Loading...

Standar Budidaya Tanaman Sorgum Yang Baik

Standar Budidaya Tanaman Sorgum Yang Baik
STANDARD BUDIDAYA SORGUM YANG BAIK Sorgum adalag tanaman serbaguna yang dapat sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industry. Sorgum mempunyai sejumlah keunggulan yaitu: mempunyai daya adaptasi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, penggunaan input lebih sedikit, dapat diratun, serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Sorgum mempunyai kandungan nutrisi yang baik, bahkan kandungan protein dan unsur-unsur nutrisi penting lainnya lebih tinggi daripada beras. Kandungan nutrisi sorgum per 100 gram yakni: kalori : 332 kal, protein 11 gr, lemak 3,3 gr, karbohidrat 73 gr, kalsium 28 m gr, besi 4,4 m gr, dan Fospor 287 mm gr. Teknik Budidaya Sorgum yang baik Waktu Tanam : Sorgum sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Hal dilakukan agar tanaman Sorgum dapat tumbuh optimal dan malainya berisi sempurna. Benih : Benih bersertifikat. Varietas Numbuh dan Kawali (tersedia di UPBS BSIP Tanaman Serealia – Maros), daya tumbuh minimal 90%, bebas dari hama dan penyakit dan mempunyai bentuk serta warna yang seragam. Penyiapan Lahan : Pada tanah berat/liat tanah diolah sedalam 15 – 20 cm, agar tanah gembur, drainase baik, mendorong aktivitas mikroba tanah dan mematikan gulma. Pada tanah ringan/gembur penyaiapan lahan secara TOT (tanpa olah tanah). Penanaman : Benih ditanam 2 biji per lubang dengan cara ditugal sedalam 5 cm dan jarak tanam 75 x 25 cm. Setelah benih ditanam kemudian ditutup dengan abu sekam atau tanah. Pemupukan : Anjuran standar dosis pupuk per hektar adalah Urea 250 kg + ponska 300 kg. Pupuk diaplikasikan dua kali. Pemupukan pertama: ponska 300 kg/ha pada 7 – 10 hari setelah tanam, dan pemupukan kedua Urea 250/ha pada umur 30 s.d 35 hari setelah tanam. Penyiangan : Pembersihan gulma dilakukan sebanyak 2 kali, yakni pada umur 21 hst dan 45 hst, dengan cara dicangkul atau menggunakan alat penyiangan mekanis. Pengairan : Pemberian air/irigasi dilakukan sesuai kondisi hujan. Sorgum terkenal sebagai tanaman yang kekeringan. Permukaan daun Sorgum yang mengandung lapisan lilin membuat tanaman efisien dalam pemanfaatan air. Pemberian air dilakukan apabila tidak ada hujan, dengan membuat alur di setia 2 baris tanaman. Pemberian air setiap 2-3 minggu. Pada umur tanaman 45 – 55 st, kondisi tanah harus cukup lembab karena proses pengisian biji terjadi pada fase tersebut. Kebutuhan air tanaman sorgum per musim tanam sebanyak 250 – 300 mm. Pengendalian Hama Penyakit: Hama utama tanaman sorgum adalah ulat tanah, Aphids, Lalat bibit, Karat dan bercak daun. Ulat tanah dan lalat bibit dikendalikan dengan Furadan 3G 20 kg/ha pada umur 21 hst. Penyakit bercak daun dikendalikan dengan memangkas daun yang terinfeksi atau dengan rotasi tanaman, atau dengan fungisida Dithane M45. Pemanenan : Sorgum siap dipanen apabila 80% dari biji sudah mengeras dan malai sudah menguning. Umur panen bervariasi, antara 100 – 105 hari. Pemanenan dilakukan dengan cara memangkas tangkai di bawah malai dengan menggunakan sabit, kemudian malai dikeringkan dan dirontok dengan alat perontok sorgum. Penyosohan : Selanjutnya biji sorgum disosoh untuk menghilangkan kandungan tanin. Sdebelum disosoh , biji dikeringkan sampai dengan kadar air 10 – 11%. Penyosohan dilakukan secara manual atau mesin penyosoh sorgum. Setelah disosoh biji sorgum dapat diolah menjadi nasi sorgum, cake atau cookies. Penyuluh Pertanian, Dr.Ir. M.Saleh Mokhtar, M.P BSIP NTB Sumber : Balai Penelitian Tanaman Serealalia