Loading...

Sosialisasi Biosaka di Kota Dumai Provinsi Riau

Sosialisasi Biosaka di Kota Dumai Provinsi Riau
Biosaka adalah salah satu teknologi yang ramah lingkungan. Gaungnya terus membahana sejak beberapa tahun lalu hingga Tahun 2023. Sosialisasi tentang manfaat dan cara pembuatan terus dilakukan oleh kementerian pertanian, melalui dirjen tanaman pangan. Teknologi ini masih terus diteliti dan didalami oleh para ahli. Konon penggunaan biosaka mampu mengurangi penggunaan pemakaian pupuk kimia. Biosaka yang berperan sebagai elisitor bagi tanaman ini, selain ramah lingkungan, mudah cara pembuatan dan penggunaan, juga sangat ekonomis. Seiring dengan perkembangan teknologi bioska ini, maka sosialisasi juga dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian di Kota Dumai. Mulai dari pengenalan manfaat biosaka, cara pembuatan, dan cara pengaplikasiannya. Pelatihan dilaksanakan di balai penyuluhan pertanian atau kostratani sebagai sumber informasi dan sebagai tempat pelatihan. Kegiatan yang dilakukan secara paralel ini dilaksanakan mulai dari BPP Dumai Timur/Dumai Kota (Desember, 2022). BPP Sungai Sembilan, BPP Bukit Kapur, dan BPP Medang Kampai, sosialisasi dilaksanakan di Bulan Februari 2023. Antusias para petani dalam mempelajari biosaka sangat baik. Dalam setiap pelatihan petani sangat antusias dalam menyerap informasi tentang biosaka. Demikian juga saat praktik pembuatan biosaka. Dari praktik di salah satu BPP, yaitu BPP Bukit Kapur pada Hari Kamis, 16 Februari 2023 tersebut, hasil biosaka yang dihasilkan oleh petani beragam warna. Analisa sementara, hal ini dipengaruhi oleh jenis rumput yang digunanan. Untuk mengetahui apakah larutan yang dibuat berhasil atau tidak adalah dengan cara mendiamkan selama semalam. Jika dalam semalam larutan tidak berubah warna, tidak terbentuk endapan, dan tidak terbentuk buih, maka biosaka telah jadi. Prinsipnya adalah homogenitas pada larutan. Jika larutan berubah warna dan terbentuk endapan, maka bisa dikatakan biosaka belum terbentuk. Atau jika terbentuk gelembung atau buih yang menandakan proses fermentasi berlangsung, maka biosaka belum terbentuk. Dari hasil sosialisasi dan praktik pembuatan biosaka tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembuatan larutan biosaka ini dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya, 1) Penggunaan jenis rumput harus sehat dan tidak gatal maupun bergetah. 2) Perrbandingan banyaknya rumput yang digunakan jumlah dan jenisnya dengan air. 3) Waktu peremasan rumput kurang lebih 15-20 menit. 4) Selama proses peremasan rumput harus tetap dalam air dan tidak boleh diangkat sebelum proses selesai. 5) Putaran berlawanan arah jarum jam agar larutan homogen. 6) Diawali dengan do`a dan diiringi ketenangan jiwa dalam proses tersebut. Kegiatan sosialisasi ini selain bertujuan meningkatkan pengetahuan petani tentang biosaka, manfaat, dan cara aplikasinya juga untuk meningkatkan keterampilan petani dalam membuat biosaka, serta merubah perilaku dan sikap petani. Petani sebagai ujung tombak dalam pengaplikasian teknologi diharapkan dapat mengadopsi teknologi ini guna meningkatkan produksi dan mengurangi penggunaan pupuk kimia. Penggunaan biosaka ini selaras dengan dicanangkannya genta organik. Gerakan menuju pertanian organik. Pertanian yang ramah lingkungan dan pertanian yang berkelanjutan. Mewujudkan Indosesia Tahun 2045 sebagai lumbung pangan dunia. Menuju pembangunan pertanian yang maju, mandiri, dan modern. (nsh) Dumai, 20 Februari 2023 Ditulis Oleh: Novika Sari Harahap/Penyuluh Pertanian Ahli Madya/Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KOta Dumai Prop. Riau