ) - Antracnose ( Colletotricum gloesporoides ) Bakteri busuk lunak - Erwinia carotovora Kerusakan mekanis. Sortasi bibit pada lahan rawa memerlukan pertimbangan khusus, seperti ketahanan bibit terhadap genangan air dan keasaman tanah. Teknik sortasi yang efektif pada lahan rawa meliputi pemilihan ukuran bibit yang seragam, seleksi bibit yang bebas penyakit, serta penyesuaian cara tanam agar bibit dapat beradaptasi dengan kondisi tanah yang lembab (Wulandari et al., 2022). Pemanfaatan teknologi sederhana, seperti alat sortasi mekanis, juga dapat meningkatkan efisiensi dalam proses sortasi bibit bawang merah. LAHAN RAWA DAN POTENSINYA UNTUK BUDIDAYA BAWANG MERAH Lahan rawa merupakan ekosistem unik yang terbentuk akibat genangan air secara alami, baik secara terus-menerus maupun musiman, akibat drainase yang terhambat. Kondisi ini menyebabkan lahan rawa memiliki ciri khas fisik, kimia, dan biologis yang berbeda dari ekosistem lainnya. Di Indonesia, lahan rawa tersebar luas, terutama di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Pemahaman mendalam mengenai karakteristik lahan rawa sangat penting untuk pengelolaan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Berdasarkan rejim hidrologinya, lahan rawa di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe utama: Rawa Pasang Surut: Lahan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau sungai. Berdasarkan frekuensi dan intensitas luapan air, rawa pasang surut dibagi menjadi empat tipe: Tipe A: Selalu terluapi air pasang, baik pasang besar maupun kecil, sepanjang tahun. Tipe B: Hanya terluapi saat pasang besar dan pada musim hujan. Tipe C: Tidak terluapi air pasang, namun muka air tanah dipengaruhi oleh pasang surut dengan kedalaman kurang dari 50 cm. Tipe D: Tidak pernah terluapi air pasang, dengan kedalaman muka air tanah lebih dari 50 cm. Rawa Lebak: Lahan yang genangannya terutama dipengaruhi oleh curah hujan lokal dan limpasan dari daerah sekitarnya. Rawa lebak dikategorikan berdasarkan kedalaman dan lama genangan: Lebak Dangkal: Genangan ≤50 cm, berlangsung kurang dari 3 bulan per tahun. Lebak Tengahan: Genangan 50-100 cm, berlangsung antara 3 hingga 6 bulan per tahun. Lebak Dalam: Genangan >100 cm, berlangsung lebih dari 6 bulan per tahun. Lahan rawa, yang mencakup rawa pasang surut dan rawa lebak, memiliki potensi besar untuk budidaya bawang merah di Indonesia. Pemanfaatan lahan rawa sebagai area pertanian strategis dapat mengimbangi penyusutan lahan produktif di pulau-pulau utama akibat alih fungsi lahan. Namun, pengelolaan lahan rawa memerlukan teknik budidaya yang tepat, termasuk pemilihan varietas yang adaptif dan penerapan teknologi pengelolaan lahan yang sesuai. Dengan pendekatan pengelolaan yang tepat, lahan rawa dapat dioptimalkan untuk budidaya bawang merah. Yasin et al. (2019) melaporkan bahwa pemberian pupuk KCl dengan dosis 300 kg per hektar di lahan rawa lebak menghasilkan produksi umbi basah bawang merah tertinggi, mencapai 10,3 ton per hektar. Darmawati (2017) menemukan bahwa pemberian pupuk organik sebanyak 10 ton per hektar memberikan pertumbuhan dan produksi bawang merah terbaik di lahan rawa lebak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sortasi bibit dapat meningkatkan produktivitas hingga 30% dibandingkan dengan bibit yang tidak disortasi (Sari et al., 2018). Sortasi juga berdampak pada uniformitas pertumbuhan tanaman sehingga mempermudah dalam pemeliharaan dan panen. Pada bawang merah, sortasi bibit berdasarkan ukuran dan kualitas dapat meningkatkan hasil umbi dan kualitas produksi secara keseluruhan (Prasetyo dan Wibowo, 2019). Beberapa varietas bawang merah menunjukkan adaptasi yang baik di lahan rawa (tabel 1). Penelitian menunjukkan bahwa bawang merah mampu menghasilkan umbi dengan hasil yang memadai ketika dibudidayakan di lahan rawa, varietas bawang merah seperti Sembrani, Maja Cipanas, Bima Brebes, dan Trisula menunjukkan adaptasi yang baik di lahan gambut, dengan hasil umbi basah masing-masing sebesar 18,7; 7,3; 7,2; dan 6,7 ton per hektar (Simatupang, 2022). PENATAAN LAHAN RAWA PASANG SURUT Menurut epistimologi bahasa, kata surjan diambil dari bahasa Jawa yang artinya lurik atau garis-garis. Hamparan surjan memang tampak dari atas seperti susunan garis-garis berselang seling antara bagian guludan (raised bed) dan bagian tabukan (sunken bed). Bagian atas sistem surjan biasanya ditanami oleh tanaman lahan kering (upland), seperti palawija, sayuran, dan hortikultura, sedangkan bagian bawahnya ditanami padi sawah (lowland). Dalam sistem surjan ruang dan waktu usahatani dioptimalkan dengan beragam komoditas dan pola tanam. Sistem sawah atau persawahan (untuk padi sawah) dan sistem tegalan untuk tanaman padi gogo dan palawija, atau sistem kebun untuk tanaman perkebunan/tanaman tahunan hanya dapat memberikan kontribusi secara partial kepada petani dengan basis utama hanya dengan satu komoditas. Misalnya pada sistem sawah, komoditas utama adalah padi (Susilawati et al., 2018). Menurut Soemartono dalam Noor (2004), penerapan sistem surjan di lahan rawa sangat sesuai dengan kondisi dan kendala lahan rawa yang berkaitan dengan kondisi hidrologi atau tata air yang belum dapat dikuasai secara baik yang menyebabkan resiko kegagalan dalam usaha tani sangat tinggi. Dengan kata lain, pengenalan surjan di lahan rawa dimaksudkan untuk menekan resiko kegagalan dalam usaha tani sehingga apabila gagal panen padi, masih ada panen palawija atau sayuran sebagai sumber pendapatan keluarga. Sistem surjan ini juga banyak diterapkan oleh petani Malaysia, Thailand dan Vietnam dalam pemanfaatan lahan rawa untuk pertanian (Noor, 2004). Menurut Beets (1982), pertanian polikultur memberikan keuntungan antara lain, pemanfaatan sumberdaya yang lebih efisien dan lestari, karena hasil tanaman yang lebih banyak bervariasi dan dapat dipanen berturutan. Jika terjadi kegagalan panen pada salah satu tanaman budidaya, misalnya padi, maka petani masih dapat mendapatkan hasil panen dari tanaman yang lain, misalnya cabai atau palawija yang lain. PERTANIAN BERKELANJUTAN DI LAHAN RAWA Pertanian berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas secara ekonomi, menjaga kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan sosial (Altieri, 2018). Menurut Sinukaban (1999), pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan pertanian di suatu daerah yang tidak merusak lingkungan dan memberikan hasil tinggi, sehingga dapat memacu petani untuk terus berusaha lebih lanjut pada lahan tersebut. Lahan rawa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian karena ketersediaan air yang melimpah dan kesuburan tanah yang tinggi. Namun, tantangan dalam pemanfaatannya meliputi masalah keasaman tanah, genangan air, serta keterbatasan teknologi budidaya (Sagala et al., 2020). Oleh karena itu, penerapan teknik budidaya yang tepat, termasuk sortasi bibit yang berkualitas, menjadi kunci dalam mendukung pertanian berkelanjutan di lahan rawa. Pertanian berkelanjutan di lahan rawa memerlukan pendekatan terpadu yang mencakup pemilihan bibit unggul melalui proses sortasi yang ketat, pengelolaan lahan yang tepat, serta penerapan teknologi budidaya yang ramah lingkungan (Maftu`ah dan Susanti, 2019). Sortasi bibit yang tepat dapat meningkatkan keseragaman pertumbuhan, daya tahan tanaman terhadap kondisi lingkungan, serta hasil panen. Kegiatan sortasi bibit bawang merah dengan pendekatan pertanian berkelanjutan tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi yang lebih tinggi bagi petani. Sortasi bibit tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Dengan memilih bibit yang sehat dan berkualitas, penggunaan pestisida dapat diminimalkan, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan (Wulandari et al., 2022). Selain itu, sortasi bibit membantu petani dalam mengelola input pertanian secara lebih efisien dan ekonomis. Pertanian berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani melalui peningkatan produksi pertanian yang dilakukan secara seimbang dan memperhatikan daya dukung ekosistem, sehingga keberlanjutan produksi dapat terus dipertahankan dalam jangka panjang dengan meminimalkan kerusakan lingkungan. Sortasi bibit bawang merah memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen dan keberlanjutan pertanian di lahan rawa. Implementasi sortasi yang tepat tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil, tetapi juga mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan. Pendekatan pertanian berkelanjutan dengan teknik sortasi yang tepat mendukung optimalisasi lahan rawa dan keberlanjutan ekosistem. Materi lengkap dapat di download di lampiran