Loading...

STEVIA, SI MANIS PENGGANTI TEBU

STEVIA, SI MANIS PENGGANTI TEBU
Tanaman stevia (Stevia rebaudiana) adalah tanaman semak yang berasal dari famili Asteraceae (Compositae) yang berasal dari Paraguay. Stevia telah digunakan sebagai pemanis minuman teh lokal dan obat-obatan oleh penduduk asli Paraguay suku Guarani sejak ratusan tahun yang lalu. Daun stevia mengandung steviosida dengan tingkat kemanisan 200-300 kali lebih tinggi dari gula tebu (sukrosa). Minat terhadap gula stevia meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya populasi penyandang obesitas (kegemukan) dan diabetes. Gula stevia merupakan glikosida yang tidak mengandung kalori sehingga sesuai untuk seseorang yang sedang melakukan diet guna mengurangi berat badan. Stevia dapat tumbuh optimum pada daerah dengan ketinggian tempat 800-2000 m dpl, dengan suhu optimum berkisar 20-300C dengan curah hujan antara 1500 sampai 2300 mm per tahun dengan maksimal 3 bulan kering (curah hujan < 100 mm). Tanaman stevia cocok ditanam pada tanah dengan pH 5-7, kapasitas menahan air baik, drainase baik, dan mengandung bahan organik yang cukup. Stevia termasuk tanaman hari pendek (short-day plant) yang akan berbunga apabila panjang penyinaran lebih pendek daripada periode kritis (dalam hal ini periode gelapnya), untuk stevia adalah 13 jam. Tanaman stevia dapat dikatakan menyukai sinar matahari sehingga sebaiknya ditanam di lahan terbuka. Di Indonesia yang mempunyai panjang penyinaran yang relatif sama sepanjang tahun akan mengakibatkan tanaman dapat dipanen 6-7 kali per tahun selama satu siklus hidup 2-4 tahun. Stevia dapat diperbanyak dengan biji maupun stek. Perbanyakan dengan biji jarang dilakukan karena biji sangat kecil dengan daya kecambah rendah dengan masa kecambah 4 – 6 hari dan bibit yang dihasilkan beragam. Biji yang mempunyai daya kecambah tinggi adalah biji yang berwarna hitam yang dihasilkan dari penyerbukan buatan dan disimpan pada suhu 250C dengan masa simpan tidak lebih dari 6 bulan. Perbanyakan dengan stek dapat digunakan stek batang pucuk dan stek batang tunas samping. Perbanyakan dengan stek akan menghasilkan bibit yang seragam dibanding dengan biji. Hasil terbaik diperoleh dengan menggunakan stek pucuk yang memiliki 3-4 ruas dengan panjang 7-10 cm. Sebelum dilakukan penanaman perlu dilakukan pengolahan lahan sehingga tanah menjadi gembur. Di Indonesia, stevia pada umumnya ditanam di dataran tinggi dan seringkali berupa perbukitan sehingga perlu dibuat terasering terlebih dahulu. Selain itu untuk tempat tanam dapat dibuat bedengan dengan ketinggian sekitar 15-20 cm, lebar 100-150 cm, dan panjang 10 m atau disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak antar-bedengan 50 cm agar memungkinkan pekerja untuk beraktivitas secara leluasa. Bedengan dapat ditutup dengan mulsa plastik ) untuk menekan pertumbuhan gulma dan serangan penyakit, mengurangi kotoran tanah pada daun stevia akibat percikan hujan, menjaga kelembaban tanah, serta mengurangi tercampurnya daun stevia dengan daun gulma saat panen. Pada saat pembuatan bedengan dapat dilakukan pemberian pupuk kandang atau kompos sebanyak 10-20 ton/ha dan pupuk dasar SP-36 100 kg/ha. Jika memungkinkan pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran ayam petelur (kandang battery) karena kandungan haranya lebih tinggi dan kandungan biji gulma lebih sedikit dibandingkan dengan jenis pupuk kandang lainnya. Lubang tanam dibuat sedalam 25 cm dengan jarak tanam 20 x 25 cm, 20 x 30 cm, 25 x 30 cm dan 30 x 30 cm akan tetapi yang umum dilakukan 25 cm x 25 cm. Jarak tanam ini perlu diperhatikan karena meskipun semakin rapat tanaman akan memperoleh produksi total biomassa daun semakin tinggi tetapi kelembaban udara juga semakin tinggi yang akan meningkatkan serangan penyakit. Pemeliharaan tanaman stevia di lapang terdiri pemangkasan tanaman, pengairan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit dan pemupukan. Pemangkasan tanaman pertama kali dilakukan 3-4 minggu setelah tanam untuk membentuk kerangka (frame) tanaman stevia yang seimbang dan kokoh. Tinggi pangkasan awal sekitar 10-15 cm dari permukaan tanah. Setelah dipangkas, dari batang tersisa akan muncul banyak tunas baru. Tunas-tunas baru tersebut dibiarkan 4-6 tunas dengan arah pertumbuhan yang menyebar rata. Pemangkasan berikutnya dilakukan setelah tunas baru mencapai tinggi 20-25 cm pada ketinggian pangkas sekitar 20 cm dari permukaan tanah. Pemangkasan berikutnya adalah pemanenan yang dilakukan secara rutin setiap 1,5-2 bulan. Pengairan dilakukan rutin setiap hari kecuali ada hujan, terutama pada tahap awal tanam saat tanaman masih peka terhadap kekeringan. Kebutuhan air tanaman stevia sekitar 2,3 mm/ tanaman/hari. Stevia dikenal sangat lemah dalam bersaing dengan gulma terutama pada awal pertumbuhan untuk itu perlu dilakukan penyiangan gulma untuk mengurangi persaingan. Penyiangan gulma dapat dilakukan secara rutin dengan rotasi setiap bulan. Pengendalian hama dan penyakit seyogianya dilakukan apabila tingkat serangannya telah melampaui ambang ekonomi. Karena daun stevia yang dipanen, maka penyemprotan pestisida harus dihentikan paling singkat 3 minggu sebelum panen untuk menghindari adanya residu pestisida di dalam daun. Pemupukan pertama dilakukan satu bulan setelah tanam dengan pemberian Urea dan KCl masing-masing sebanyak 2 g per tanaman. Untuk menghemat biaya, pupuk dapat diaplikasikan pada satu lubang untuk empat tanaman sekaligus. Pemupukan lewat daun (foliar fertilization) menggunakan pupuk cair juga dapat dilakukan, dengan konsentrasi 2-3 g/L. Apabila mengusahakan stevia organik, pupuk kimia tersebut dapat diganti dengan pupuk hayati berbasis mikroba dan atau pupuk organik dari bahan-bahan alami. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Sumaryono & Masna Maya Sinta, 2016. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Stevia. Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Bogor.