Pemupukan pada tanaman Bawang Merah Pupuk susulan diberikan pada umur (10-15) hari setelah tanam dan pada umur satu bulan (30 hari), dengan dosis pempukan I dan II, masing-masing campuran Urea (100-150 kg/ha)+ ZA (200-350 kg/ha) + KCI (150-200 kg/ha). Untuk meningkatkan kondisi pertumbuhan tanaman diberikan tambahan pupuk majemuk NPK Mutiara atau hidrokompleks pada umur tanaman 3 minggu dengan dosis 25-50 kg/hektar. Pemberian pupuk susulan perlu diiukuti dengan penyiraman apabila diperkirakan tidak terjadi hujan. Di samping itu dapat pula diberikan pupuk hayati efektif sesuai anjuran apabila tersedia dan mampu mengurangi pemakaian pupuk kimia. Persaingan gulma dengan tanaman terjadi sejak tanam sampai 1/3 atau 1/4 dari daur hidup tanaman. Untuk itu perlu dilakukan penyiangan gulma 2 – 3 kali seminggu jika bedengan tanpa mulsa. Pengendalian OPT Hama utama yang biasa menyerang bawang merah adalah Ulat Grayak (Spodoptera sp), Thrips, Orongorong (Gryllotalpa sp.) dan Penggorok Daun (Liriomyza sp). Sedangkan penyakit utama yang biasa menyerang bawang merah adalah Bercak ungu (Altenaria porri), Embun tepung (Peronospora destructor Berk), Fusarium (Fusarium oxysporum) dan Antraknosa. Upaya pengendalian OPT ramah lingkungan dilakukan dengan metode antara lain : Aplikasi pathogen serangga Beauveria bassiana Sanitasi, monitoring, pembuangan umbi terinfeksi secara mekanik Penggunaan feromon Exi sebanyak 20 buah per Ha untuk ulat grayak / ulat bawang Penggunaan perangkap lampu sebanyak 30 buah per Ha. Penggunaan perangkap likat kuning untuk lalat Liriomyza (pengorok daun), trips, ngengat ulat bawang sebanyak 40 buah per Ha Penggunaan pestisida kimia secara selektif dan tepat dosis Pengendalian dengan menggunakan Teknologi Pengendalian HamaTerpadu (PHT),yaitu: Pengendalian secara kultur teknis,antara lain pemupukan berimbang, penggunaan varietas tahan OPT, dan penggunaan musuh alami (parasitoid,predator dan patogen serangga). Pengendalian secara mekanik,yaitu dengan pembutitan atau pemotongan daun yang sakit atau terdapat kelompok telur Spodopteraexigua,dan penggunaan jaring kelambu,penggunaan berbagai jenis perangkap (feromon seks, perangkap kuning,perangkap lampu dll). Penggunaanbio–pestisida. Penggunaan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi,interval maupun waktu aplikasinya. Penulis Yuliana, BPP Kecamatan Muara, Dinas Pertanian Tapanuli Utara Sumber: http://pertanian.magelangkota.go.id/ https://hortikultura.pertanian.go.id/ https://ppid.pertanian.go.id/