Kambing Boerka merupakan persilangan Kambing Boer dengan Kambing Kacang. Kehadiran Kambing Boerka Galaksi diharapkan sesuai dengan sesuai permintaan dan preferensi konsumen. Kambing Boerka merupakan jenis kambing potong. Bobot badan ter-nak jantannya mencapai 55 - 85 kg, ternak daranya sekitar 18 - 22 kg, sedangkan untuk bali-bul (bawah 5 bulan) mencapai 16 - 20 kg. Simon juga menyam-paikan bah-wa Kambing Boerka juga memiliki beberapa keunggulan lainnya sep-erti memiliki daya adaptasi tinggi ling-kungan tropis, bobot badan umur 1 tahun mencapai 35 kg, karkas 49-51 %, jumlah anak sekelahiran 1,6-1,7 ekor per induk, bahkan memiliki perlemakannya cukup baik dan dag-ingnya relatif empuk Kambing Boerka diperoleh dengan mengawinkan Kambing Boer jantan dengan Kambing Kacang betina lo-kal. Kambing Boer jantan yang diimpor memiliki bobot badan 60 - 70 kg. Keunggulan : Keunggulan Kambing Boerka adalah memiliki daya adaptasi tinggi pada lingkungan tropis. Pada umur 1 tahun, bobot badannya mencapai 365 kg dengan karkas sebesar 49-51%. Jumlah anak sekelahiran 1,6-1,7 ekor/induk. Faktor yang mempengaruhi dalam beternak kambing Boerka: Faktor lain yang harus diperhatikan adalah kandang dan pakan. Kandang selain untuk tempat ternak beristirahat adalah juga agar ternak lebih nyaman, memudahkan tata laksana pemeliharaan serta lebih efisien dalam pengawasan. Sementara pakan ternak terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan jumlah pemberian 10 – 20 % dari bobot badan untuk hijauan dan 1- 2 % dari bobot badan untuk konsentrat. Manajemen Pemeliharaan Kambing Boerka Untuk menghasilkan ternak kambing sebagai sumber bibit, para peternak harus mengatur perkawinan dan melakukan seleksi bibit. “Sebelum mengatur perkawinan, setiap ternak harus diidentifikasi dengan pemberian eartag, fungsinya untuk memudahkan kita mengingat setiap ekor ternaknya,” imbuhnya. Identifikasi dilakukan dengan pencatatan nomor ternak (induk, pejantan, anak), tanggal (kawin, me-lahirkan, mutasi, pengobatan), serta bobot (lahir, sapih, muda atau 6 - 9 bulan, dewasa atau 12 bulan). Setelah pencatatan dilakukan kemudian dil-akukan perkawinan. Perkawinan tidak boleh dilakukan pada ternak yang memiliki hub-ungan sedarah. Selain itu, perkawinan juga harus terjadwal. Hal ini dilakukan untuk memudahkan para peternak dalam merawat ternaknya agar lebih terfokus, sehingga nantinya akan ada jadwal musim kawin, musim induk bunting, musim partus atau lahirnya ternak dan musim me-nyusui. Jadi peternak akan lebih mudah dalam merawat induk yang sedang bunting, induk yang akan melahirkan, induk yang sedang me-nyusui dan anak-anak yang akan lepas sapih. Selain sistem perkawinan, kandang juga dapat mempengaruhi produktivitas ternak. Kandang yang baik adalah kandang yang nyaman untuk ternak, terdapat sekat untuk membedakan kandang jantan dewasa, jantan muda, induk, lepas sapih, induk menyusui dan beranak. Kemudian kandang yang baik juga kandang yang dapat memudahkan tata laksana pemeliharaan, efisien dalam penanganan penyakit, pemberian pakan dan pembersihan. Harus diperhatikan jarak antar lembaran papan lantai kandang. Jika terlampau lebar, maka anak kambing dapat terjepit kakinya, sedangkan jika terlamapu sem-pit, maka kotorannya tidak jatuh Pakan yang diberikan bisa berupa hi-jauan 10 – 20 % dan konsentrat 1 – 2 % berdasarkan bobot badan. Jumlah pakan yang diberikan harus diperhatikan apakah cukup atau tidak, hal ini dapat dilihat melalui sisa pakan. Penulis: Akhmad Ansyor, SP, M.Sc Sumber Gambar: Koleksi BSIP Lampung Sumber Bacaan: Dirjennak, Pusat Standar Instrumen Peternakan