Loading...

Strategi dan Pengendalian Hama Tikus pada Padi Sawah

Strategi dan Pengendalian Hama Tikus pada Padi Sawah
STRATEGI DAN CARA PENGENDALIAN HAMA TIKUS PADA TANAMAN PADI SAWAH Disusun oleh : ACHDIAH TRIANA AMBARWATI, SP Tikus sawah (Rattus argentiventer) termasuk hama utama pada tanaman padi. Kerusakan tanaman dan kehilangan hasil produksi akibat serangan hama ini sangat merugikan bahkan bisa sampai mengakibatkan gagal panen/ puso. Seringkali petani menjadi geram dan resah tidak berdaya akibat serangan binatang pengerat ini pada areal pertanaman padi mereka. Kasus kerusakan tanaman padi yang disebabkan oleh serangan hama tikus selalu menjadi permasalahan tersendiri yang dihadapi petani. Seringkali petani padi dibuat tak berdaya oleh binatang pengerat ini karena pengendalian hama tikus lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan pengendalian hama padi lainnya. Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah jenis hama pengganggu pertanian utama dan sulit dikendalikan karena tikus itu mampu ”belajar” dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Tikus memiliki indera penciuman yang berkembang dengan baik. Dengan kemampuan ini tikus dapat menandai wilayah pergerakan tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kelompoknya, mendeteksi tikus betina yang sedang estrus (berahi) dan mendeteksi anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan air seni yang dikeluarkan oleh anaknya. Potensi kerusakan tanaman padi oleh hama tikus di Indonesia cukup besar, yakni mencapai 20% per tahun. Serangan hama tikus bisa terjadi pada semua fase, mulai dari persemaian hingga panen. Sebelum melangkah pada usaha pengendalian tikus sawah, perlu diketahui terlebih dahulu biologis dan ekologi tikus, sehingga petani akan lebih mudah mengidentifikasi untuk selanjutnya melakukan pengendalian. Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, jalan kereta apai dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera sebagian tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali ke sawah setelah pertanaman padi menjelang fase generatif. Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Biasanya hama tikus ini akan menyerang bagian akar dan batang yang akan menggerokoti bagian tersebut hingga habis dan lama-kelaman akan mengakibatkan tanaman mati. Sebagai binatang pengerat, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tikus akan mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1, yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk mengasah giginya supaya tidak tambah panjang dan 1 batang padi di makan untuk kebutuhan hidupnya. Jika sudah mengetahui biologi dan ekologi tikus, diharapkan petani dapat mengendalikan tikus dengan tepat dan efektif dengan melihat kondisi lingkungan di lapangan. Pengendalian tikus sawah harus dimulai secara diri, yakni dimulai pada saat sawah bera (setelah panen), pada masa vegetatif dan masa generatif. Fenomena kerusakan tanaman padi oleh serangan tikus selalu menjadi masalah bagi petani. Resiko kerugian bahkan gagal panen akibat serangan hama tikus adalah momok yang menakutkan. Mengapa hama tikus selalu menjadi masalah? Mengapa hama tikus sangat sulit dikendalikan? Beberapa alasan berikut ini adalah penyebab sulitnya melakukan pengendalian terhadap hama tikus: Hama tikus sawah relatif sulit dikendalikan karena memiliki sifat biologi dan ekologi yang berbeda dibanding hama padi lainnya. Monitoring yang lemah mengakibatkan terjadinya ledakan populasi hama tikus sehingga menimbulkan kerusakan parah. Tidak dilakukan antisipasi yang serius sehingga pengendalian lebih sulit dilakukan. Pengendalian hama tikus pada umumnya dilakukan setelah terjadi serangan. Tidak dilakukan pengendalian secara intensif. Peralatan dan sarana pengendalian hama tikus yang terbatas. Tidak ada kekompakan antara petani dalam mengendalikan hama tikus. Tidak dilakukan pengendalian berkelanjutan sehingga populasi hama tikus terus meningkat. Penanaman serta Panen Serempak Penanaman hendaknya dilakukan secara serempak dalam satu hamparan, selisih waktu tanam dan panen hendaknya tidak lebih dari 2 minggu. Hal ini dimaksudkan untuk membatasi tersedianya pakan padi generatif sehingga tidak terjadi perkembangbiakan hama tikus secara terus menerus. Sanitasi Habitat Tikus Sanitasi adalah kegiatan membersihkan semak-semak yang tumbuh pada habitat mutlak tikus, yaitu area tanggul, pengairan, jalan sawah, batas perkampungan, pematang sawah, parit, saluran pengairan. Meminimalisasi Ukuran Pematang Pematang sawah hendaknya dibangun rendah serta lebar tidak lebih dari 30 cm agar tidak menjadi sarang tikus Gropyokan Gropyokan bisa dilakukan dengan melibatkan seluruh petani yang ada dengan cara penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing dsb. Fumigasi/Pengemposan Fumigasi adalah pengendalian hama tikus dengan pengasapan celah/sarang tikus. Setelah dilakukan fumigasi lubang/sarang tikus ditutup rapat supaya tikus mati. Fumigasi dilakukan pada semua lubang/sarang hama tikus yang ada terutama pada stadium generatif padi. Trap Barrier System (TBS) Yaitu metode pengendalian hama dengan tanaman perangkap diterapkan terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS berukuran 20 x 20 m dapat mengamankan tanaman padi seluas 15 hektar. TBS terdiri atas: Tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus, yaitu petak padi seluas 20x20m yang ditanam 3 minggu lebih awal. Pagar plastik untuk mengarahkan hama tikus agar masuk perangkap, berupa plastik/terpal setinggi 70-80cm, ditegakkan ajir bambu setiap 1m dan ujung bawahnya terendam air. Bubu perangkap untuk menangkap hama tikus yang dipasang pada setiap sisi TBS. Bubu perangkap terbuat dari ram kawat berukuran 20 x 20 x 40 cm. Linear Trap Barrier System (LTBS) LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60-70 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus berselang-seling arah. LTBS dipasang di daerah perbatasan habitat tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan dipindahkan setelah tidak ada lagi tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya di pasang selama 3 malam. Menggunakan Musuh Alami Musuh alami hama tikus antara lain binatang pemangsa seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular dan lainnya. Binatang-binatang pemangsa tikus tersebut hendaknya tidak diganggu atau sebaiknya dilestarikan. Dengan demikian secara alami populasi hama tikus dapat berkurang. Pengendalian Hama Tikus Secara Kimiawi Pengendalian hama tikus secara kimiawi yaitu pengendalian menggunakan pestisida kimia khusus untuk tikus, yaitu rodentisida. Rodentisida diberikan melalui makanan atau umpan untuk membunuh hama tikus. Cara ini bisa dilakukan jika populasi tikus sangat tinggi dan tidak memungkinkan dikendalikan dengan cara lainnya. Umpan diletakkan di habitat utama tikus, gunakan rodentisida sesuai dengan dosis yang dianjurkan.