Ketahanan pangan telah menjadi isu sentral dalam kerangka pembangunan pertanian dan pembangunan nasional, ditunjukkan antara lain dengan dijadikannya isu ketahanan pangan sebagai salah satu fokus kebijaksanaan operasional pembangunan pertanian. Dibentuknya lembaga khusus yang menangani masalah ketahanan pangan menunjukkan pentingnya penanganan masalah ketahanan pangan. Peningkatan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam pembangunan karena pangan merupakan kebutuhan yang paling dasar bagi manusia sehingga pangan sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Ketahanan pangan diartikan sebagai tersedianya pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dan aman dikonsumsi bagi setiap warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu (Rachman dan Ariani, 2002). Konsep ketahanan pangan pada dasarnya mengandung tiga dimensi yaitu ketersediaan (availability), akses (access), dan pemanfaatan (utilization). Perubahan iklim memiliki konsekunsi negatif pada ketahanan pangan. Kelebihan atau kekurangan curah hujan akan menghambat produksi pertanian dan ketahanan pangan terganggu, sehingga adaptasi menjadi penting dilakukan. Masalah perubahan iklim yang ekstim, khususnya El Nino yang diprediksi puncaknya pada bulan Jui - Agustus dapat mengancam ketahanan pangan sehingga diperlukan strategi dalam antisipasi penanganannya. Tanaman pangan paling sensitif dalam menghadapi iklim ekstrim. Kejadian kekeringan yang seringkali mengikuti fenomena iklim ini mempengaruhi produktivitas, luas tanam dan luas panen tanaman pangan. Hal ini merupakan salah satu tantangan dalam pencapaian ketahanan dan kemandirian pangan. Kedua iklim ektrim di Indonesia yaitu El Nino dan La Nina sangat erat kaitannya dengan fenomena ENSO (El Nino Southern Oscilation) yang sering kali terjadi dengan intensitas lemah sampai sedang. Tanaman pangan merupakan jenis tanaman yang rentan terhadap iklim ektrim tersebut. Langkah yang dapat dilakukan adalah melalui pengelolaan tanah dan tanaman melalui pertanian cerdas (smart farmyng), termasuk didalamnya penerapan teknologi cerdas iklim (climate smart). Berdasarkan hasil monitoring dan prediksi iklim oleh BMKG dan beberapa Pusat Prediksi Iklim Dunia, menyatakan bahwa mulai pertengahan tahun 2023 periode Juni-Juli-Agustus 2023 diprediksi berpotensi terjadi El Nino dengan peluang 70-90%. Di sisi lain fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral dan diprediksi IOD akan menuju fase postif. Kombinasi dari dua fenomena tersebut berpotensi berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama untuk wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian Tengah dan Selatan, dan Kalimantan bagian Tengah dan Selatan. Menyikapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian meminta kepada seluruh jajarannya untuk segera melakukan langkah strategis dan antisipasi dengan melakukan kolaborasi dengan berbagai stake holder dalam menghadapi El Nino 2023, dan mendorong para petani Indonesia sebagai negara yang kuat dalam menghadapi ancaman El Nino maupun krisis global dunia. Kemampuan mencapai dan mempertahankan ketahanan pangan merupakan suatu keharusan bagi Indonesia. Ketergantungan terhadap pangan impor akan menelan biaya dan resiko sangat besar, baik secara ekonomi, sosial maupun politik dan keamanan, bahkan kedaulatan bangsa. Berbagai kejadian iklim ekstrem, baik secara global maupun nasional telah memberikan berbagai pengalaman dan pembelajaran berkaitan dengan resiko dan dampak yang ditimbulkan, serta pembelajaran dalam antisipasi menghadapi dan menanggulagi iklim ekstrim tersebut. Pengalaman dan pembelajaran tersebut dapat dijadikan sebagai referensi dalam menyiapkan strategi dan pendekatan dalam memantapkan ketahanan pangan nasional menjelang Indonesia menjadi Lumbnag Pangan Dunia pada tahun 2045. Sikap petani selama ini dalam menghadapi iklim ektrim lebih banyak dilakukan dengan menyesuaikan kondisi yang dihadapi dibandingkan dengan mengintervensi atau mengintroduksi teknologi yang lebih maju, yang dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan dan teknologi yang dimiliki petani, keterbatasan modal usahatani, dan sosial budaya yang masih kental. Keadaan ini akan mengakibatkan pada kondisi kekeringan (El Nino) akan mengubah mekanisme pertumbuhan tanaman melalui gangguan pada akar dan bagian atas tanaman akibat dehidrasi. Kondisi lanjut akibat cekaman kekeringan adalah tekanan turgor menurun dan menyebabkan stomata tertutup, CO2 dan fotosintetsis terhambat, dan pembentukan karbohidrat menurun sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman akan menurun. Sensitivitas dan tingkat kerentanaman tanaman dan pertanaman dalam menghadapi iklim ekstrim dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (Sulaiman et al., 2018) : (1) genetik tanaman, termasuk varietas, (2) system usahatani dan pola tanam, (3) kemampuan adaptasi petani, kondisi lingkungan dan ekosistem, dan (4) kondisi sosial ekonomi petani. Menyikapi Iklim Ekstrim Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang cukup rentan terhadap perubahan iklim karena berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, produksi, dan kualitas hasil. Dampak perubahan iklim paling nyata pada sektor pertanian adalah kerusakan (degradasi) dan penurunan kualitas sumberdaya lahan, air, infrastruktur pertanian, penurunan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Kondisi tersebut menyebabkan ancaman kerentanan dan kerawanan terhadap ketahanan pangan dan kemiskinan (Harini et al.,2022). Dampak perubahan iklim khususnya di sektor pertanian memerlukan penanganan yang komprehensif, integratif, dan holistik. Salah satu konsep yang diperkenalkan untuk menghadapi dampak perubahan iklim adalah adaptasi. Banyak opsi adaptasi potensial yang telah disarankan untuk negara-negara berkembang, mengingat masalah serius yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Sejumlah besar literatur telah mengakui adaptasi sebagai salah satu opsi kebijakan dalam menanggapi dampak perubahan iklim untuk mengurangi dampak akhir dari perubahan iklim terhadap pertanian sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan. Kearifan lokal (local wisdom) merupakan gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernlai baik yang tenteram dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan local umumnya muncul dan berkembang melalui pengalaman dan pembelajaran berulang yang disikapi secara bijak dan arif, dan selanjutnya secara evolusi berubah bahkan Sebagian diantaranya menjadi dogma (aturan). Berbagai kearifan local petani tradisional dalam menyikapi perubahan iklim. Seoarang petani memahami perubahan iklim dalam kaitannya dengan siklus kegiatan pertanian dalam bentuk kalender pertanian. Petani secara turun temurun memiliki cara atau kearifan local dalam menyiasati perubahan iklim, dengan melihat tanda-tanda alam sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pertanian. Beberapa kalender pertanian tradisional yang merupakan kearifan local daerah dalam perencanaan budidaya tanaman yang diwariskan secara turun temurun, seperti yang disebutkan Daldjoeni dalam Sulaiman et al. (2018), diantaranya adalah Pramatamangsa (Jawa), Kertamasa (Bali), Palota (Sulawesi Selatan), Waringa (Aceh), Bulan Berladang (Dayak), Sasi (Maluku), dan Nyale (Nusa , Tenggara). Namun seiring dengan perkembangan teknologi, terutama dengan berkembangnya jaringan irigasi, teknologi Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (SI Katam Terpadu), sebagian petani telah mengabaikan kalender pertanian tradisional. Kenyataan lain menunjukkan bahwa adanya perubahan iklim global, regional dan local juga telah mempengaruhi aktivitas pertanian. Hal ini membuat petani mengalami ketidakpastian dalam menentukan musim tanam. Berbagai pengalaman, baik dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa aksi konkrit dalam menghadapi iklim ekstrim antara lain adalah perbaikan jaringan irigasi, penyebaran benih dan sarana produksi sesuai dengan kondisi iklim ekstrim, dan konservasi tanah dan air dalam memperkuat ketahanan sistem pertanian terhadap iklim ekstrim melalui gerakan massal dengan memperhitungkan keterkaitan antara hulu dan hilir. Pengaturan tata kelola air merupakan salah satu intervensi terpenting yang perlu ditetapkan karena fenomena yang dihadapi terkait langsung dengan kekurangan dan kelebihan air. Penerapan teknik irigasi bergilir (rotation irrigation) dapat menghemat air irigasi sekitar 30% dibandingkan dengan irigasi terus menerus (continuous flow irrigation). Demikian juga teknik panen air (water harvest) dan konservasi air merupakan intervensi penting dengan biaya yang relatif murah. Aspek kelembagaan dan kebijakan serta regulasi juga merupakan aspek penting lainnya yang tidak terpisahkan dalam meningkatkan daya adaptasi sitem pertanian terhadap keadaan iklim ekstrim. Petani yang rentan dengan iklim ekstrim pada umumnya tidak mempunyai sumberdaya untuk meningkatkan daya adaptasinya, sehingga peningkatan kapasitas petani dalam arti peningkatan pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup, tetapi perlu dilengkapi dengan subsidi lainnya atau kemudahan dalam mengakses permodalan. Tantangan lain yang dihadapi ke depan adalah (1) Bagaimana meningkatkan produksi dan kebutuhan pangan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, (2) Bagaimana mengatasi peningkatan serangan OPT akibat perubahan iklim ekstrim, (3) Bagaimana mengatasi penurunan hasil tanaman akibat perubahan iklim ekstrim, terutama pada malam hari, dan (4) Bagaimana mengatasi kompetisi penggunaan lahan dan konversi lahan pertanian. Penanganan yang hanya mengandalkan pada aksi adaptasi dengan mengelola sumberdaya air dan menggabungkan dengan aspek intensifikasi tidak mampu mengatatasi tantangan untuk menjaga kesinambungan swasembada, terutama dalam kaitannya dengan visi Indonesia untuk menjadi Lumbung Pangan Dunia (Feed the Word) pada tahun 2045. Kunci suksesnya kemandirian pangan adalah adanya kesadaran dan aksi dari berbagai sektor terkait dalam mempertahankan lahan pertanian, terutama lahan pertanian prima. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam penanganan iklim ekstrim adalah aspek sosial ekonomi yang menyangkut tingkat keuntungan sehingga ada minat petani untuk menanam suatu komoditas secara sukarela yang berkaitan dengan keberlanjutan. Pemilihan suatu komoditas menjadi pertimbangan yang memberikan prospek keuntungan yang lebih tinggi. Strategi Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Ekstrim Startegi untuk menghadapi iklim ekstrim dari aspek teknis dapat dilakukan melalui salah satu atau gabungan dari beberapa komponen teknologi dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu, perlu memilih teknologi yang sederhana yang mudah diterapkan dan memerlukan biaya murah. Strategi tersebut adalah penggunaan varietas unggul baru yang tahap terhadap cekaman perubahan iklim, pemanfaatan kalender tanam terpadu, konservasi tanah dan air, pengembangan bangunan permanen air, pengaturan pola tanam, pemupukan, pemeliharaan tanaman, dan pengelolaan organisme pengganggu tanaman. Menurut Badan Dunia Pertanian/FAO, jika sistem pertanian gagal menerapkan langkah-langkah adaptasi, dampak perubahan iklim diperkirakan mulai menyebar secara global pada tahun 2030 dan pada tahun 2080 hasil pertanian akan menurun sebesar 20% di negara berkembang (FAO, 2016). Berdasarkan kondisi tersebut, maka petani perlu melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim. Strategi adaptasi yang dapat dilakukan meliputi strategi adaptasi fisik, adaptasi sosial ekonomi, dan adaptasi sumber daya manusia melalui pendekatan proaktif dan reaktif. Menyikapi peluang El Nino pertengahan tahun 2023, tim BMKG memberikan masukan beberapa langkah aksi dan antisipsi dini yang perlu dilakukan antara lain : (1) Perlu Antisipasi Dini menghadapi Musim Kemarau 2023, terutama pada wilayah yang diprediksi akan kering bahkan lebih kering, dan (2) Membangun sistem peringatan dini dengan memetakan wilayah kering/basah, potensi serangan OPT, rekomendasi/aksi antipasi, jadwal tanam dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional, seperti EWS SIPANTARA bisa dijadikan salah satu contoh collaborative dan inisiatif program Global “ Early Warning for All”. Pakar pengembang software dan dosen Teknik Informatika, Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret, Dharmawan menyatakan, sistem EWS SIPANTARA yang merupakan kolaborasi dengan stakeholder terkait adalah riset and development yang menggunakan beberapa algoritma AI untuk memberikan rekomendasi jadwal tanam optimal berdasarkan iklim dan peringatan dini akibat anomali iklim serta rekomendasi mitigasi resikonya. Menurut Badan Informasi Geospasial, sistem informasi berbasis peringatan dini dampak perubahan iklim (EWS SIPANTARA) yang saat ini dikembangkan oleh Kementerian Pertanian menjadi sangat penting bagi penguatan ketahanan pangan, di mana sistem ini dapat memberikan masukan bagi kebijakan dalam mengantisipasi dan menyiapkan langkah strategis agar produksi pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan. Selain itu hasil model berbasis science dengan dukungan data yang berkualitas (kerangka kebijakan satu data dan satu peta) yang terintegrasi dalam sistem ini akan semakin menguatkan dukungan bagi kebijakan sektor pertanian. Strategi yang perlu disikapi dalam antisipasi iklim ekstrim untuk pemantapan ketahanan pangan antara lain adalah : (a) Penguatan pembangunan infrastruktur air secara massal, (b) Penguatan implementasi teknologi konservasi tanah dan air, teknologi sistem usahatani, dan pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap berbagai iklim ekstrim (varietas yang baik merupakan varietas dengan kemampuan bertahan terhadap lebih dari satu ancaman), (c) Penguatan regulasi pengelolaan infra struktur air serta pengeloaan tanah dan tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim, (d) Penguatan kebijakan dalam implementasi gerakan nasional panen dan hemat air, (e) Penguatan koordinasi dan sinergi lintas kementerian dan Lembaga, dan (f) Penyiapan dan pengembangan inovasi dan teknologi adaptif. Ketersediaan air bagi tanaman menjadi tantangan yang perlu dihadapi dalam pengelolaan yang adaptif. Beberapa langkah antisipatif dampak negatif penurunan curah hujan di lahan pertanian : (1) tetap melakukan pemantauan dan mengakses informasi perkembangan prediksi iklim dari pihak berwenang, (2) melakukan langkah antisipasi dampak kekeringan dan pengendalian OPT dengan menyiapkan sistem peringatan dini kekeringan dan informasi jadwal tanam adaptif, (3) menyiapkan sumber air alternatif yang tersedia disekitar pertanaman, (4) penyiapan dan penggunaan varietas tahan kering, berumur genjah dan hemat air, dan (5) komunikasi dan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait. Penulis : Marthen P. Sirappa (Penyuluh Pertanian BSIP Sulawesi Barat) Referensi (Disadur dari beberapa sumber Pustaka) : FAO. 2016. The State of Food and Agriculture, Climate Change, Agriculture and Food Security. Rome. Sulaiman, A.A., F. Agus, Muh. Noor, Ai Dariah, B. rawan dan E. Surmaini. 2018. Jurus Jitu Menyikapi Iklim Ekstrem El Nino dan La Nina untuk Pemantapan Ketahanan Pangan. IAARD Press.