Upaya peningkatan produksi padi melalui Perluasan Areal Tanam (PAT) yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal adalah lahan rawa. Sampai dengan saat ini, lahan rawa belum menjadi prioritas dalam upaya peningkatan produksi padi, dikarenakan produktivitasnya yang masih rendah; dan Indeks Pertanaman (IP) lahan rawa relatif kecil. Sedangkan potensi luas lahan rawa di Indonesia seluas 10 juta hektar yang dapat ditanam padi. Kondisi ini merupakan konsekuensi dari masih minimnya pengetahuan petani terhadap sistem budidaya di lahan rawa. Tahapan standar budidaya tanaman padi sawah, antara lain : Persiapan Lahan Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan teknologi tanpa olah tanah (TOT) dan traktor. TOT dilakukan dengan cara tebas atau menyemprotkan herbisida. Kemudian rumput dibiarkan membusuk lalu dihamparkan secara merata. Traktor digunakan pada lahan potensial, dimana lapisan pirit dan lapisan racun berada > 50 cm dari permukaan. Persiapan Benih Padi Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi utama dalam peningkatan produktivitas, produksi dan pendapatan usahatani tanaman pangan. Varietas unggul adalah galur hasil pemuliaan yang mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil tinggi, toleran terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, mutu produk, dan atau sifat-sifat lainnya, serta telah dilepas oleh pemerintah. Persemaian dibuat pada lahan seluas 5% dari total lahan yang akan ditanami padi. Benih padi yang dianjurkan untuk lahan padi rawa antara lain Inpara. Benih padi yang diperlukan berkisar 20-25 kg/ha. Persemaian siap ditanam berkisar antara 21-25 hari setelah sebar bibit. Sistem Tanam Padi Sistem tanam pindah disarankan menggunakan sistem jajar legowo. Sistem ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan populasi tanaman dan cukup efektif untuk mengurangi keong mas dan tikus. Jajar legowo adalah pengosongan satu baris tanaman setiap dua baris (legowo 2 : 1) atau empat baris (legowo 4 : 1) dan tanaman dalam barisan dirapatkan. Sistem tanam jajar legowo memiliki keuntungan dimana semua barisan rumpun tanaman berada pada sisi pinggir yang biasanya memberikan hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir), pengendalian hama, penyakit dan gulma menjadi lebih mudah dilakukan, menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong, menekan tingkat keracunan besi dan penggunaan pupuk lebih berdaya guna. Pengelolaan Air Pengelolaan air untuk usahatani di lahan rawa perlu dilalukan agar kebutuhan air pada tanaman dapat terpenuhi secara optimal. Pengelolaan air atau lengas tanah dapat dilakukan melalui (1) pembuatan saluran atau parit dan pengaturan air didalam saluran, (2) pembuatan saluran cacing atau kemalir di petakan lahan, (3) pemberian air kepada tanaman pada musim kemarau, dan pemberian mulsa di petakan lahan. Pemilihan teknologi pengelolaan air di suatu lokasi didasarkan pada jenis tanaman, musim tanam, dan ketersediaan airnya. Pemeliharaan Padi Pupuk SP-36 dan KCl atau Phonska diberikan sebagai pupuk dasar. Sedangkan pupuk Urea (butiran) diberikan dua sampai tiga tahap, masing-masing sepertiga bagian pada saat tanam (pupuk dasar), dan/atau saat anakan maksimum kemudian yang terakhir ketika primordial bunga. Usaha tani Padi Rawa dapat menghemat pupuk Urea 20-25% dan pupuk SP-36 25%. Dengan Padi Rawa, pertumbuhan gulma praktis tertekan karena sawah tergenang air hampir sepanjang musim sehingga mengurangi penyiangan. Panen Padi Pemanenan padi dilakukan setelah gabah masak merata menggunakan sabit bergerigi untuk mengurangi rontoknya bulir padi di sawah. Untuk mempercepat proses perontokkan gabah sebaiknya menggunakan combine harvester. Penyusun : Ely Novrianty, SP.,MP (BPSIP Lampung) Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan