Loading...

Stevia Sebagai Pemanis Rendah Kalori Rekomendasi Pengganti Pemanis Tebu

Stevia Sebagai Pemanis Rendah Kalori Rekomendasi Pengganti Pemanis Tebu
Stevia diekstraksi dari daun tanaman yang masuk ke dalam famili Ateraceae, sering dikaitkan dengan tumbuhan daisy atau ragweed. Di Paraguay dan Brasil, sudah ratusan tahun, orang-orang menggunakan daun dari tanaman Stevia rebaudiana (Bertoni) untuk memaniskan makanan. Bahkan stevia digunakan untuk pengobatan tradisional untuk mengobati masalah perut, luka bakar, dan terkadang dipakai sebagai kontrasepsi di negara tersebut. Jika di wilayah subtropis stevia dapat tumbuh di dataran rendah (di bawah 200 m dpl) , maka di wilayah tropis tanaman ini bisa tumbuh di ketinggian 250 m dpl (seperti di daerah Bogor). Namun jika ingin optimal pertumbuhannya, stevia baiknya ditanam di ketinggian 800 – 2000 m dpl (seperti di kawasan Puncak Bogor dan Ciwidey Bandung) dan dengan suhu berkisar 20 – 30 derajat C. Di Indonesia, pertumbuhan tanaman stevia tidak bergantung pada musim. Karena itulah daun stevia bisa dipanen 6 – 10 kali setiap tahun selama satu siklus hidupnya yang sekitar 2 – 4 tahun. Pemanenan daun stevia yang terbaik dilakukan menjelang tanaman berbunga. Stevia mengandung 8 jenis glikosida. Mereka adalah konstituen-konstituen manis yang diambil dan dimurnikan dari daun stevia. Kedelapan glikosida tersebut yaitu: stevioside, rebaudioside A, rebaudioside C, rebaudioside D, rebaudioside E, rebaudioside F, steviolbioside, dan dulcoside A. Konstituen yang paling banyak terkandung di daun stevia adalah stevioside dan rebaudioside A (reb A). Steviosida dan reb A diperkirakan memiliki tingkat kemanisan 150 – 400 kali lebih tinggi daripada gula tebu (sukrosa). Namun untuk mendapatkan produk gula siap konsumsi dari daun stevia, dibutuhkan proses yang cukup panjang. Penggunaan gula dari stevia diperkirakan akan melonjak tinggi di masa depan seiring dengan semakin bertambahnya pengidap diabetes, obesitas, dan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk alami. Stevia alami tentu aman dikonsumsi. Namun kembali lagi, tergantung jenis stevia yang Anda pilih. Berbagai penelitian yang mempelajari keamanan senyawa stevioside dan rebaudioside pada stevia menunjukkan tidak adanya efek negatif dari konsumsi kedua senyawa tersebut. Manfaat Stevia Lembaga regulasi pangan dunia JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additive) pun menyatakan bahwa konsumsi senyawa stevioside aman, dengan batas konsumsi harian yang ditetapkan adalah hingga 5 miligram per kilogram berat badan. Bahkan, terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi senyawa stevioside hingga 1500 miligram per hari ternyata aman dan tidak menyebabkan efek samping. Berikut beberapa kemungkinan manfaat stevia yang bisa kita ambil: Baik untuk diabetes Selain tidak mengandung karbohidrat dan kalori, stevia ternyata juga dapat meningkatkan memperbaiki kinerja tubuh dalam mengolah glukosa (gula darah) dengan cara meningkatkan produksi insulin. Penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah setelah makan pada penderita diabetes pun dilaporkan berkurang ketika mengonsumsi stevia. Beberapa studi lain menyatakan bahwa kemungkinan mengganti gula biasa dengan stevia dapat mengurangi risiko terkena diabetes. Membantu mengurangi berat badan Karena stevia tidak mengandung kalori, total asupan kalori harian akan berkurang jika mengganti asupan gula dengan stevia. Cara ini bisa membantu Anda menjaga atau mengurangi berat badan, asalkan Anda tidak makan secara berlebihan. Menurunkan tekanan darah Zat dalam ekstrak stevia mampu menurunkan tekanan darah, jika dikonsumsi secara rutin. Akan tetapi, penelitian untuk membuktikan manfaat ini belum menunjukkan hasil yang konsisten. Mencegah risiko terkena penyakit ginjal Kebiasaan mengonsumsi makanan yang terlalu manis bisa memperbesar risiko terkena diabetes dan tekanan darah tinggi. Kedua penyakit ini dapat berujung pada terjadinya penyakit ginjal. Berdasarkan suatu penelitian, stevia diduga efektif dalam mengurangi risiko terjadinya penyakit ginjal karena dapat membantu mencegah penyakit diabetes dan darah tinggi. Penelitian inipun menyatakan bahwa stevia merupakan alternatif pemanis yang lebih baik untuk penderita gagal ginjal. (Penulis :Asri Mahmud S.ST, PPL Desa Tabbinjai Kecamatan, Tombolopao, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan)